
Malam Minggu
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Kamu di hotel saja, atau kalau kamu mau kamu boleh keluar jalan-jalan. Tapi biarkan saya pergi sendiri!" Dave memberi perintah pada Tomo, sekretarisnya.
 
"Apa tuan yakin? Bagaimana kalau saya ikut saja tuan. Saya kawatir kalau harus membiarkan tuan sendiri". Tomo terlihat berat membiarkan Dave pergi bermalam minggu bersama Hadi dan wanita yang di kenalnya bernama Leya, tanps dirinya.
 
"Apa yang kamu ragukan? Aku pasti baik-baik saja. Lagi pula ini bukan kali pertama aku ke Kota ini, kamu tau itukan?"
 
"Saya tau tuan, tapi bagaimana kalau tuan perlu apa-apa nanti? Izinkan saya ikut tuan". Tomo masih berusaha membujuk Dave.
 
__ADS_1
"Ah kamu ini". Akhirnya Dave menyerah juga. "Ya sudah bersiaplah!"
 
***************
 
Hadi baru saja datang, mungkin belum sampai dua menit dia duduk di meja yang telah di pesannya siang tadi. Sekarang dia tengah menunggu wanita cantik yang di pikirnya adalah sang tunangan. Sebenarnya Hadi sangat keberatan kalau Feya datang kerestoran dengan membawa mobil sendiri. Hadi sudah berusaha membujuk Feya agar setuju pergi bersamanya, tetapi Feya terlalu keras kepala. Feya terus saja menolak tawaran Hadi yang sangat ingin menjemputnya demi bisa bersama ke restoran tempat mereka janjian bersama Dave.
 
 
***************
 
Feya sedang berusaha menyakinkan dirinya tentang pilihan dress yang telah dipakainya saat ini. Sedikit terbuka, dress hitam yang mengexpos bahunya karena hanya ada satu tali yang melekat di sana. Dress itu sangat elegan, sangat cocok bersaru dengan kulit mulusnya. Jatuh sempurna sampai di mata kakinya, ya walaupun ada belahan panjang hingga lututnya sebelah kanan. Dan semua itu membuat Feya tidak nyaman. "Bukan diri aku banget". Itulah kata-kata yang di ulang Feya saat terakhir dirinya berkaca.
 
__ADS_1
Pulasan makeup Leya telah tertata sempurna di wajah Feya, lipstik maron pun sengaja di poles Faya untuk membuat tampilannya malam ini semakin mendekati sang Kembaran. High heels dan tas tangan kecil yang senada dengan warna bajunya pun di pilih Feya. Jelas ini semua bukan dirinya, tetapi mau apa lagi. Permainan tetap harus berjalan. Meski terasa risih, Feya berusaha menjalankan malam ini sebaik mungkin.
 
Akhirnya, Feya sampai di depan pintu restoran. Dengan berjalan anggun, Feya menyerahkan kunci mobil kembarannya pada pemuda tanggung yang menjadi petugas parkir.
 
Feya terhenti sejenak, mengumpulkan semua keberaniaannya untuk menyelesaikan permaian malam ini. Bahkan saking tidak percaya dirinya dengan tampilannya malam ini, Feya tidak lupa menyempatkan untuk berdoa. Ya, dia memang harus banyak berdoa untuk malam minggu panjang yang baru akan dilakoninya sebentar lagi.
 
"Baiklah..meskipun ini bukan diriku, tapi aku harus bisa menjadi sempurna di dalam balutan tampilan Leya ini. Kalau aku bisa melalui semua ini, mangka kedepan akan sangat gampang bagiku untuk membuat Hadi selalu yakin aku adalah Leya. Baik.....semangat Feya". Feya mengangkat tinggi tangan kanannya keudaran. Terlihat dia sedang berusaha menyemangati dirinya sendiri.
 
Yah, semoga saja Fe...kali ini kamu berhasil.
 
 
__ADS_1