Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu

Tangisku Dan Bahagiaku Ada Dalam Rumahmu
Obrolan Keluarga


__ADS_3

"kenapa Abang bisa memilih nur?"


pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut ku saat kami sedang asik menikmati udara pagi hamparan sawah yang begitu sejuk


"kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"enggak kenapa-kenapa, mau tahu aja. apa alasan abang milih nur? kenapa bukan dokter Aisyah atau perempuan lainnya yang lebih segala-galanya dari nur?"


"hmm,,, kenapa yah? menurut kamu kira-kira kenapa?"


Gus hafidz menggerak-gerakkan sebelah halus nya yang cukup tebal kepada ku


"Abang serius dong jawab nya"


"kamu itu yah, kalau lagi cemberut gitu lucu nya Doble tau"


kata Gus hafidz di tengah tawa nya yang begitu renyah


"iya deh Abang jawab dengan serius. alasan abang milih kamu itu karna__ini"


Gus hafidz menyentuh dadanya dengan telapak tangan nya


"karna Allah meletakan nama kamu di sini, dan Allah arahkan Abang ke hati mu. maka kamu lah yang Abang pilih dari sekian banyak wanita yang Abang kenal. bukan dokter Aisyah, atau siapa pun tapi kamu, hanya kamu"


aku menatap mata gus hafidz dengan lekat, ada ketulusan di sana yang ku temukan saat semua kata itu keluar dari lisan nya.


aku tidak pernah menyangka bahwa Allah menganugerahkan semua ini untuk, di saat aku harus kehilangan seorang ibu yang teramat aku cintai, Allah ganti dengan kehadiran sosok suami yang begitu mencintai ku, dan Allah jadikan ibu mertuaku menyayangiku layak nya kasih sayang seorang ibu pada putri nya.


Alhamdulillah aku bersyukur atas semua karunia Allah terhadap diriku


~


Menjelang sore, aku dan Gus hafidz kembali pulang menuju pondok.


kami yang awal nya hanya ingin menginap satu hari, saking senang nya kami habiskan waktu sampai tiga hari lama nya.


sebenarnya aku masih betah dan ingin tinggal di sana, namun aku tidak bisa egois, suami ku mempunyai tanggungjawab besar pada pondok pesantren. jadi tidak mungkin jika Gus hafidz harus tinggal di luar, dan sesekali ke pondok.


"sayang, kamu masih betah ya di sana?"


aku menoleh pada suami ku yang sedang fokus menyetir mobil ke arah pondok


"gak papa ya kita gak bisa tinggal terus di sana? karna Abang tidak mungkin meninggalkan pondok"


"iya gak papa ko bang, bisa mampir menikmati pemandangan saja nur udah seneng banget"


"kamu memang istri Abang yang sangat pengertian. Syukron ya"


Gus hafidz mengecup punggung tanganku dengan romantis


aku selalu suka dengan cara nya memperlakukan ku, walaupun aku sendiri sebenarnya agak sulit untuk bersikap romantis pada suami ku. tapi Gus hafidz tidak pernah menuntut agar aku bisa seperti nya.


~


"Farah, kamu sudah undang semua teman-teman kamu nak buat datang ke acara resepsi Abang mu?"

__ADS_1


tanya umma saat kami sekeluarga sudah sedang kumpul untuk mempersiapkan semua keperluan acara yang tinggal dua hari lagi


"enggak perlu lah umma"


"kenapa?"


"kan ini bukan acara Farah"


kata Ning Farah sambil melihat sinis ke arah ku


"ko kamu bilang gitu? ini kan acara Abang mu berarti acara kamu juga"


"iya nanti insyaallah Farah undang"


"fidz, gimana kamu udah hubungi Aisyah kan?"


"sudah umma, tapi no nya udah gak aktif. via sosmed juga udah tapi gak ada jawaban"


jawab Gus hafidz sambil melihat ke arah ku seperti takut aku akan cemburu atau salah paham. tapi memang, semenjak kepergian dokter Aisyah ke Swiss aku tidak pernah mendengar kabar nya lagi.


dan aku juga tidak tahu, apa suami ku masih saling bertukar kabar atau bahkan tidak pernah sama sekali.


"lagian ka aisy juga gak mungkin mau hadir di acara nya"


suara Ning Farah yang pelan namun dapat terdengar oleh orang yang ada di samping nya.


"gak papa, mungkin Aisyah sedang sibuk"


kini Babah yang memberi komentar mengenai apa yang dari tadi kami bahas


"insyaallah hadir umma"


"ya udah gak papa, mudah-mudahan Aisyah juga ikut hadir bareng kedua orangtua nya"


~


"Abang, memang nya dokter Aisyah gak pernah sama sekali ngasih kabar sama Abang?"


setelah obrolan tadi siang, sebenarnya aku jadi kepikiran tentang kabar dokter Aisyah. dan kalau boleh jujur, aku pun sedikit penasaran apakah suami ku masih kontekan atau berhubungan dengan dokter Aisyah atau tidak.


