Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Aisyah


__ADS_3

POV Aisyah


Aisyah almaira Yusuf itulah namaku. aku dilahirkan dari keluarga yang berada, sejak kecil ayah dan ibu ku selalu memanjakan ku dengan mengabulkan apapun yang aku mau. namun itu tidak berarti membuatku tumbuh menjadi anak yang manja yang keinginannya selalu dituruti tanpa kecuali, karna disetiap perlakuan kedua orangtuaku dalam memanjakan ku, selalu disertai dengan nasehat dan didikan bagaimana aku menjadi anak yang selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan kepadaku.


sejak kecil, ayah selalu membawa ku ke pondok pesantren yang pesantren itu adalah milik ayah nya hafidz. kata ayah, selain untuk berkunjung juga bisa sekalian ikut belajar mengaji dipondok itu. awalnya aku tidak mau karna malu dengan banyak nya para santri yang lalu lalang disana, tapi setelah melihat bagaimana pintar nya seorang hafidz tentang ilmu agama membuat ku iri dan juga ingin belajar lebih dalam tentang agama, karna selama ini aku hanya belajar ilmu agama melalui les privat dirumah ku.


seiring berjalan nya waktu aku dan hafidz tumbuh bersama. kami selalu bertukar pendapat dalam setiap masalah, dalam setiap keadaan. menginjak sekolah Tsanawiyah, aku harus pindah ke Surabaya sementara karna ayah harus mengurus salah satu can


bang perusahaan nya yang sedang bermasalah. dengan perasaan sedih aku pun ikut kedua orangtuaku disana, karna jujur aku lebih betah tinggal di Bandung. tadi nya aku ingin mondok di tempat hafidz tapi ayah dan ibuku bilang kalo mereka tidak bisa jauh dari ku karna aku putri semata wayang mereka. selama di Surabaya tidak sehari pun aku melewatkan untuk menghubungi hafidz, karna selalu ada hal-hal yang kami ceritakan atau bahas saat itu, dan itu membuat persahabatan kami semakin dekat walaupun dengan jarak yang terpisah.


menginjak sekolah menengah atas, aku kembali ke Bandung karna urusan ayah di Surabaya sudah selesai. tadi nya ayah dan ibu ingin terus tinggal di Surabaya, namun aku tidak mau, dan akhirnya mereka pun menuruti keinginanku untuk kembali tinggal di kota Bandung. senang rasa nya kembali ke kota asal ku, apalagi aku akan kembali melihat seseorang yang sudah lama ingin aku temui.


siapa lagi kalo bukan 'hafidz'? yah,, dia lah yang selalu mengisi hari-hari ku dengan suara nya, dengan canda nya dan dengan ilmu agama nya yang dalam yang selalu membuatku terpesona dan kagum terhadap nya, bahkan sampai saat ini perasaan itu tak pernah berubah.


"fidz boleh ana tanya sesuatu?" tanyaku di suatu hari saat kami sedang berada di halaman rumah ku, karna kebetulan hafidz sedang ke rumahku untuk mengantarkan kitab dari abah nya untuk ayah ku.


"boleh, soal apa?" kata nya sambil memandang lurus ke depan.


"kira-kira,,, wanita seperti apa yang anta suka atau yang ingin anta jadikan pasangan hidup suatu hari nanti?" dengan malu aku beranikan diri menanyakan hal itu, karna jujur aku sangat penasaran tentang hal itu. hafidz menatap ku sekilas, kemudian kembali menatap lurus ke depan.


yah,,, walau pun kami berteman sudah cukup lama, tapi hafidz selalu menjaga pandangan nya dan selalu menjaga jarak denganku. seperti saat ini, meski kami sedang asik mengobrol tapi jarak duduk kami selalu berjauhan. aku tidak tersinggung, karna justru itu lah yang membuat nya selalu sempurna di mataku. tak sedikit laki-laki yang mencoba mendekati ku saat disekolah maupun diluar sana, mereka selalu mencari cara agar bisa lebih dekat denganku, tapi tidak dengan hafidz. dia selalu menjaga jarak walau kami sedang berdekatan, dia selalu menjaga pandangan walau kami sedang berhadapan, dan itu yang selalu membuat ku terpikat.


