
PENYAMARAN (3)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
 
"Lukas, aku akan membawa mobil hitam ini bersama nyonya Fiella dan Menik. Kamu bawa mobil putih itu ya !" Bima membagi porsi mobil yang akan mereka gunakan ke acara lelang pagi ini.
 
"Baik..aku setuju ". Dan Lukas berjalan ke arah mobil putih yang berada tepat di belakang mobil yang akan di naiki oleh Feya.
 
Perjalanan menuju lokasi lelang di mulai, dengan kecepatan terbaik Bima menjalankan kemudi mobil dengan tenang menyusuri lalu lintas kota pagi itu. Perlahan, jalan mobil mulai meninggalkan kota beralih ke jalan sepi yang sepertinya mengarah ke luar kota, entahlah. Feya tidak tahu pasti kemana akhir perjalanan mobil yang di tumpanginya itu. Tetapi yang jelas sekarang Feya sedang sibuk menata hatinya agar bisa menjalankan tugas mulianya pagi ini.
 
Feya duduk tenang sambil berdoa, berharap semua lancar dan cepat selasai.
 
Sementara itu Lukas sedang sibuk mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celana panjangnya itu, jelas handphonenya itu terus saja bernyanyi keras, meminta si punya segera mengangkatnya.
 
"Ya hallo ?" Akhirnya Lukas berhasil menekan tanda terima panggilan di layar handphonenya.
 
"Pak Lukas, tuan Dave ingin berbicara sama Bapak !" Suara Tomo langsung membuat roman wajah Lukas berubah.
 
"Aiiisss..ada apa Tomo ? Ini aku lagi ada tugas penting ". Suara malas Lukas di ujung telepon.
 
"Dimana Bapak sekarang, tuan akan menyusul ke sana. Ini sangat penting !" Tomo mulai mendesak Lukas.
 
"Aku sedang bekerja Tomo, sudah dulu ya !" Dan tanpa aba-aba, Lukas mematikan secara sepihak telepon masuk dari Tomo.
 
**************
 
"Dimatikannya ?" Tebak Dave saat Tomo memandang kesal layar handphonenya sendiri.
 
"Benar tuan ". Jawab Tomo cepat.
__ADS_1
 
"Minta orang kita melacak keberadaan Lukas sekarang !" Sepertinya Dave juga terbawa aura kekesalan Tomo.
 
Dan sangat cepat, secepat pelari maraton yang hampir sampai ke garis finis. Tomopun mendapat jawaban di mana lokasi Lukas saat ini.
 
Binggoooo...
Di bawah perintah Dave, mobil sedan keluaran merek ternama itu di lajukan oleh si sopir ke arah titik merah di layar handphone Tomo.
 
"Ini bukannya jalan keluar kota ?" Tomo seakan menyadari sesuatu hal.
 
"Kenapa sepertibya ini mengarah ke Villa Manternio ?" Guman Dave heran.
 
"Apa yang dilakukan Lukas di sini ? Apa Feya juga ke sini ? Buat apa ?" Dave benar-benar merasa heran.
 
Villa Manternio, siapa yang tidak tahu itu. Villa megah yang berdiri di tepi dermaga ini, konon merupakan benteng peninggalan penjajah yang di beli Menternio dan di sulapnya menjadi villa indah bagai istana raja seperti sekarang ini. Konon kabarnya lelaki kaya ini berhasil menumpuk harta kekayaannya yang berjumlah di luar logika. Herannya dari mana asal kekayaan tersebut tidak ada yang tahu. Tetapi banyak rumor mengatakan kalau harta tersebut berasal dari kegiatan kotor yang dilakukan lelaki yang masih tergolong muda ini. Di usia 37 tahun, Monternio di duga menjalankan berbagai bisnia haram di dunia hitam, mulai dari obat-obatan terlarang, protitusi, perdagangan manusia, hingga perdagangan benda-benda bernilai sejarah tinggi. Namun sangat di sayangkan, Pihak Keamanan tidak pernah bisa menemukan bukti nyata semua dugaan itu. Monternio selalu bebas melengang dari jenis jeratan hukum apapun.
 
