Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
salam kenal, Ahmad Zaidan Syukrillah


__ADS_3

POV Maryam


hari ini aku berniat pulang dengan nurain. kita berencana mampir dulu ke rumah asyila, setelah itu kita juga berencana untuk main-main dulu sebelum kembali ke rumah masing-masing.


satu sisi aku bahagia karna sudah menyelesaikan masa-masa sekolah menengah ku. tapi di sisi lain aku juga bersedih karna tidak akan merasakan kebersamaan lagi bareng sahabat ku.


akan sulit bagi kami untuk saling bertemu kembali. asyila di Bandung, aku di Purwakarta, dan nurain tinggal di Garut. apalagi kami juga akan memiliki kesibukan masing-masing pastinya.


qodarullah tiada yang tahu akan seperti apa. terkadang yang kita anggap baik justru sebaliknya. atau yang kita anggap buruk pun ternyata berakhir dengan baik.


saat melewati depan rumah ibu pengasuh aku melihat gus hafidz yang berlari dengan menggunakan pakaian olah raga, lucu lihat nya karna beda banget penampilannya dari biasa nya.


benar dugaan ku Gus hafidz mau bicara sama nurain. aku memilih untuk menjauh dari mereka. sambil menunggu, ku buka tas ku, ku lihat kembali kertas yang sama ketika aku mendapatkan surat-surat dari seseorang yang sampai saat ini belum aku ketahui siapa pengirimnya.


beberapa menit kemudian nurain kembali menghampiri ku, begitu pun Gus hafidz ku lihat sudah berjalan menjauh. tadinya aku mau yang buka surat itu adalah nurain, dan biar nurain aja yang bacakan karna entah kenapa hati ini belum siap untuk membaca sendiri isi dari surat itu. tapi ternyata aku harus mendengarkan cerita tentang nurain terlebih dahulu.


'nanti aja lah, pas makan bareng baru aku kasih tahu nur soal surat ini' batinku.


rencana awal yang ingin menghabiskan waktu bareng-bareng sebelum kembali ke rumah masing-masing ternyata harus ditunda. karna entah kenapa tiba-tiba nurain seperti merasa gelisah dan meminta untuk langsung pulang ke rumah nya.


tadi nya aku ingin menemani, tapi nurain menolak dengan alasan takut merepotkan aku. padahal kita sahabatan sudah lama dan tidak pernah ada kata saling merepotkan. tapi apa boleh buat akhirnya aku pun pulang ke Purwakarta.


"nak, makan dulu umi udah siapin makan. kita makan bareng yuk" kata umi mengetuk pintu kamar ku


"iya umi, Iam ke situ" aku pun bangkit dari tempat tidur ku dan meletakan kertas merah jambu ke dalam laci yang belum aku buka sama sekali.


'nanti aja lah baca nya' batin ku


"iam, besok jadi mau daftar ke UIN?" tanya teh Fatimah saat aku dan keluargaku sedang makan bersama


"insyaallah teh jadi"


"ke UIN mana ini teh Bandung apa Jakarta?"


"hmmm,, masih bingung sebenarnya"


"terus besok jadinya mau visit ke UIN mana dulu?"


"hush,,, lagi makam jangan sambil ngobrol nanti keselek" kata umi yang menghentikan obrolanku dan kakak ku


~


di teras atas rumah ku, aku diam memandangi kertas berwarna merah jambu yang masih belum aku buka juga.


ko kayak nya deg-degan gitu, padahal aku belum tahu isi surat nya apa. setelah di bulak balik itu kertas yang entah apa faedah nya. akhirnya aku beranikan diri untuk membaca isi nya. bismillah,,,


