
"lama banget nur ke toilet nya, aku udah hampir mau pingsan nahan laper nih" Kania memasang wajah cemberut saat aku baru kembali setelah lumayan lama ijin untuk pergi ke toilet
"iya maaf, tadi,,,"
"udah gak usah di jelasin keburu pingsan beneran aku. yuk makan" Kania langsung melahap makanan yang mungkin sudah terhidang dari tadi. aku jadi ngerasa bersalah karna sudah membuat Kania menunggu.
"eh,,, nur tadi ana bagus sama Agam lho di sana" kata Kania sambil terus menyuapkan nasi ke mulut nya
"coba aja kita udah lulus, pasti tadi udah ana ajak gabung bareng kita. sayang kita masih terikat sama peraturan pondok jadi cuma bisa say hai dari jauh aja deh"
"udah abisin dulu makan nya jangan sambil ngomong nanti ke sendak" aku mencoba mengingatkan Kania agar dia tidak bicara terus sebelum menyelesaikan makan nya.
ngomong-ngomong soal Agam, dia gimana sekarang yah? apa sikap ku tadi tidak kelewatan meninggalkan nya tanpa kata? bukan apa-apa aku hanya malu saja tadi sama sikap nya di depan umum, sampai-sampai bukannya mau menjawab aku lebih memilih meninggalkan nya. mudah-mudahan dia ngerti sama sikap ku tadi.
~
"duh,,, gimana ini hujan nya gede banget can" kata ku saat selesai menonton bioskop dan melihat ke arah luar ternyata hujan besar
"iya nur, kita gimana pulang nya,, malah udah sore lagi"
"ya udah kita nunggu di dalam aja sampe hujan nya reda. mudah-mudahan gak lama" kami pun kembali masuk ke dalam gedung, sambil menunggu hujan aku dan Kania memutuskan untuk membeli cemilan dan minuman hangat.
dua jam berlalu, ternyata hujan malah semakin lebat. setelah adzan magrib kami memutuskan untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu, setelah itu kami pun pergi untuk membeli payung di salah satu toko yang ada di dalam gedung.
"kita pulang sekarang aja yuk, kalo di nanti-nanti takut nya hujan nya gak berhenti malah kemalaman nanti kita pulang nya" aku mengajak Kania setelah kita mendapatkan payung yang kita cari, Kania mengangguk dan kemudian menarik tangan ku.
"masyaallah nur, hujan nya gede banget, angin nya juga. ngeri jadi nya ana"
"kita berdo'a aja sama pemilik hujan dan angin nya, insyaallah kita dilindungi"
__ADS_1
aku dan Kania masih berdiri di depan gedung dengan terus memegangi payung. namun angin yang semakin kencang membuat payung yang ada di tangan ku lepas. payung itu terbang hingga ke tengah jalan, tanpa pikir panjang aku pun mengejar payung itu.
"nur,,,, hati-hati" ku dengar suara Kania di tengah derasnya guyuran hujan. aku hanya mengangguk dan terus berlari kecil mencoba mengambil payung yang masih terbawa angin.
"nur,,,, awas mobil" sayup-sayup ku dengar suara Kania yang berteriak memanggil nama ku. saat aku berhasil mendapat kan payung itu, tiba-tiba,,,,
Aaaaaaaaaaaa
aku menutup kedua mata dan telingaku dengan kedua tanganku, saat ku lihat ada sebuah mobil yang melaju tepat di depan ku seolah hendak menabrak ku.
"nur,,, anti gak papa kan?" Kania menghampiri dan memelukku, aku masih diam mencoba mengatur rasa kaget dan syok karna kejadian barusan.
"astaghfirullah,,, maaf saya tidak lihat ada orang sedang menyebrang karna deras nya hujan menghalangi kaca mobil saya" seseorang turun dari mobil yang barusan hampir menabrak ku
"nur,,, anti gak papa kan?" Kania kembali memanggil ku dengan mengguncangkan pundak ku. aku melihat ke arah Kania sambil menggelengkan kepalaku
"nurain?" seseorang memanggil nama ku di balik seorang lelaki yang barusan meminta maaf kepada ku. aku melihat ke arah nya.
"kenal,,, mereka santri yang mondok di pesantren Babah" kata Gus hafidz sambil terus melihat ke arah ku
"anti gak papa kan?" Gus hafidz menatap ku dengan tatapan yang seolah sangat hawatir, atau mungkin itu hanya perasaanku.