 
"Candra cepatlah ! Kita harus segera sampai dimanapun Lukas berada saat ini !" Sopir pribadi Dave ini bisa menebak kalau saat ini sang tuan sudah sangat gusar.
 
"Tuan mohon bersabar, kita pasti bisa menyusul Pak Lukas ". Ternyata Tomo juga bisa merasakan ada kegusaran di dalam diri sang tuan saat ini.
 
"Kau tahukan kemana arah mobil Lukas ?" Tanya Dave geram.
 
"Iya tuan ". Jawab Tomo cepat.
 
"Astaga Tom, apa-apaan mereka hingga berani mengumpan Feya ke dalam sarang Monternio ?" Dave mengusap wajahnya.
 
"Saya juga tidak habis pikir tuan, ini terlalu mengerikan !" Jawaba Tomo ini malah membuat Dave semakin khawatir.
 
__ADS_1
"Awas saja mereka, kalau sampai Feya kenapa-napa akanku hajar mereka semua. Termasuk Lukas, perduli setan kalau Lukas adalah sepupuku. Berani membuat Feya dalam bahaya, sama dengan siap menemui alam baka ". Suara berat Dave penuh nada ancaman.
 
***************
 
"Kita mulai nyonya ". Ucap Lukas ramah plus senyum menawan di pipi tampannya saat dia membukakan pintu mobil untuk Feya. Sesuai perannya kali ini, Lukan akan berperan sebagai pengawal Feya di dalam ruang lelang nanti. Jadi, dengan tenang Lukas memulai tugasnya itu.
 
"Terima kasih Lukas ". Jawab Feya sambil berusaha mengatur nafasnya. Tenang, tenang, Feya sibuk membuat detak jantungnya berkerja seperti biasa. Feya benar-benar harus tenang kalau mau semua berjalan lancar.
 
Feya berjalan anggun di dampingi oleh Menik di sisi kanannya dan Lukas di sisi kirinya. Cara berpakaiannya sangat elegan, riasan wajahnya sangat menawan. Kali ini Feya sukses menyulap tampilan dirinya sesuai dengan tuntutan penyamarannya, menjadi nyonya kaya raya yang sedang berburu benda peninggalan bersejarah.
 
"Lukas sebentar ". Mendadak Feya membuat Lukas dan Menik berhenti melangkah. Meskipun yang di panggil adalah Lukas, tetapi tetap saja karena kaki Feya berhenti berjalan, Menik pun memilih berhenti.
 
"Ada apa nyonya ?" Tanya Lukas sambil memperhatikan sekeliling mereka.
 
"Saat pertama saya lihat kamu, perasaan kamu nggak asing deh. Tapi saya kesulitan menemukan jawabannya, karena jujur saya baru kali ini datang ke negara kamu. Tapi barusan saya ingat, mata kamu. Mata kamu sangat saya kenal, mata kamu mengingatkan saya pada seseorang ". Seulas senyum kegetiran menghias di wajah Feya.
 
Ahhh, setelah berhari-hari kenapa aku masih saja tidak bisa melupakan kamu Dave. Bahkan aku bisa begitu mudahnya merasakan kehadiran kamu hanya dengan menatap mata Lukas.
 
"Maukah nyonya konsentrasi. Tolong lupakan dulu hal lain, kita harus fokus nyonya ". Suara Lukas membuat Feya tersadar. Cepat Feya menghenyahkan wajah tampan lelaki yang diam-diam telah menjadi pemilik hatinya itu. Meskipun Feya enggan mengakui semua, tetapi untuk kali ini biarlah dirinya menyimpan semua itu di relung terdalam kalbunya.
 
Feya menarik nafas panjang, membiarkannya memenuhi rongga parunya dan menghembuskannya perlahan.
 
"Baiklah, ayo..... ". Feya kembali melangkah menuju pintu besar rumah yang lebih mirip seperti istana kuno dalam sejarah kerajaan yang pernah di teliti olehnya.
 
Entah apa yang ada di depan sana, yang jelas Feya terus melangkah dengan pasti, khas seorang Feya yang siap memperjuangkan benda-benda bersejarah yang sudah menjadi bagian hidupnya itu.
 
 
 
 
__ADS_1