TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 141


__ADS_3

PENYELAMATAN (1)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


 


"Kancing ke tiga lagi ". Suara Monternio begitu riang, tenang tanpa beban. Tangan kekarnya mulai turun ke urutan kancing kemeja Feya berikutnya. Jakun lelaki yang tidak berprikemanusiaan ini mulai naik turun, jelas dirinya mulai tidak sabar.


 


"Kamu cantik Feya ". Puji Monternio pada wajah yang memucat itu. "Kalau nggak pake baju pasti lebih cantik lagi ". Dan kancing ketiga pun terbuka, memamerkan sedikit pemandangan yang tidak sepantasnya terlihat mata kotor Monternio. Mendadak Monternio menjadi tidak sabaran, kalau tadi dia membuka susunan kancing kemeja Feya secara perlahan. Tetapi kali ini penuh keinginan, nafsu terburuk yang sudah disiapkannya untuk Feya yang sepertinya akan hancur segera.


 


Dengan setengah memaksa, kancing berikutnya lolos dengan mudah, Monternio kembali bermaksud memuji pemandangan surga di depan matanya itu. Tetapi maksud tetaplah maksud, realita tergantung kehendak Sang Maha Kuasa.


 


Tanggggggggg.....


Pintu besar yang sepertinya cukup kokoh sebagai penahan kamar tempat Monternio sedang berusaha melakukan kejahatan pada Feya terbuka lebar.


 


Dan Bugggghhhh....bugggghhhh...bugggghhhhh...


Entah bagaimana caranya Monternio sudah tersudut menerima banyak pukulan di wajah dan perutnya. Lelaki itu kesakitan, meringis dengan luka di sudut bibir.


 


"Binatanggggg...", suara teriakan penuh amarah terdengar memaki Monternio.


 


"Kau, berani kau menyentuh milikku ?"

__ADS_1


Dan sekali lagi, kaki jenjang melayang sempurna ke arah Monternio. Membuat Monternio semakin tersiksa.


 


"Kau, kau mati saja ". Teriakan menyumpahi di iringi tendangan berikutnya. Hingga membuat Monternio melemah, tersudut kesakitan dan berdarah. Tetapi semua belum sudah, Monternio terus di hujani pukulan dan tendangan bertubi-tubi, silih berganti.


 


"Kauuu mati sajaaaaa......", kaki jenjang tadi bersiap meremukan Monternio untuk kesekian kalinya, hingga....


 


"Tuan, tuaaaaannnn ". Sebuah teriakan berusaha menyadarkan lelaki yang jelas penuh amarah itu kembali kekenyataan.


 


"Tuan, hentikan. Tuan Dave, saya mohon hentikan !" Suara nyaring Tomo membuat Dave, si lelaki penuh amarah yang terlihat sangat ingin menghabisi Monternio ini, menurunkan kaki kanan yang sudah sangat ingin dihadiahkannya ke arah Monternio lagi, untuk kesekian kalinya.


 


"Tuan, lihat nona Feya ". Akhirnya Tomo berhasil mendapatkan perhatian Dave sepenuhnya. Segera saja mata Dave mengarah pada ujung jari telunjuk Tomo. Sebuah pemandangan mengiris mata, Dave secepatnya berjalan ke sana.


 


 


"Aku mohon Tuhan, izinkan aku menyelamatkannya ". Doa Dave sepenuh jiwa, sambil terus membawa Feya yang semakin tidak berdaya.


*****************


 


EPILOG


 


"Arggghhh....lamban ". Suara kesal Dave saat merebut paksa handphone yang sedari awal di genggam Tomo dalam ke bimbangannya, antara bercerita dan menutupi semua. Jelas isi pesan terakhir Lukas tidak sebaik harapan semua orang.

__ADS_1


 


"Apa maksud Lukas ? Apa yang sedang mereka lakukan ? Apa mereka mengumpankan Feya pada Monternio ?" Dave mengupat marah sambil menekan sebuah nomor telepon di layar handphonenya.


 


"Kau...apa yang kau lakukan pada wanitaku ?" Tanya Dave langsung murka saat tahu kalau Lukas sudah menerima panggilan teleponnya di ujung sana.


 


"Ada apa-apa dengannya, kau tidak akan pernah selamat sepupu ". Ancam Dave sepenuh jiwa.


 


"Tu, tunggu...apa maksud kakak ?" Terbata-bata, Lukas cukup kaget dengan semua makian Dave padanya.


 


"Aku akan mengeluarkan Feya dari sana !" Panggilan terputus, Dave bersama satu pasukan penuh anak buahnya menerobos masuk istana megah milik Monternio. Di awal semua cukup mudah, benda kecil yang tersemat sempurna di rambut Feya berhasil mengarahkan Dave ke lokasi Feya. Ada serbuan dari beberapa pengawal Monternio, sayangnya para pengawal itu tidak sehebat pasukan Dave. Semua bisa teratasi, Dave terus maju menuju keberadaan Feya saat ini.


 


Hingga akhirnya sinyal penunjuk Feya hilang begitu saja, lorong gelap dan penggap, pintu yang terlalu banyak. Semua mulai tersesat, kepanikan akan hal-hal buruk yang bisa saja telah terjadi pada Feya membuat Dave memaksa pasukannya terus menjelajah. Aneh, itu yang mereka rasakan. Rasanya sangat sulit keluar dari lorong tersebut, seakan-akan mereka tengah berada di labirin gelap tanpa ujung. Entah apa yang dilakukan Monternio pada istana megahnya itu, yang jelas Dave benar-benar tersesat.


 


Butuh waktu lama, Dave terus berputar pada posisi sama. Hingga keajaiban tiba, Tomo berhasil menemukan pintu penghubung selanjutnya yang menjadi kunci rute mereka. Akhirnya mereka lolos, mereka semua bisa melangkah pasti ke arah berikutnya.


 


Benar saja, langkah mereka akhirnya terhenti di depan pintu gandeng besar terbuat dari kuningan, indah dan sangat berkilau. Pendobrakan di mulai, tetapi Dave malah terkulai kecewa, Feya tidak ada di sana. Dan hebatnya, Lukas, Pak Danu beserta anak buahnya dan Pak Rojer pun tiba. Sepertinya mereka semua berhasil mengikuti jejak Dave dan sekarang telah berada di ruangan yang sama.


 


Semua berpencar, satu persatu menyebar. Cukup sulit, tetapi akhirnya pintu penghubung di temukan. Dave sudah hilang kendali, dengan emosi dirinya mendobrak keras pintu itu. Betapa pedih hati Dave melihat pemandangan di depannya. Monternio hampir saja merusak Feya, Dave marah dan lupa segalanya, Dave murka dan sangat ingin melenyapkan Monternio selamanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2