TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 160


__ADS_3

BUKAN JEBAKAN (1)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Dave mengecup kening Feya dalam. Kekasih hatinya itu, calon istrinya itu sedang tertidur lelap dalam pelukannya.


 


Perlahan Dave memindahkan kepala Feya ke bantal, meletakkan rambut panjang Feya dengan lembut. Berusaha membuat Feya tidak terjaga.


 


Setelah itu Dave masuk ke kamar mandi Feya. Membersihkan diri dan selanjutnya beranjak ke sofa.


 


Dave mencintai Feya, tetapi berada di satu ranjang bersama Feya belumlah bisa bagi Dave. Dave memuja kekasihnya itu, tetapi dirinya takut pengendalian dirinya akan gagal. Wangi rambut Feya, keharuman tubuh Feya, dan hangatnya hembusan nafas Feya. Dave benar-benar ingin memiliki Feya seutunya.


 


Syukurnya akal pikiran Dave masih bisa di ajak berkerja sama. Dave segera menghindar, memilih sofa yang jelas tidak nyaman untuk mengistirahatkan badannya.


 


“Ah, sama seperti saat itu “, gumam Dave pelan sambil tersenyum. “Aku rasa di kali kedua ini, sofa ini akan lebih bersahabat denganku “. Sebuah tepukan pelan di sofa dan Dave merebahkan badanya.


 


Perlahan menunggu matanya mengalah hingga akhirnya tertidur dalam mimpi indah tentang kebahagiaan sejati bersama Feya.


 


**************


 


“Pa, Mama kepikiran Feya terus “. Pagi ini tuan dan nyonya Maladi sedang duduk santai di teras belakang rumah mereka. Pagi yang cerah, menikmati segelas teh hangat sambil bersenda gurau.


 


“Mama itu terlalu membawa ke hati, padahal Feyanya baik-baik saja “. Papa si kembar mencoba memberi penjelasan.


 


“Papa ini, selalu enggak percaya sama Mama “. Memasang tampang kesal. “Papa juga enggak percaya waktu Mama bilang perasaan Mama gak enak waktu itu. Tahu-tahu apa ?” Mama menatap mata sang suami. “Kita dapat telepon Feya sedang di rawat “.


 


“Jadi mau Mama gimana ?” mulai gelisah karena ingat kejadian naas Feya kala itu.


“Lihat Feya yuk, ke apartemennya !” Memelas.


 


“Ya udah, ayo kita berangkat “. Akhirnya Papanya si kembar ini setuju dengan ide sang istri.


 


**************


 


“Kita masuk aja deh Pa, enggak usah tekan bel “. Usul sang istri begitu mereka telah sampai di depan pintu apartemen Feya. Tidak butuh waktu lama, perjalanan Papa dan Mamanya Feya ini berjalan lancar di lalu lintasnya kota pagi ini. Dan sekarang, mereka telah sampai di apartemen Feya.


 


“Gimana baik Mama aja “. Ucap Sang suami setuju.


 

__ADS_1


Beberapa angka di tekan, pintu ruang tamu terbuka. Dua pasang mata ini sedang memperhatikan sekeliling, sepi. Belum ada tanda sang pemilik rumah sudah bangun. Mungkin mereka terlalu pagi bertandang, jelas Feya masih tidur.


 


“Wah...anak gadis kamu, jam 6 belum bangun sih Pa ?” suara Mama saat menelaah sekeliling ruangan di lantai satu apartemen Feya.


 


“Hari libur Ma, biarkan saja. Lagi pula Feya itu masih konsumsi obat, bisa jadi pengaruh obat mangkanya masih tidur “. Sang Papa membela.


 


“Ya udah..Papa bangunkan Feya. Mama biar lihat isi kukkas anak itu dulu, Mama mau buat sarapan pagi untuk kita “. Suara riang Mama sambil berjalan ke sisi dapur, sementara sang Papa tersenyum dan segera naik ke lantai 2.


 


Papa melangkah santai, menaiki satu persatu anak tangga dengan tangan berpegang pada tepian tangga.


