Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
kedatangan pengasuh


__ADS_3

aku kembali dari toilet, ku lihat asyila dan Maryam sudah tidak ada di kursi tunggu. mungkin mereka keluar atau ke kantin rumah sakit. karna selama dari tadi siang aku belum bisa memperhatikan mereka apakah sudah makan atau belum.


pikiran ini masih kalut sehingga hanya fokus kepada ibu.


aku ingin masuk ke dalam kamar ibu, tapi ternyata ku lihat di dalam ada Gus hafidz yang sedang duduk di samping ibu.


entah apa yang sedang di lakukan oleh nya, namun ku lihat kepalanya mengangguk-angguk seolah sedang berbicara dengan ibu.


'ibu pengasuh sama Ning Farah kemana, ko hanya ada Gus hafidz dan ibu?' batin ku.


sebenarnya aku penasaran apa yang dibicarakan oleh ibu sama Gus hafidz, karna setahu ku ini kali pertama ibu dan Gus hafidz bertemu secara langsung.


maka ku urungkan langkah ku untuk masuk ke dalam dan kembali menutup pintu kamar ibu.


"ukhti nur,,," panggilan Gus hafidz menghentikan langkahku yang hendak berbalik meninggalkan ruangan


"iya Gus,," aku pun berbalik menghadapnya


"anti mau kemana? sebaik nya anti di dalam, ana mau ke musholla dulu. dan kalau bisa tolong bacakan surat ar-rahman pada telinga beliau untuk mengiringi tidur beliau agar tenang"


aku mengerutkan kening ku karna merasa aneh dengan permintaan Gus hafidz.


tapi apa yang dikatakannya memang benar, sebalik nya mau membaca Al-Qur'an di samping ibu dari pada hanya menangisi keadaan beliau. semoga dengan begitu kesehatan ibu bisa lebih membaik, amin.


"iya Gus insyaallah"


"kalau begitu ana permisi, assalamualaikum"


"waalaikumsalam wr wb"


sekilas ku lihat langkah nya yang mulai menghilang di balik dinding.


kemudian aku pun masuk ke dalam kamar ibu. ku lihat mata ibu tertutup namun bibir nya masih terlihat sedang membaca dzikir walau pun pelan dan sudah terdengar tidak jelas.


"nur,,," Maryam dan asyila datang saat aku hendak masuk ke ruangan


"assalamualaikum bu,," aku duduk di samping ibu sambil membelai kepala ibu. begitu pun asyila dan Maryam berdiri di sebelah kiri ibu.

__ADS_1


ibu membuka mata nya dengan senyum yang mengembang di wajah nya. terlihat begitu pucat dan lemahnya ibu ku. namun menurutku wajah ibu malah semakin terlihat cantik dari biasanya.


"ibu tidur aja kalau ngantuk, biar Ade bacain murotal buat ibu"


lagi, ibu hanya mengangguk lemah dan kemudian menutup mata nya dengan pelan.


namun perlahan beliau kembali membuka mata nya, aku masih mempertahankan ibu. tapi ada yang aneh dari tatapan beliau. ibu menatap ku begitu dalam, tak ada kata hanya tatapan yang penuh kasih di arahkan nya kepada ku.


"ibu ada yang sakit?" tanya ku dengan mencoba menahan rasa sesak di dadaku karna menahan air mata yang hampir tumpah dari mata ku.


lagi-lagi beliau hanya menggeleng dan tersenyum pada ku.


"ibu tidur ya, istirahat biar cepet sembuh. Ade di sini jagain ibu, di samping ibu"


kali ini aku tidak bisa menahan air mata ku di depan ibu. hati ini masih lemah tak kala melihat bagaimana keadaan ibu sekarang.


asyila mendekatiku, lalu mengelus punggung ku mencoba membuat ku agar lebih tegar. maka ku usap air mata ku dan mencoba menguatkan hati ini.


aku dan Maryam mulai membaca surat ar-rahman, sedangkan asyila duduk sambil mendengarkan kami mengaji karna kebetulan dia sedang halangan.


selama membaca Al-Qur'an mata ini tak henti-hentinya mengalirkan air mata, sambil sesekali melihat ke arah ibu yang sepertinya mulai tertidur.


Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.


hingga sampai di akhir ayat, aku menutup bacaan Al-Qur'an dengan memuji nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.


"seperti nya ibu udah tertidur pulas nur"


"iya Iam, kaya nya tenang banget tidur nya"


aku pun membetulkan selimut pada tubuh ibu. namun saat tangan ku tak sengaja menyentuh kaki ibu, 'kenapa dingin sekali' batinku.


"kenapa nur?" asyila mendekati ku yang sedang meraba-raba tubuh ibu yang terasa dingin.


"enggak syil, tubuh ibu ko berasa dingin ya? terus oksigen ibu juga kaya nya abis atau gimana ya?" aku menunjuk oksigen yang di pakai ibu.


"bentar ana panggil perawat aja ya" Maryam berdiri lalu berlalu keluar ruangan.

__ADS_1


perasaan ku mulai tak tenang saat aku mencoba membangunkan ibu tapi tak ada respon.


'habunallah wani'mal wakil ni'mal Maulana wani'man Nashir'


'yaa Allah yang maha pelindung lagi maha penolong. jika boleh hamba meminta, hamba mohon sehatkan lah kembali ibu ku. jangan kau ambil dulu ibu dari sisi ku. kau sebaik-baiknya pemegang takdir, hidup dan mati nya manusia ada pada kehendak mu. maka aku mohon berikan ibu umur yang panjang, ijinkan aku untuk bisa berbakti pada ibu sebelum kau panggil ia untuk kembali ke sisi mu,amin'


batin ini tak henti-hentinya mengucap dzikir dan doa untuk kesehatan ibu. namun hati ini semakin gelisah karna ibu masih belum membuka matanya.


Maryam masuk dengan seorang dokter dan perawat. mereka mulai memeriksa keadaan ibu. aku, asyila dan Maryam hanya melihat sembari berpegangan tangan.


"insyaallah ibu gak papa nur, anti tenang ya" bisik Maryam mencoba menenangkan hati ku


"de,,, ayah nya mana?" setelah selesai memeriksa dokter menghampiri ku sambil menanyakan keberadaan ayah


"ayah saya, lagi keluar dok. kenapa gitu?" aku bertanya dengan hati yang semakin tidak tenang


"begini,,, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. tapi tentunya Ade juga tahu hidup mati seseorang sudah ada yang mengatur___"


aku melihat ke arah perawat yang hendak melepas semua peralatan medis yang menempel di tubuh ibu, dengan tanpa mendengarkan perkataan dokter yang belum selesai aku berjalan mendekati ranjang ibu dengan tubuh yang gemetar.


"ibu__ ibu hanya tidur kan? ade tahu ibu gak bakalan ninggalin Ade sendiri___ bu__ibu__ hiks" aku memeluk tubuh ibu yang sudah terasa dingin


"ibu__ Ade mohon ibu bangun__hiks" tangis ku semakin pecah tak bisa ku kendalikan


~


Lima hari sudah setelah kepergian ibu, di rumah masih di penuhi oleh sanak saudara baik dari ayah ataupun dari ibu. begitu pun para tetangga juga masih berdatangan untuk memberikan do'a pada ibu maupun keluarga yang ditinggal kan.


"assalamualaikum,,,"


"waalaikumsalam wr wb"


ayah bangkit dari duduk nya saat kami sedang berkumpul setelah melaksanakan tahlil untuk almarhumah ibu.


"masyaallah,, silahkan masuk pa kiai, Bu nyai"


aku yang sedang duduk termenung bersama asyila dan Maryam, langsung berdiri ketika mendengar ayah menyebut nama pak kiai dan ibu pengasuh.

__ADS_1


ternyata ayah, ibu pengasuh, dan Gus hafidz yang datang. tapi kira-kira ada apa ya? apa mau melayat dan mendoakan almarhumah? tapi kan bukannya udah pas hari pertama ibu meninggal?. aku bertanya-tanya mengenai kedatangan para pengasuh ke rumahku.


__ADS_2