Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Waktu Berdua


__ADS_3

POV hafidz


"jadi kapan kalian ke Bandung?"


tanya umma di sebrang sana saat kami sedang video call via WA


"insyaallah secepatnya nya umma"


jawab saya sambil memeluk nurain yang duduk di atas kursi


"ya secepatnya itu kapan fidz? umma sudah kangen banget sama kalian khususnya putri umma"


nurain hanya tersenyum mendengar ucapan umma sambil melihat ke layar handphone yang di pegang nya.


"setelah nurain benar-benar bisa berjalan baru kita ke Bandung"


"semoga putri umma segera pulih seutuhnya, umma sudah sangat rindu pada mu nak"


"amin yaa Allah amin"


jawab saya dan nurain


"oh iya umma kira-kira Babah sampai kapan di Maroko?"


"kata nya semingguan lagi baru pulang fidz. umma juga kalau Babah sudah pulang mau nya nyusul kalian, tapi kepulangan babah malah di undur. ya sudah kalian baik-baik yah di sana, umma mau ngajar dulu, sekarang jadwal pengajian kitab umma para santri udah pada nunggu"


"iya umma, umma juga sehat-sehat yah di sana"


"iya sayang insyaallah, assalamualaikum"


"waalaikumsalam wr wb"


percakapan kami dan umma pun berakhir.


"Abang, kenapa kita gak ke Bandung aja? nur udah sehat ko udah kuat"


"nanti setelah otot-otot di tubuh kamu benar-benar pulih sayang, Abang gak mau kalau sampai kamu kenapa-napa lagi"


"insyaallah enggak bang"


nurain masih kekeuh ingin cepet-cepet pulang ke Bandung


"kamu nurut yah sama Abang, ini demi kebaikan kamu sayang"


saya mencoba memberikan pengertian pada nurain agar mau bersabar untuk beberapa waktu lagi


"bukan nya hari ini kalian mau terapi? kenapa masih belum berangkat?"


ayah datang sambil menggendong Naura yang Tampa sudah terlelap dalam pangkuannya


"iya yah, tapi,,,"


nurain menunjuk putri kami yang digendong ayah

__ADS_1


"hari ini kalian pergi berdua saja, biar Naura ayah yang jaga. lagian kasian dia sudah terlelap setelah main sama ayah"


"tapi apa ayah hari ini gak ada urusan diluar?"


tanya saya memastikan agar ayah tidak terganggu


"tidak ada nak, hari ini ayah benar-benar libur dan mungkin seminggu ke depan adalah tugas terakhir ayah di sini"


"maksudnya apa yah?"


tanya Nurain seperti mulai hawatir, begitu pun saya.


"nanti ayah jelaskan setelah semua nya pasti. sekarang kalian berangkat dulu nanti keburu sore"


"tapi yah"


"udah jangan tapi-tapi an, cepet kalian berangkat"


"kalau begitu hafidz antar nurain terapi dulu ya yah, nanti setelah selesai kami langsung pulang"


"iya kalian pergi saja, jangan hawatir soal Naura yah. oh iya kalau bisa ajak nurain jalan-jalan fidz, kasia dia sudah terlalu lama terkurung di dalam rumah"


"dengan senang hati yah. kalau begitu kami pamit"


"nur titip Naura ya yah"


ayah hanya mengangguk sambil tersenyum dan kami pun pergi setelah mencium putri kami yang terlelap tidur.


~


air mata ini kembali terjatuh saat mengatakan semua isi hati pada seseorang yang senyum nya telah kembali setelah beberapa tahun hilang.


"tapi Abang benar-benar tidak memiliki rasa pada dokter Aisyah kan?"


nurain bertanya dengan sorot mata penuh harap, dan itu mampu membuat saya kembali merasa bersalah atas kejadian yang menimpa diri nya


"demi dzat yang menggenggam hati ini, demi dzat yang membolak baik kan hati ini, perasaan Abang hanya buat kamu syafina Shidqia nurain bukan Aisyah atau siapa pun, insyaallah hanya kamu yang akan menemani Abang di dunia dan akhirat nanti"


dengan penuh keyakinan saya mengatakan apa yang ada di dalam hati dan pikiran saya.