 


Papa sampai di depan pintu kamar Feya, meletakkan telinga ke pintu untuk memastikan kalau memang anak gadisnya belum tidur.


 


“Wah, anak ini..ternyata memang masih tidur “. Papa tertawa pelan sambil membuka pintu.


 


“Astaga.... “, suara keras Papa menyaksikan pemandangan di luar ekspektasinya.


 


“Kau “, Papa terlihat cukup marah.


 


“Selamat pagi tuan “, Dave sosok lelaki yang membuat Papa si kembar ini terkejut marah malah memberi senyum sopan bukan kepalang.


 


 


“Pa “, Feya sepertinya menyadari keberadaan sang Papa, tetapi lupa kalau ada Dave di atas sofanya.


 


“Pagi Papa “. Feya menguap dan duduk bersila.


 


“Papa kok pagi-pagi sudah sampai sini ? Kenapa nggak bilang ? Mama mana Pa ?” tanya Feya sambil mengucek mata.


 


“Apa maksud kalian ini ?” Papa membesarkan bola matany.


 


“Apa ? Kalian siapa ?” Feya malah bingung.


 


“Kau berdiri !” Papa benar-benar ingin menarik kerah baju Dave.


 


“Hah, siapa ?” Feya terkejut luae biasa, langsung turun dari ranjangnya secepat yang dia bisa.


 

__ADS_1


“Pagi sayang “. Suara Dave tanpa beban, senang dan tersenyum secerah mentari pada kekasih hatinya itu. “Apakah tidurmu nyenyak sayang ?” wajah tampan Dave masih mempertahankan senyumnya.


 


“Dave.... ?” Feya melongo.


 


“Iya sayang “. Dave terlihat sangat senang.


 


“Pa....”, Feya menatap sang Papa penuh rasa bersalah.


 


“Papa kecewa padamu Feya “, ucap Papa penuh iba.


 


“Kamu tahukan Papa tidak suka dengan apapun namanya kontak Fisik saat status kalian masih pacaran “. Mama menatap marah pada Feya. “Dan kamu “. Papa mengalihkan wajahnya pada Dave. “Apa yang sudah kamu lakukan pada anak gadis saya ?” suara Papa begitu keras hingga membuat Mama terlonjak kaget dan segera menyusul ke atas.


 


“Ada apa, kenapa marah-marah. Suaramu begitu keras suamiku, ada apa, ha ? Kenapa ?” Mama masuk ke kamar Feya.


 


“Hey....kamu ?” sekarang malah mama terkejut kaget saat telah masuk ke dalam kamar Feya.


 


“Kalian ?” Mama menutup mulutnya dengan kedua tangan.


 


“Su, suamiku ?” Mama menggeleng tidak percaya.


 


“Ma...tunggu dulu. Ini, ini... “. Feya berjalan mendekat ke arah sang Mama. Tetapi entah kenapa, saat Feya berjalan maju, Mama malah berjalan mundur mendekat pada sang Papa.


 


“Ma ?” hati Feya sedih.


“Sayang “. Dave tahu situasi mulai kacau. Kesalahpahaman sedang terjadi. Dave mendekat pada Feya, merangkulnya.


 


“Dave “. Feya menatap Dave sedih. “Papa dan Mama “.


 


“Jangan sedih, aku akan urus semuanya “. Dave mempererat rangkulannya pada Feya.


 


“Selamat pagi nyonya Maladi “. Dave menunduk hormat pada calon ibu mertuanya.


“Telah terjadi kesalahpahaman dan saya mohon, izinkan saya menjelaskan “.


 


“Kami tunggu di bawah !” Papa mengandeng tangan Mama dan segera keluar dari kamar Feya. Meninggalkan Feya yang nyaris gagal menahan air matanya. Feya benar-benar merasa sangat bersalah.


“Pergilah mandi, kita akan temui Papa dan Mamamu !” Dave mencium puncak kepala Feya.


“Kita memang salah, tetapi kita tidak berbuat salah dan kamu, jangan takut ! Akun akan jelaskan semua !”

__ADS_1


 


 


__ADS_2