
KEJUJURAN (1)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
Waktu berlalu, detik demi detik yang tadi terasa sangat lama berputar juga, hingga akhirnya sampailah pada hitungan satu jam lebih sejak Hadi di bawa oleh Dave ke Rumah Sakit ini. Feya masih diam terduduk di samping Dave, pikirannya campur aduk, rasa bersalah bercampur rasa marah. Semua terkumpul memenuhi kalbunya. Tidak beda jauh, Dave pun juga merasakan hal yang sama. Berdiam diri dengan isi kepala yang hanya dia sendiri yang tahu, Dave hanya sesekali mengusap rambutnya sebagai kegiatan tambahan di dalam diamnya..
 
Mereka hanya duduk, diam dan tanpa interaksi. Tomo menjadi saksi betapa diamnya dua anak manusia yang berlainan jenis itu dengan alam sadar masing di depan dirinya. Ternyata Tomo sudah hampir 30 menit datang setelah sang tuan menghubunginya dan memintanya menyusul segera. Tomo tidak tahu pasti apa yang telah terjadai terhadap Hadi yang kabarnya sebentar lagi akan di pindahkan ke kamar rawatan, ataupun terhadap sang tuan yang jelas-jelas dapat di lihat Tomo sekarang baju yang di kenakan Dave sudah berlumuran noda merah yang bisa di tebak Tomo, apakah jenis noda tersebut.
 
Apa tuan bergumul dengan Hadi ?
Sebuah asumsi mulai terbersit di pikiran Tomo.
 
Tapi tuan bukan tipe orang yang suka menyerang orang lain tanpa dasar, pasti bukan karena itu.
Tomo menolak sendiri teori yang baru di buatnya.
 
Ah, hanya saja semenjak kenal dengan nona Leya, bukannya tuan memang berubah ? Tuan suka melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan kepribadiannya ? Mencintai wanita yang sudah berpunya, itu bukan kepribadian tuan kan ? Tapi realitanya........
Dan sekarang Tomo menolak kembali keyakinannya di awal. Ternyata Tomo cukup bingung menghadapi situasi antara sang tuan, Hadi dan wanita yang di kenal Tomo sebagai tunangan Hadi. Tomo hanya bisa ikut diam sambil terus memperhatikan kondisi sang tuan.
 
Terserahlah...selama tuan baik-baik saja. Itu cukup bagiku, yang lain bukan tugasku...
Tomo mengeleng cepat. Menghenyahkan semua isi kepalanya yang tadi sibuk mengajaknya berdebat.
__ADS_1
 
"Kita harus bicara !" Akhirnya Tomo melihat Feya yang di pikirnya adalah tunangan resmi dari lelaki yang sedang berkerja untuk interior kondominium sang tuan berbicara, Feya membuka mulutnya. Ada keseriusan di nada suaranya.
 
"Tidak bisakah nanti ? Aku ingin kita bicara saat situasi sudah tenang !" Ternyata Dave menolak ajakkan Feya, Dave menolak berbicara bersama Feya saat ini. "Aku tahu apa yang ingin kamu bicarakan, kamu pasti mau menyalahkan dirimu atas kejadian Hadi, iyakan ?" Tanya Dave tanpa memandang Feya.
 
"Aku serius Dave, kita harus bicara !" Feya menatap wajah tampan Dave, entah apa yang ada di hati Dave saat ini. Menurut sudut pandang Feya, Dave cukup kacau. Atau sama kacaunya dengan dirinya.
 
"Nanti kita bicara !" Ucap Dave tegas.
 
"Terserah padamu, kamu tidak mau bicara denganku ya sudah, cukup dengarkan aku saja !" Sepertinya Feya sudah sangat yakin untuk mengungkapkan semuanya.
 
 
"Kamu hebat Dave, kamu benar. Aku memang tidak mencintai Hadi. Tidak dulu tidak sekarang ", Feya berhenti sesaat berbicara, sedang Dave tanpa sepengetahuan Feya mulai tersenyum bahagai. Hatinya bersorak senang, akhirnya semua dugaannya benar.
 
"Kamu bilang aku enggan didekati Hadi, enggan di rangkul bahkan di cium Hadi, dan untuk itu kamu benar lagi !" Dave ternyata semakin bahagia, tidak salah kalau dirinya merasa paling mengenal sosok Feya yang di kenalnya sebagai Leya. Ternyata sampai sejauh ini, dirinya benar semua.
 
"Aku tidak pandai dansa, aku bukan ratu pesta, aku suka situasi alam terbuka dan satu lagi aku bukan pecinta masakan olahan daging. Aku kagum sama kamu, kamu benar banget ". Di dalam hatinya, Dave mulai berbangga diri. Dave semakin yakin kalau dia benar-benar mencintai sosok wanita di sampingnya itu, Dave memang sangat tahu tentang Feya.
 
__ADS_1
"Tapi ada satu yang tidak kamu tahu Dave ", Feya kembali berhenti sesaat, menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. "Aku menyayangi Hadi, hanya sayang saja sebagai saudara. Aku menghormati Hadi sebagai calon kakak iparku ". Sampai di sini, Feya berhasil membuat Dave menatap lurus kepadanya, Dave sangat terkejut.
 
"Dave, Hadi adalah calon kakak iparku. Dia adalah calon suami dari kembaranku, Leya ". Ternyata Tomo menyimak semua penjelasan Feya pada sang tuan. Tomo pun ikut memasang ekspresi terkejut tidak terkiran.
 
"Cukup ". Dave segera membuang tatapannya dari Feya. "Aku sudah duga, kamu pasti akan menyalahkan dirimu sendiri atas peristiwa ini. Termasuk mengarang cerita barusan, sudahlah. Cinta kita bukan dosa, aku juga merasa bersalah atas singkatnya pola pikir Hadi dengan cara bodohnya itu. Tapi aku tetap tidak mau merasa bersalah atas cinta tulusku padamu, aku benar-benar mencintaimu ".
 
"Dave...tolong dengar ! Ini bukan karanganku saja. Ini beneran !" Feya bersiap meletakkan jemarinya di dekat kelopak matanya, satu bukti terakhir. Dave harus tahu siapa dirinya sebenarnya !
 
Hingga.....
"Keluarga tuan Hadi ?" Seorang perawat Pria berdiri di depan pintu ruang gawat darurat. Feya berjalan cepat di susul oleh Dave menuju arah si perawat.
 
"Iya..ada apa ?" Feya langsung bersuara.
 
"Nona, kami akan memindahkan tuan Hadi ke kamar rawatannya. Nona silahkan menemui pasien di kamar rawatan ya ". Senyum ramah menghiasi wajah si perawat saat berbicara pada Feya. "Tapi sebelum itu, tolong nona ke ruang dokter ! Beliau menunggu nona ada hal yang harus disampaikan !" Tunjuk si perawat pada sisi kanan lorong Rumah Sakit itu.
 
Feya menganguk, segera melangkah ke arah yang telah di tunjuk.
 
"Aku akan menemanimu ", suara Dave membuat Feya berhenti, ternyata Dave sudah menyamakan langkahnya di samping Feya.
__ADS_1