"enggak,, ana gak papa. hanya kaget saja Gus"
"yakin gak ada yang luka? atau mau ke rumah sakit saja buat memastikan kalau anti benar-benar baik-baik aja" kata nya dengan nada yang terdengar hawatir
"enggak, ana gak papa. ana baik-baik aja" aku berdiri dari posisi ku yang terduduk dengan sedikit lemas
"sini biar ana bantu" Kania membantu ku untuk berdiri
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau anti memang baik-baik aja. kalian habis dari mana?"
"kita habis ijin keluar buat beli keperluan Gus. dan sekarang kebetulan mau pulang ke pondok" kini Kania yang menjawab pertanyaan Gus hafidz
"kalau begitu bareng aja pulang nya" Gus hafidz menawarkan tumpangan kepada kami
"enggak usah Gus, kita bisa pulang naik angkot ko" aku mencoba menolak nya dengan halus
"angkot? jam segini? kalau menurut ana kalian ikut kita aja. apa lagi anti basah kuyup begitu kalau kelamaan diluar nanti bisa sakit" kata seorang laki-laki di sebelah Gus hafidz
"bener gak papa Gus, kita pulang naik angkot aja" aku kembali menolak nya dengan halus
"tapi nur,, bener juga mana ada angkot jam segini. ditambah anti basah kuyup nanti sakit. mending kita ikut pulang bareng Gus hafidz aja ya" kata Kania setengah berbisik, aku hanya menyikut lengan nya agar dia juga sama menolak untuk ikut.
"insyaallah gak akan jadi fitnah. nanti biar ana yang jelasin sama ustadzah qismu amni kenapa kalian bisa pulang bareng sama kita. lagian gak baik buat akhwat jam segini masih diluar" kata Gus hafidz dengan bijak dan tatapan nya sungguh tenang
"jadi gimana nur, mau yah ikut bareng pulang sama Gus hafidz?" Kania kembali bertanya kepada ku. akhirnya aku pun menyetujui permintaan Gus hafidz.
di dalam mobil, aku dan Kania hanya diam tanpa kata. tak ada obrolan yang keluar di antara kami berempat baik itu Gus hafidz, Kania, aku ataupun laki-laki yang duduk di sebelah kursi Gus hafidz yang nama nya tidak ku ketahui karna ini pertama kali nya aku dan kania melihatnya.
"ko diam-diaman gini ya? jadi canggung gimana gitu,,, fidz ente ngomong dong, kasian mereka pada malu deh kaya nya naik mobil Gus nya" kata laki-laki itu seperti mencoba untuk membuat suasana di dalam mobil agar tidak tegang, Gus hafidz tidak menjawab dia hanya fokus melihat ke arah depan karna memang sedang menyetir.
"yah,, kacang. ya udah lah kalau gak ada yang mau bersuara biar ana,,,"
"kalau boleh tahu antum siapa nya Gus hafidz?" tiba-tiba Kania bertanya sebelum laki-laki itu meneruskan perkataannya.
"nah gitu dong, jangan malu-malu biar gak canggung suasana nya. perkenalkeun nama saya teh Muhammad Alif al_manshur. saya adalah anak dari Kiai haji Muhammad Manshur yang mana beliau adalah Kakak dari Babah nya Gus hafidz. kalian bisa memanggil saya dengan sebutan bang Alif atau Gus Alif atau ka Alif itu terserah kalian aja gimana nyamannya asal jangan manggil mang Alif karna saya bukan tukang es, atau pun tukang baso hehe" kata nya dengan nada Sunda yang khas disertai dengan senyuman yang ramah.
aku dan Kania pun juga tersenyum setelah mendengar perkenalan nya yang cukup panjang, dan itu berhasil mencairkan suasana yang canggung diantara kami selama di dalam mobil.
__ADS_1
sekilas aku melihat ke arah Gus hafidz yang fokus menyetir. tatapan yang hangat dan wajah yang tenang itu yang kulihat sekarang. tidak seperti dulu yang selalu dingin dan acuh jika bertemu. hmmm,,, aku jadi tersenyum sendiri.
gak nyangka hari ini aku mengalami dua kejadian yang cukup mengejutkan. pertama pernyataan cinta dari Agam, dan kedua aku hampir tertabrak oleh mobil yang di kendarai oleh Gus hafidz bahkan aku juga ikut pulang bersama nya. akan ada peristiwa dan cerita apalagi setelah ini ya Rabb?