Bismillahirrahmanirrahim,,

__ADS_1


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


salam silaturahmi untuk mu bidadari surga,,,


entah apa yang harus aku tuangkan dalam secarik kertas ini


karna tangan ini begitu gemetar saat tinta hitam mulai ku gores kan


kemarin aku selalu menanti hari ini tiba


hari dimana engkau tersenyum menyambut kelulusan mu


selamat,,,


atas kesungguhan mu dalam mencari ilmu selama tiga tahun ini


aku tahu kamu wanita yang cerdas


setiap tahun selalu menjadi juara


tapi kemarin dengan senyum dan tepuk tangan yang begitu tulus saat temanmu mengganti posisimu


aku menjadi tahu bahwa anti adalah sebaik-baik wanita, insyaallah


Maryam az_zulfa


dengan mengucap bismillah


meminta mu untuk menjadi halal bagi ku


insyaallah dalam waktu dua Minggu


aku akan silaturahmi ke rumah orang tua mu


dan kalau boleh aku meminta,


sampai waktu itu tiba


istikharah lah, agar hati mu mantap menerima dan memilih ku sebagai imam dunia akhirat mu, insyaallah


maaf jika selama ini,


goresan pena ku mengganggu konsentrasi mu


dan mengganggu waktu mu


salam kenal dari ku,

__ADS_1


Ahmad Zaidan Syukrillah


ustadz Ahmad? jadi selama ini beliau yang telah menulis surat-surat ini? masyaallah aku tak pernah menyangka, beliau yang Allah pilihkan untuk menjadi calon imam ku.


dulu saat aku pertama masuk ke pondok dan beliau mengajar kitab alat, sungguh aku terpesona karna kecerdasannya namun tetap tawadhu. beliau yang begitu menjaga pandangan dari setiap yang begitu haram bagi pandangan nya.


yah,, aku tahu itu. karna setiap mengajar pun tak sekali pun beliau memandang ke arah kami kaum hawa, bukan tidak Sudi untuk melihat namun karna begitu memuliakan seorang perempuan itu yang aku tangkap dari sikap nya.


"iam lagi apa?" tiba-tiba kedatangan kakak ku menyadarkan lamunan ku


"enggak ka, enggak lagi ngapa-ngapain" jawab ku sedikit gugup


"masa? ko kaya nya lagi bengong gitu"


"bengong apa? orang lagi ngerasain sejuknya udara sore ko"


"tapi,,, itu apa di balik tangan nya?"


teh Fatimah mengalihkan pandangannya ke arah tangan ku yang sedang menggenggam kertas merah jambu tadi


"bukan__bukan apa-apa ko teh, cuma kertas" jawab ku terbata


"kalo cuman kertas ko gugup gitu?"


aku diam sejenak, kemudian memberikan kertas itu pada kakak ku. tanpa menunggu lama, kakak ku membuka kertas itu dan membaca nya dengan seksama.


"masyaallah Iam, anti mau di hitbah?" kata teh Fatimah dengan girang


"umi sama Abi udah tahu belum?" tanya teh Fatimah lagi, aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban


"teteh kasih tahu ya sama mereka!"


"jangan dulu teh, Iam belum siap buat bilang nya"


"kenapa?"


"iam bingung teh, masa baru lulus udah hitbah-an. iam kan mau kuliah dulu kaya teteh"


"masyaallah de, emang nya ada larangan gitu jangan di hitbah sebelum kuliah? lagian kalau di hitbah emang gak boleh kuliah? yang udah nikah aja banyak yang sambil kuliah ko. asal ada ijin suami, dan teteh yakin calon iam pasti ngizinin" teh Fatimah mencoba memberi pengertian pada ku


"ko teteh seyakin itu? emang nya teteh tahu siapa yang mau hitbah Iam?"


"teteh gak tahu banyak sih, cuma kalau teteh perhatikan kayak nya ustadz Ahmad orang yang mendukung sama pendidikan. apalagi beliau seorang guru"


"amin, insyaallah teh. tapi teteh jangan bilang dulu sama umi Abi yah. iam mau istikharah dulu buat meyakinkan hati Iam" pinta ku dengan lembut agar teh Fatimah jangan bilang dulu sama orangtua kita


"iya, teteh gak akan bilang dulu"

__ADS_1


"makasih yah teh"


teh Fatimah hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian memeluk ku dengan penuh kasih sayang. begitulah kakak ku, selalu menjadi tempat curhat ku dan selalu ada untuk ku, dalam setiap situasi apapun.


__ADS_2