"kemarin Abang hanya merasa khawatir pada Aisyah, Abang tidak mau dia menyiksa diri nya sendiri karna mengambil keputusan dengan terburu-buru. Abang tahu dia memang menyukai Abang, tapi bukan berarti Abang ini satu-satunya kan untuk dia? Abang hanya merasa jika kemarin bukan lah waktu yang tepat untuk nya menjalin hubungan dengan serius, Abang bisa melihat itu dari sorot mata nya karna kami tumbuh bersama. Abang menyayangi Aisyah seperti Abang menyayangi Farah, hanya itu dan tidak lebih"


nurain hanya mengangguk sambil meneteskan air mata dan langsung memeluk saya dengan begitu erat. saya tahu, ini adalah bentuk dari kepercayaan nya terhadap saya.


'syukron yaa Allah kau kembalikan istri ku dan kepercayaan nya terhadap ku'


"jadi hari ini kita mau jalan-jalan kemana sayang?"


tanya saya saat nurain sudah melepas pelukannya.


"kita pulang aja yah, nur kangen sama Naura"


"Naura kan sudah di temani ayah, lagian kita hanya jalan-jalan sebentar gak akan lama. Abang kangen masa-masa kita pergi berduaan"

__ADS_1


"ya udah, nur juga sebenarnya kangen masa-masa itu"


"nah gitu dong, kita mau kemana?"


"kemana aja terserah Abang"


"kemana yah enak nya? Abang gak terlalu hafal darah sini. kamu dong yang kasih referensi tempat kan udah beberapa tahun di sini"


kata saya sambil menaik turunkan alis mencoba menggoda nya


"ABANG"


kata nya sambil cemberut, dan saya hanya tertawa renyah melihat ekspresi wajah nya.


yah, wajah yang selalu saya rindukan. apalagi ketika dia cemberut, sungguh itu sangat menggemaskan, masyaallah.


setelah beberapa saat mencari-cari referensi tempat yang ingin dikunjungi, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke salah satu tempat wisata yang ada di kota ini.


E**wisata M*ngr**e, di sinilah kami saat ini. tempat nya sangat asri dan nyaman.


Selain bisa menghirup udara segar, kita juga bisa menyusuri hutan m*ngr*ve di atas jembatan kayu.


nurain sangat menyukai tempat-tempat yang tenang, dan saya lihat dia begitu menikmati setiap pemandangan di sini.


sesekali kami mengambil gambar untuk di jadikan kenang-kenangan untuk suatu hari nanti, saat kami menua bersama.


"kamu suka sayang dengan tempat nya?"


tanya saya sambil memeluk nya dari belakang, dia mengangguk disertai senyuman.


"tapi sayang kita hanya berdua yah, coba Ayah dan Naura ikut. kita bisa berfoto berempat"


"nanti kita jalan-jalan berempat sebelum kembali ke Bandung"


nurain kembali tersenyum tanda setuju.


"kamu mau ngapain sayang?"


tanya saya saat melihat nurain berdiri dari kursi roda nya


"nur mau berjalan pake kaki, boleh yah?"


"tapi kan kaki kamu belum benar-benar pulih"


"gak papa itung-itung nur berlatih ya kan?"


"oke deh, tapi Abang papah yah"


kembali, nurain mengangguk sambil tersenyum.


saya pun membantu nurain untuk kembali melatih kaki nya agar bisa kembali berjalan. kami menyusuri jembatan dengan berjalan kaki, melihat betapa indah nya pemandangan di sini.


sesekali nurain hampir terjatuh, namun saya dengan sigap menahan tubuh nya agar tidak terjatuh. tak lupa kami pun saling bercerita dan sesekali nurain tertawa renyah jika mendengar sesuatu yang menurut nya lucu.

__ADS_1


heeumm,, rasanya masih tidak percaya jika kini tawa nya kembali memenuhi ruang hati ini. sungguh tak ada yang paling bahagia bagi dua orang yang saling mencintai selain dipersatukan dalam ikatan yang halal, dan sungguh tidak ada yang paling bahagia bagi dua orang yang saling merindu selain di pertemukan satu sama lain.


__ADS_2