
PERNYATAAN
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
"Enaknya Dave, aku sampe kenyang banget ". Feya mengelus perut ratanya senang. "Ini makan malam super lezat deh. Rasa ikannya enak, fresh, gurih, pokoknya enak banget, komplit ". Puji Feya pada menu makan malam yang telah dipilihkan Dave.
 
"Akukan paling tahu selera kamu ". Jawab Dave santai. Tapi tidak bagi Feya, hatinya sontak tertegu rasanya agak membingungkan mendengar kata-kata Dave barusan.
 
"Kenapa Le ?" Tanya Dave yang heran melihat raut wajah bingung Feya.
 
Ah....hampir saja aku lupa. Akukan sedang bermain peran, hahahaha. Feya, Feya...jangan kepedeaan deh. Dave itu anggap kamu Leya. Dia mana kenal seorang Feya.
 
"Enggak..cuma kekenyangan aja, hehehe ". Dusta Feya.
 
"Kalau kamu suka, kapan-kapan aku bawa kamu lagi Le ke sini ".
 
"Iya ". Hanya itu kata yang bisa Feya ucapkan. Hatinya sedikit sakit, tanpa dia tahu apa penyebabnya Feya merasa tidak suka saja karena Dave terus menyebut nama Leya, bukan Feya, namanya.
 
"Hey, kenapa Le ?" Dave memegang tangan kanan Feya. "Apa aku salah bicara ? Maaf ya, kadang aku memang sulit mengontrol ucapanku sendiri ".
 
"Enggak..kamu enggak salah kok. Yang salah aku ". Feya segera mengalihkan pandangannya dari Dave. "Sudah malam, kita pulang yuk ".
 
Dave hanya bisa mengiyakan ajakan Feya dengan kerutan di keningnya. Sungguh Dave merasa sangat bingung saat ini menghadapi sikap Feya yang mendadak berubah padanya. Beberapa saat tadi wanita cantik yang di kenalnya dengan nama Leya itu masih tersenyum manis padanya, tetapi sekarang. Beberapa saat kemudian Feya malah membuang muka darinya, tidak ingin menatap padanya lagi.
 
Sepanjang perjalanan menuju apartemen Leya, dihabiskan dengan kesunyian oleh Dave dan Feya. Sepertinya mereka tengelam dalam perasaan masing-masing, dalam tanda tanya masing-masing. Tidak terlihat salah satu dari anak manusia ini berencana untuk memulai pembicaraan.
 
Bahkan saat Dave telah berdiri di depan pintu apartemen Leya pun, antara dirinya dan Feya masih bertahan dalam kediaman masing.
 
"Terima kasih ya, sudah bawa aku keberbagai tempat yang menyenangkan ". Feya ternyata cukup memiliki keberanian memulai pembicaraan.
 
"Sama-sama. Semoga kamu suka ". Jawab Dave yang masih berdiri tepat di pintu masuk apartemen Leya.
 
"Kalau gituh aku masuk dulu ". Feya berusaha mengapai gagang pintu apartemen kembarannya itu. "Selamat malam Dave ". Seulas senyum menghiasi bibir mungil Feya.
 
"Tunggu !" Dave mencegah Feya menutup pintu. "Aku.... ". Dave sedikit ragu melanjutkan kalimatnya.
 
"Iya, ada apa Dave ?" Feya pun membatalkan niatnya menutup pintu.
__ADS_1
 
"Kamu, apa yang kamu rasakan hari ini ?" Dave melangkah masuk ke dalam apartemen Leya, membuat Feya mau tidak mau harus melangkah mundur kalau tidak ingin bertabrakan dengan Dave.
 
"Senang ". Jawab Feya singkat sambil menjauh sampai radius teraman baginya dari Dave.
 
"Hanya senang ?" Menyadari telah tercipta jarak antara dirinya dan Feya. Dave kembali melangkah semakin dalam masuk ke apartemen Leya.
 