"kenapa kamu nanya gitu? kepikiran sama obrolan tadi siang yah?"


"iya sih, nur juga mau tahu gimana kabarnya dokter Aisyah sekarang"


"tapi kamu nanya gitu bukan karna cemburu kan?"


"cemburu? eng__enggak ko. kenapa harus cemburu? kalau pun Abang masih suka kontekan sama dokter Aisyah juga gak papa, kalian kan memang udah dekat dari kecil"


aku, sedikit menyembunyikan perasaan ku agar tidak terlihat egois karna merasa cemburu jika suami ku masih berhubungan baik dengan teman masa kecil nya.


" ya udah kalau emang kamu gak cemburu, gak papa yah Abang sering kontekan sama Aisyah?"


"jangan dong"


jawab ku reflek

__ADS_1


"hehe, kamu tuh yah cemburu sama suami sendiri juga kayak nya gengsi banget buat bilang nya"


"ih,, Abang sakit"


aku memegang hidungku yang di cubit oleh suami ku


"abis Abang gemes banget sama kamu"


kata Gus hafidz sambil mengkuwel-kuwel kedua pipiku dengan tangan nya


"Abang ih, jawab dulu pertanyaan nur tadi"


"iya iya Abang jawab nih. setelah kepergian Aisyah, Abang gak pernah kontekan lagi sama Aisyah. Abang pernah sih kirim email sama dia, tapi gak pernah ada balasan. coba menghubungi lewat akun sosmed nya juga nihil. mungkin Aisyah udah gak pake lagi sosmed. Abang juga gak tahu kenapa. kemarin umma minta tolong sama Abang buat menghubungi Aisyah, tapi yah gitu no nya sampe sekarang gak pernah aktif lagi. mungkin Aisyah udah ganti no WA"


"terus kenapa gak tanya sama orangtua dokter aisyah atau teman-temannya. pasti mereka tahu"


"umma sempat nanyain tapi paman Yusuf bilang Aisyah sedang sangat sibuk jadi akan susah di hubungi. entah lah Abang juga gak ngerti, tapi mungkin Aisyah masih butuh waktu untuk sendiri"


"tapi dokter Aisyah akan baik-baik aja kan bang?"


"insyaallah dia akan baik-baik saja. Abang tahu banget karakternya, Aisyah orang yang kuat, dia bukan orang yang mudah putus asa. waktu kakek nya meninggal dunia karna kecelakaan yang di sengaja, dia yang paling kuat untuk membuat orangtua nya agar bisa tegar. padahal waktu itu Aisyah lah cucu yang paling-paling dekat dengan kakek nya"


"di sengaja? maksud Abang ada orang yang sengaja mencelakai kakek nya dokter Aisyah?"


tanya ku tak percaya mendengar apa yang Gus hafidz ceritakan


"iya, dulu kakek nya Aisyah adalah seorang pengusaha yang sukses. jadi banyak saingan beliau yang kurang suka dengannya. dan pada saat itu ada orang yang sengaja memotong rem mobil yang di tumpangi oleh kakeknya Aisyah. itu sih yang Abang tahu, karna Abang dulu masih kecil jadi enggak terlalu paham dengan obrolan orangtua. lagian itu juga Abang dengar nya hanya sekilas"


"memang nya Abang dulu usia berapa tahun?"


"berapa yah, delapan tahu kalau gak salah"


"berarti kejadian nya udah lama banget yah? tapi pelaku nya berhasil di tangkap?"


"Alhamdulillah udah ketangkap, malah sampe sekarang masih di penjara kata nya"


"hmm,, ternyata sukses dan banyak harta itu tidak menjamin segala nya menjadi mudah yah bang? tapi nur salut sama dokter Aisyah yang begitu kuat menghadapi ujian itu"


"yah, begitu lah Aisyah sayang. dia orang yang baik dan kuat. ngomong-ngomong bahas Aisyah nya udahan yah, kita harus istirahat harus tidur soal nya ini udah malem banget"


"oh iya, udah jam sebelas. ya udah kita bobo yuk bang"


kata ku sambil menarik selimut yang dari tadi terlipat dengan rapi di atas ranjang.


"jangan langsung tidur dong sayang, ritual malam dulu biar tidur nya nyenyak"


"ritual malam?"


aku menatap suami ku yang sedang memandangku dengan tatapan nakal nya


"eumm,,, Abang aja sendiri nur udah ngantuk mau bobo, dadah"


aku langsung menutupi tubuh ku dengan selimut agar Gus hafidz tidak bisa berbuat nakal pada ku


"awas yah kamu, Abang kelitikin nih"

__ADS_1


kami pun hanyut dalam canda dan tawa kebahagiaan, hingga akhirnya mimpi indah menjadi pengiring untuk malam kita.


__ADS_2