
BAGAIMANA PENDAPAT MU
❤❤❤❤❤❤
Malam semakin larut, Hadi pun telah sampai di halaman rumah keluarga besar tunangannya. Santai Hadi melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut manja oleh Leya.
"Pa, Ma, apa kabar?", sapa Hadi pada ke dua calon mertuanya itu. "Fey". Sapa Hadi pada Feya. Feya pun tersenyum manis membalas sapaan calon kakak iparnya.
"Baik Hadi, Papa dan Mama baik". Jawab Mama sambil tersenyum.
"Ma, ada acara makan-makan kok gak ajak aku. Padahal aku tuh Ma sudah kangen banget sama masakan Mama". Tanya Hadi pada calon Ibu mertuanya dengan wajah di buat-buat sedih.
"Hahahahah", tawa Mama melihat ekspresi wajah Hadi. "Bukan begitu menantu Mama, kalau masalah kamu sampe tidak dikabari, itu langsung tanya sama calon istrimu".
__ADS_1
"Jadi beb, kenapa aku nggak di ajak. Padahal tadi aku sudah telepon kamu. Kamu kok gituh beb? Tega". Wajah Hadi semakin di buat mencebek.
"Duh, duh, jadi gemes", Leya mencubit lembut pipi Hadi. "Aku bukan gak mau ajak kamu sayang, tapi aku pikir kamu sibuk. Jadi aku batalkan deh buat kasih tahu kamu". Jelas Leya.
"Beb, sesibuk apa pun keluarga adalah nomor satu". Jawab Hadi tegas.
Papa dan Mama tersenyum bahagia dengan sikap sayang sang calon menantu. Terlihat jelas bagaimana Hadi mencintai tulus Leya dan Hadi pun sudah menganggap orang tua Leya seperti orang tuanya sendiri. Semoga saja Leya selalu berbahagia dan langgeng bersama Hadi.
---------------
Papa dan Mama menawarkan agar kedua buah hati mereka menginap saja malam ini di rumah besar mereka. Rasanya sudah sangat lama, Papa dan Mama tidak mendapati pagi ceria bersama dua gadis kembarnya itu saat bangun tidur.
__ADS_1
Feya sebenarnya sangat mau, dia pun sejujurnya masih sangat rindu pada kedua orang tuanya. Tetapi lain dengan Leya, walaupun dia juga masih rindu pada Papa dan Mama, tetapi kalau sampai Leya menginap bagaimana nasib Hadi. Mana mau Hadi tidur terpisah dari Leya, dan Leya mana berani terang-terangan pada orang tua mereka tentang Hadi yang suka tidur satu kamar dengannya. Eitt, mereka memang tidur satu kamar, kadang-kadang. Tetapi Leya masih virgin loh, lantas kalau tidur sekamar ngapain? Ya, hanya sedikit pemanasan saja, sedikit lihat-lihat, sedikit gerakan jari dan sedikit jilatan lidah dan permainan bibir. Cukup sampai di situ, untuk lebih Leya sangat takut dan Hadi bisa menghargai pilihan Leya tersebut.
Jadi, bisa ditebakkan kenapa Leya menolak tawaran Papa dan Mamanya. Dengan beralasan besok Hadi harus ontime ke kantor sebab harus memberi jawaban untuk rekanan yang di pilih dalam proyek real estet terbaru perusahaannya. Jadi Leya dan Hadi menolak ajakan tersebut.
Papa dan Mama hanya bisa manggut-manggut saat mendengar alasan penolakan dari Leya dan Hadi, yah Papa sangat tahu bagaimana pekerja kerasnya si calon menantu mereka itu. "Tidak apa-apa nak, mungkin lain waktu". Ujar Papa pada Leya. Sesaat Feya dapat melihat ada rasa bersalah di tatapan kembarannya itu.
Tuhkan gak enak rasanya boong, merasa berdosakan? Lah tentu aja dosa, yang di boongin Papa dan Mama sih. Kualat baru tau kamu Le.
Merasa mendapat tatapan tajam, Leya langsung mengarahkan pandangannya ke arah Feya. Leya terdiam, dia tahu kalau saudara kembarnya itu bisa menebak isi hatinya saat ini.
__ADS_1