"Sangat senang ". Feya langsung meralat jawabannya.
 
"Kemudian ?" Tanya Dave sambil lebih mendekatkan lagi jaraknya pada Feya.
 
"Emmm...terima kasih karena sudah membuat hari mingguku sangat menyenangkan ". Ucap Feya sambil mundur teratur kebelakang saat tahu Dave malah terus melangkah berjalan mendekat padanya. Dave kenapa ya ? Kok maju terus ? Aku agak takut deh.
 
"Bagaimana caramu berterima kasih ?" Langkah Feya terhenti. Dirinya terpojok pada dinding ruang tamu tepat di saat Dave bertanya padanya.
 
Ini, kenapa malah jadi gini sih ?
"Dave, kamu.... ?" Feya berusaha mengeser tubuhnya ke arah kanan, berharap bisa menjauh dari tubuh atletis Dave yang hanya berjarak beberapa sentimeter lagi darinya.
 
Feya kalah cepat, Dave langsung memerangkap Feya di antara tangan kanan dan dirinya. Dave bergerak lebih cepat, dia langsung bisa menyadari kalau Feya berniat menjauh darinya.
 
 
"Bagaimana caramu berterima kasih padaku ?" Dave mengulang kalimat yang sama.
 
"Apakah sebagai teman harus ada balasan atas kebaikan temannya ?" Feya masih saja berbicara sambil menundukkan matanya.
 
Sialllll...teman katamu. Aku tidak mau menjadi temanmu.
"Kamu mau jadi temanku ?" Dave mengajukan pertanyaan yang terkesan cukup membingungkan bagi Feya.
 
"Ki, kitakan memang berteman. Kan kamu yang bilang pagi tadi ". Sekarang Feya memberanikan diri menatap mata dave. Eh, ada apa dengan Dave ? Kenapa dia terlihat begitu putus asa ? Apa jangan-jangan setelah seharian ini pergi bersamaku, Dave merasa kecewa ? Aku gak layak jadi temannya ?
 
"Bagaimana kalau aku tidak mau berteman denganmu ?" Suara Dave berubah serak.
 
Kan...benar.
"Apa kamu merasa aneh ya punya teman seperti aku ?"Â Akhirnya Dave merasakan perasaan seperti semua orang yang mengaku sebagai temanku. Mereka bosan dan meninggalkan aku. Sudahlah....
 
"Ya ". Jawab Dave menatap dalam mata Feya.
__ADS_1
 
"Sudahku duga ". Feya berusaha mendorong dada Dave. Dia ingin segera menjauh dari Dave, hatinya merasa terluka. Hanya satu jawaban singkat Dave tadi sudah cukup membuat dirinya kecewa.
 
"Ya..aku memang gak mau jadi temanmu. Aku enggak bohong, aku bahkan berani sumpah ". Tangan kiri Dave memegang kuat kedua tangan Feya.
 
"Lepas !" Feya mulai terlihat gelisah. "Dave, lepaskan tanganku !"
 
"Aku tidak akan melepaskanmu ". Dan sekarang jarak antara Dave dan Feya telah hilang. Dengan mata terpejam, Dave berhasil menyatukan bibir tegasnya di bibir tipis Feya. Feya terlalu terkejut, tidak menyangkan akan berakhir seperti ini. Jantungnya berdegub kencang seakan siap melompat keluar menyaksikan adegan manis antara dirinya dan Dave saat ini. Perlahan Feya ikut memejamkan matanya.
 
Merasa tidak ada penolakan dari Feya, Dave yang di awal hanya berkeinginan menempelkan bibirnya pada bibir manis Feya, malah hilang kendali. Dave mendesak Feya membalasnya, bibirnya terlalu rakus mencicipi setiap jengkal madu yang tersuguh di bibir Feya. Rasanya sangat lezat, Dave ingin lagi dan lagi. Meminta lebih tanpa bertanya apakah Feya berkenan atau tidak.
 
