TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 100


__ADS_3

PERKENALAN


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


γ€€


Dave masih memeluk tubuh lunglai Feya yang tidak sadarkan diri, wangi perpaduan vanila dan lili membuat degub jantung Dave berdebar tidak menentu. Sosok wanita yang semalam telah menolaknya sekarang justru terlihat sama kacau dengan dirinya, terpuruk tidak berdaya.


γ€€


"Kesayang Papa....kenapa nak ?" Tuan Maladi keluar ruang kerjanya setelah mendengar suara ribut tidak berapa jauh dari di depan ruangannya. "Tolong, tolong bawa anak saya ke dalam !" Feya sudah berada dalam gendongan Dave. Secepatnya Dave berjalan mengikuti langkah Papanya Feya, masuk kedalam ruangan kerja Presdir hingga ke depan sebuah pintu di sudut ruangan, pintu penghubung dengan ruang lainnya. Tuan Maladi membuka pintu, " tolong baringkan Feya di sana !" Tunjuk si tuan ini pada ranjang besar dengan seprai biru penutupnya.


γ€€


Ehhhh.....Feya ?Β 


Pasti salah dengarΒ  !


Dave membaringkan tubuh dingin Feya di atas ranjang, Feya begitu pucat.


γ€€


"Nak, sayang...buka matamu. Kamu kenapa ?" Tubuh tua sang Papa duduk di tepi ranjang sambil memegang wajah pucat Feya. "Sayang, jangan buat Papa cemas !" Tuan Maladi terus mengajak Feya berbicara.


γ€€


"Badannya dingin sekali ". Ucap tuan Maladi sambil memandang Dave.


γ€€


"Apa tuan bisa menghubungi dokter ? Akan lebih baik kalau Leya secepatnya di periksa !" Tuan MaladiΒ  menganguk setuju.


γ€€


"Tolong jaga Feya sebentar ya !" Dave merasa kalau dia kembali salah dengar dengan penyebutan nama Leya. Tidak mau ambil pusing, demi keselamatan Feya. Dave segera mengiyakan saja permintaan lelaki tua yang sangat cemas itu.


γ€€


Apa yang terjadi ?Β Dave memegang tangan dingin Feya. Sambil mengosok-gosok telapak tangan Feya, Dave terus memandang wajah pucat yang tidak juga membuka matanya itu.


γ€€


Aku ingin sekali memelukmu, aku rindu kamu. Meskipun kamu telah menolakku tapi aku tidak bisa berbohong, aku cinta kamu. Sangag cinta sama kamu, Le.


γ€€


"Dokter sebentar lagi datang ". Tuan Maladi kembali masuk ke kamar istirahat di ruang kerjanya saat Dave masih mengengam kuat jemari Feya.


γ€€


Dave berdiri, "maaf tuan, saya hanya mencoba membuat tangannya hangat ". Dave tidak mau ada kesalahpahaman.


γ€€


"Anda tuan Dave bukan ?" Tanya tuan Maladi duduk mengantikan posisi duduk Dave di tepi ranjang.

__ADS_1


γ€€


Dave menganguk dan mengulurkan tangannya. "Perkenalkan tuan, saya Dave Indra Barata ". Ucap Dave sopan sambil terus menjabat kuat tangan lelaki tua yang terlihat tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya pada anak gadisnya yang masih belum sadar juga.


γ€€


"Untung ada anda, tadi resepsionis bilang anda datang di saat yang sangat tepat. Kalau tidak entah bagaimana nasib Feya ". Tuan Maladi menarik nafas kuat.


γ€€


Loh, kok Feya lagi ?


γ€€


"Entah ada apa dengannya, padahal Feya bukanlah gadis lemah. Tapi kenapa hari ini dia sampai bisa pingsan ? Lihat wajahnya !" Tunjuk tuan Maladi pada wajah Feya. "Feya pucat sekali ". Tuan Maladi memegang dan mengelus pipi Feya yang terlalu putih tidak berdarah.


γ€€


"Sama-sama tuan. Syukur saya bisa menangkap Leya dengan cepat tadi ". Dave masih menatap Feya.


γ€€


"Jangan panggil saya tuan..panggil Pak saja !" Ralat tuan Maladi saat mendengar Dave manggilnya.


γ€€


"Kalau begitu tuan panggil nama saya saja, jangan pakai embel-embel tuan !"


