
MAAF, AKU TIDAK SANGGUP
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
Harus tampil sebahagia mungkin, tetapi di dalam hati menolak. Itulah perasaan Feya saat ini, dia harus menampilkan wajah bahagia semeyakinkan mungkin tentang kesanggupan Hadi menyediakan hari sabtu yang full untuk dirinya. Bisa kemana saja dan mau apa saja, Hadi akan memenuhi semua permintaan Feya. Sementara di dalam hatinya saat ini sungguh-sungguh menolak, berharap hari sabtu itu tidak pernah ada.
 
Belum lewat satu jam saja Feya sudah ingin menyerah, dia nyaris beberapa kali membuat Hadi curiga. Apa lagi kalau satu hari penuh, Feya sangat yakin, dia pasti tidak akan sanggup.
 
Katamu semua sudah kamu siapain sebaik mungkin Le, lah itu apa namanya. Keluar bareng Hadi seharian, bisa langsung geme over permainan kita.
 
"Beb, kenapa bulatan dagingnya enggak di makan? Makan dong beb, itukan salah satu menu favorit kamu". Hadi merasa heran melihat pola makan Feya. Kentang tumbuk dan fresh brokolinya sudah bersih. Tetapi olahan dagingnya sama sekali tidak di cicipi.
 
"Sayang, aku sudah kenyang". Feya berpura-pura menyerah, tidak sanggup lagi untuk menghabiskan makananya.
 
"Masak sih, tadi appetizernya gak abis, sekarang bola-bola dagingnya malah enggak di sentuh sama sekali? Tanya Hadi tidak percaya.
__ADS_1
 
"Sungguh, aku kenyang sayang". Feya memegang perutnya, mempraktekkan gaya orang yang sudah sangat kekenyangan.
 
"Kamu pasti pengen aku suapinkan? Aku tau beb, kamukan suka gituh kalau lagi males makan. Sini, sini, aku suapin". Hadi pun mengambil sendok yang sudah sedari tadi diletakkan Feya. Membagi bola-bola daging menjadi empat bagian kecil dan menyodorkannya pada Feya.
 
"Sayang, jangan gituh ah. Aku malu". Feya berusaha menolak keinginan Hadi untuk menyuapinya.
 
"Beb, kamu ini kenapa sih sebenarnya. Malu sama siapa coba? Kita hanya berdua, lagi pula andai ada yang lihat lantas kenapa? Apa masalahnya, toh ini bukan kali pertama aku nyuapin kamu". Hadi sudah mulai tidak habis pikir lagi terhadap tingkah Feya.
 
 
"Demi kamu, aku enggak masalah. Dan jangan konyol begitu, kamu itu calon istri aku. Mana mungkin kamu membuat aku repot". Hadi berusaha mengenyahkan pikiran negatif Feya.
 
Kalau Leya sih mungkin bakal terbang dengar penuturan kamu barusan, tapi ini aku..jadi bodo amat, aku gak sanggup lagi. Jangan paksa aku kakak ipar.
 
__ADS_1
"Aaakkk", ucap Hadi sambil mendekatkan sendok berisi potongan bola-boka daging ke arah mulutnya.
 
Feya pasrah, tidak ada solusi apapun sekarang. Menolak hanya akan membuat Hadi semakin banyak bertanya dan akhirnya pasti akan curiga dengan banyaknya perbedaan Leya dari biasanya. Tetapi kalau menuruti kemauan Hadi, membiarkan potongan Bola-bola daging itu masuk ke perutnya, apa iya ada jaminan pasti bahwa Feya tidak akan memuntahkan isi perutnya
 
Akhirnya mulut Feya pun terbuka, membiarkan potongan daging menyentuh lidahnya. Keringatnya langsung mengalir, cepat sangat cepat Feya langsung menelan tanpa mengunyah, hingga mengakibatkan tengorokannya terasa tidak nyaman.
 
Belum selesai sampai di situ, Hadi dengan senyum semrigahnya kembali menyodorkan potongan daging kedua kepada Feya. Terlihat jelas bagaimana telatennya Hadi menyuapi wanita yang dipikirnya adalah calon istrinya yang akan segera dinikahinya itu.
 
Dan berbeda dengan Feya, dengan senyum terbaiknya, dia di tuntut untuk menelan makanan yang sangat tidak disukainya. Hingga pada suapa kedua, tengorokan Feya terasa sedikit pedih. Akhirnya saat suapa ketiga, Feya mulai gelisah, keringat dingin mulai membasahi jari-jarinya. Mulutnya mulai memberi reaksi aneh, ada rasa asam dan asin bercampur aduk dalam waktu bersamaan
 
Aku kenapa ya? Kok jadi enggak enak gini?
 
 
 
__ADS_1