Feya terlihat bingung, dia ragu harus membalas seperti apa. Tapi di balik semua itu, sejujurnya perasaan yang tadi sempat menghinggapi hatinya kembali lagi. Percaya atau tidak, Feya menyakini dirinya memang tidak bisa hanya menganggap Dave sebagai teman biasa. Entah kenapa, tapi yang jelas Feya ingin lebih.
 
"Bibirmu manis, aku tidak pernah puas menikmatinya ". Bisik Dave lembut di telinga Feya.
 
Pikiran Feya kacau, nafasnya tersengal. Feya sedang berusaha menarik nafas dalam. Penyetuan kedua bibir tadi telah menghabiskan stok oksigen di paru-parunya.
 
"Dave, kita harus bicara !" Seiring nafasnya yang mulai teratur kembali Feya sudah bisa berpikir jernih.
 
"Ya..kamu benar. Kita harus bicara. Aku memang harus bicara ". Dave masih sempat mencium kening Feya. "Biarkan aku bicara dulu !" Dave sangat serius
 
Tanpa beranjak dari posisi awal mereka, Dave mulai mengungkapkan semua. "Aku tahu apa yang aku lakukan padamu barusan atau kemaren itu adalah salah. Aku mengaku itu sangat salah, tapi jujur aku tidak pernah berencana meminta maaf padamu atas semua yang aku lakukan, karena aku tidak pernah menyesalinya. Aku suka dengan penyatuan bibir kita, manis sekali, bibirmu memang pas berada di bibirku. Aku merasa kecanduan dengan lezatnya bibir ini ". Ibu jari kanan Dave menelusuri setiap inci bibir Feya. "Aku tergoda untuk lebih merasakan hingga kedalamnya ". Dave menempelkan keningnya pada kening Feya.
 
Hembusan nafas Dave menyentuh hidung Feya, Feya merona. Pipinya mendadak menjadi panas. Sejenak perlakuan dan perkataan Dave padanya telah membuat Feya lupa diri.
 
"Aku, aku jatuh cinta padamu ". Ucap Dave penuh keyakinan, begitu jujur.
 
Wajah merona Feya sudah sangat sempurna, sudah mendekati warna tomat saking terbuai dirinya mendengar pernyataan cinta Dave padanya. Ritme jantungnya mulai kacau, hatinya bersorak riang. Seumur hidupnya baru kali ini Feya merasakan betapa indah jatuh cinta. Tersadar, Feya mengakui di dalam hatinya bahwa diam-diam dia pun telah jatuh cinta pada Dave. Entah bagaimana cerita pastinya, namun Feya yakin dirinya memang juga telah jatuh cinta pada Dave. Feya bersiap membuka mulutnya, dia ingin segera menyuarakan isi hatinya pada Dave, Dave harus tahu.
 
"Leya Zaniya Maladi, aku sangat mencintaimu ". Bagai tertusuk duri, Feya langsung tersadar. Saat Dave menyebut nama kembarannya, mau tidak mau Feya langsung mengubur dalam semua rasa suka dihatinya pada Dave. Feya menelan kekecewaan yang belum pernah sesakit ini. Leya, Dave menyatakan cintanya pada Leya. Bukan pada dirinya. Dave sangat-sangat mencintai Leya, kembarannya. Dan bukan pada dirinya.
 
Air mata menetes tanpa di minta di sudut mata Feya, dadanya terlalu sakit. Betapa bodohnya aku, yang ada dalam pikirannya adalah Leya, bukan aku. Yang di cintainya pun adalah Leya. Betapa bodohnya aku berpikir kalau sosok Feya bisa membuat Dave tulus jatuh cinta. Sekuat tenaga Feya mendorong Dave, membuat Dave terheran-heran padanya.
 
"Kenapa, ada apa ?" Dave berusaha mendekati Feya lagi.
 
"Berhenti !" Suara keras Feya setengah berteriak. "Jangan mendekat !"
__ADS_1