γ€€


"Mana bisa, anda adalah sosok raja property sukses dari negara tetangga. Saya mana boleh menyepelekan anda demikian ". Tolak Papa. "Pak saja, saya panggil anda Bapak saja ".


γ€€


γ€€


"Berapa lama lagi dokter akan sampai Pak ?" Tanya Dave sambil memperhatikan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannnya.


γ€€


"Sebentar lagi, semoga saja bisa secepatnya ". Tuan Maladi mencoba mengosok-gosok tangan Feya. Mengulang apa yang dilakukan Dave tadi, berharap hal tersebut bisa membantu anak gadisnya itu.


γ€€


"Feya kenapa nak ?" Guman tuan Maladi pada Feya yang hanya memejamkan matanya. "Kalau memang sakit, kok dipaksaain juga bekerja. Sejak kapan Feya jadi keras kepala sih ?"


γ€€


Dave melogo, dalam hatinya sibuk menghitung berapa jumlah kata Feya di sebut oleh sang tuan Maladi barusan.Β Memang Feya kok.


γ€€


"Maaf Pak ". Tuan Maladi menatap Dave. "Bapak memanggil nama Leya kok Feya ya ? Apa saya salah dengar ?" Dave sudah sangat penasaran.


γ€€

__ADS_1


"Jadi kamu pernah ketemu Leya ya, tapi belum pernah ketemu Feya ? Pantas tadi kamu memanggil Feya dengan sebutan Leya ". Tanpa menatap mata Dave, tuan Maladi malah mengajukan pertanyaan baru pada Dave.


γ€€


"Maksudnya bagaimana ya Pak ? Saya tidak mengerti ?" Dave menarik kursi di ujung ranjang mendekat ke sebelah tuan Maladi.


γ€€


"Saya punya anak kembar ". Jawab tuan Maladi. Dave membesarkan bola matanya, memperlihatkan ekspresi sangat terkejut.


γ€€


"Leya anak tertua saya dan dugaan saya, kamu sudah pernah bertemu dengannya ". Dave masih saja belum bisa menghilangkan keterkejutannya


γ€€


"Dan ini Feya, kembaran Leya. Feya hanya beda 2 menit lahirnya dari kakaknya. Mereka kembar identik ". Dave hanya bisa mengangukkan kepalanya. "Dan saya tebak lagi, ini kali pertama kamu bertemu Feya ?"


γ€€


"Mereka sangat-sangat serupa, tidak ada beda sedikitpun ". Akhirnya Dave mampu bersuara juga.


Wajah, rambut, warna kulit, tinggi, bentuk badan, berat badannya. Ya aku pernah mengendong Leya waktu itu, berat mereka sama persis, hingga aroma parfumnya pun sama semua. Tidak ada beda apapun, sedikitpun. Apakah memang seperti itu ya yang namanya kembar identik ?


γ€€


"Tunggu sampai Feya bangun, kamu akan tahu beda mereka apa !" Jawaban tuan Maladi sambil terus mengosok tangan dingin anak gadisnya.


γ€€


"Tuan, dokter datang ". Sekretaris perusahaan Maliky Group berjalan masuk bersama seorang wanita paruh baya yang memakai jas putih, khas seorang dokter.


γ€€


"Tolong dok..!" Serta merta Papanya Feya ini mempersilahkan dokter wanita agar secepatnya memeriksa kondisi Feya. Sedang Dave, dirinya memilih segera keluar dari ruangan tersebut dan duduk bersama Tomo di sofa empuk di depan meja kerja tuan Maladi.


γ€€


"Bagaimana tuan ?" Tomo memperhatikan ada kebingungan di mata Dave.


γ€€


"Mereka kembar ". Dan sekarang Tomo malah yang bingung.


γ€€


"Apa nona Leya belum sadar juga ?" Tomo sengaja menyebut nama Leya dengan maksud agar sang tuan mengerti arti pertanyaannya barusan.


γ€€


"Dia Feya bukan Leya ". Jawaban Dave yang hanya sepotong itu malah membuat Tomo semakin bingung.


γ€€


"Baiklah, saya permisi dulu. Tuan tolong pastikan semua arahan saya tadi dilaksanakan dengan sebaik mungkin ya !" Dokter wanita yang baru saja memeriksa Feya menuduk hormat di depan pintu penghubung antara ruang kerja dan kamar istirahat. Tidak berapa lama kemudian, dokter yang ramah itu sudah hilang di balik pintu utama ruang kerja.

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2