"seperti apa ya? yang jelas dia menutup aurat nya dengan sempurna, cantik hati nya, sederhana dan apa ada nya. mungkin perempuan seperti itu yang ana suka" jawab nya dengan santai


"ko mungkin?" tanya ku lagi, karna dari jawaban nya seolah dia tidak yakin dengan apa yang dia katakan.

__ADS_1


"hahaha,," hafidz hanya tertawa mendengar pertanyaan ku. yah,, aku tahu dia sedang mempermainkan ku, dia tidak menganggap serius pertanyaan ku.


"dasar anta yah, nyebelin" aku Aisyah, melemparkan bantal kursi yang ada disebelah ku kepada hafidz.


"lagian, gak biasa nya anti nanya hal-hal yang berbau asmara"


"ya kan,, boleh lah ana tahu tentang itu. lagian kan sekarang kita udah sama-sama beranjak dewasa, gak salah dong ana bahas tentang itu. udah lah fidz,, buruan jawab apa susah nya sih" tanya ku dengan wajah cemberut


"yah susah lah, pertanyaan itu tuh sulit dijawab. karna ana sendiri juga gak tahu apa jawaban nya"


"ko gak tahu? setiap orang mempunyai kriteria pasangan nya dimasa depan termasuk anta pasti nya"


"kalo gitu,,, kenapa gak anti aja dulu yang jawab pertanyaan anti"


"aduh marah kaya nya tuan rumah,,,hehe iya deh iya Afwan ana salah" dia hafidz menangkupkan kedua tangannya didepan dada nya.


"ya udah buruan jawab tapi serius ya jawab nya"


"iya deh,,, serius nih. eumm,, bentar ana searching dulu di google"


"hafiiidzzzz..." aku, Aisyah melemparkan bantal tepat diwajah nya, dan dengan cepat berdiri lalu meninggalkan hafidz ke dalam rumah.


"Aisyah,,, aish,,, marah nih cerita nya" kata nya saat aku mulai melangkah menjauh dari nya


"iya deh Sekarang beneran serius jawab nya,, jangan marah dong,,, aisssshhh,," aku terus melangkah tanpa menghiraukan panggilan nya. biarin aja, biar dia merasa bersalah hihi.

__ADS_1


yah,, itu adalah salah satu kenangan ku saat bersama nya. kini dia berada jauh dari pandangan ku. tapi hati ini tak pernah berubah untuk nya.


"aish,, sayang kita makan malam dulu yuk" suara ibu memanggil ku, saat aku sedang asik memikirkan hafidz.


"iya Bu, aish turun sebentar lagi" jawab ku sembari bangkit dari tempat tidur.


"lho, ko ayah mana Bu. bukannya tadi udah pulang dari kantor?" tanya ku saat sudah duduk di atas kursi meja makan


"tadi emang udah pulang, tapi langsung pergi lagi ke pesantren nya hafidz kata nya ada yang mau di bicarakan sama kiyai" jawab ibu yang juga sudah duduk di kursi meja makan


"ko gak ajak aish?"


"emang nya Aish mau ngapain lagi, kan tadi abis dari sana?"


"ya gak ngapa-ngapain sih mau ikut aja hee"


"kenapa? kangen sama hafidz? kan orangnya juga gak ada"


uhukk,,, uhukkk,,


aku langsung tersendat mendengar perkataan ibu. rasa nya malu aja, mendengar ibu mengatakan itu. walau pun sebenarnya perasaan itu memang benar ada nya, tapi ibu pasti tahu tentang itu tanpa aku mengatakan langsung kepada nya.


"udah kamu gak usah malu gitu sama ibu, karna ibu juga pernah seusia mu nak jadi ibu tahu apa yang dirasakan aish saat ini" kata ibu sambil memberikan ku segelas air. tak ada jawaban dari ku atas perkataan ibu barusan. aku lebih memilih melanjutkan makan dari pada harus membahas tentang itu dengan ibu. karna walaupun beliau adalah ibu ku tetap perasaan malu itu masih ada jika membahas tentang bab asmara. dan ku rasa, aku belum siap terbuka tentang perasaanku pada siapapun, kecuali diary ku yang selalu menjadi tempat ku menuliskan segala perasaanku. maaf ya Bu, n


bukan aish tidak mau cerita hanya saja untuk saat ini, aish masih malu mengakui perasaan aish tentang hafidz kepada ibu.

__ADS_1


__ADS_2