
TELEPON MASUK (1)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
Feya sudah rapi, tas kerjanya sudah di sandang. Sudah waktunya bagi Feya untuk berangkat apa lagi Nico, sopir pribadinya sudah datang.
 
Feya melangkah keluar dan menyapa Nico, Nico menunduk hormat saat tahu Feya telah berdiri di depannya.
 
"Siang Bu". Nico menjawab sapaan Feya tadi, sambil membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Feya. "Mari Bu, saya bantu". Nico pun mengambil tas kerja Feya dan satu kantong kertas besar dari tangan Feya.
 
"Terima kasih Nico". Feya menyerahkan beban di tangannya kepada Nico, masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang.
 
Sepanjang perjalanan, Feya memilih diam. Hanya kesunyian yang tercipta antara dirinya dan Nico. Feya sedang malas berkomunikasi dengan siapapun, hatinya lagi malas bergulat dengan perasaan sedih yang timbul dari sikap Dave padanya tadi pagi.
 
Ternyata kesunyian itu membuat perjalanan ke kantor terasa cukup lama, hingga akhirnya waktu berlalu dan Feya pun sampai di depan pintu ruang kerjanya.
 
Menik berlari menyambut kedatangan Feya, senyum hangat tersungging di bibir asisten pribadi Feya itu.
 
"Ibu sudah sehat?" Tanya Menik saat Feya berdiri dihadapannya.
 
"Sudah". Jawab Feya membalas senyum Menik. "Maaf ya sudah membuat kamu dan yang lain cemas".
 
"Lain kali kalau saya ajak Ibu buat langsung ke dokter, mau ya". Permohonan Menik pada Feya.
 
"Hahahah, jangan doakan saya sakit lagi dong". Ucap Feya lucu mendapati permohonan Menik padanya.
 
"Enggak Bu, bukan gituh maksud saya". Jawab Menik sambil melambaikan tangan.
 
"Sudah, sudah". Feya mengakhiri perdebatan kecilnya dengan Menik. Tentu saja dia sangat tahu maksud kata-kata Menik tadi, Menik khawatir pada dirinya. Hanya saja, Feya sedang malas melanjutkan membahas tentang sakitnya semalam. Kenapa? Karena hatinya sedang tidak baik siang ini.
 
"Itu di tangan Nico ada beberapa kotak bubur salmon, ambillah bagikan pada yang lain ya!" Perintah Feya pada Menik sambil menunjuk tangan kanan Nico.
 
"Wahhhh, senengnya. Bubut samlon ya Bu, pasti enak". Menik pun terlihat kegirangan.
 
Di awal sih enak, tapi setelah itu.....
 
"Cobalah sendiri". Hanya dua kata itu yang diucapkan Feya pada Menik, sambil dirinya berlalu masuk ke ruang kerjanya.
 
Menik menerima kantong kertas besar dari tangan Nico, memberi Nico satu kotak dan membagikan kotak-kotak lain untuk semua rekan-rekan yang ada di kantor pada siang itu. Mungkin karena banyak staf kantor yang sedang kelapangan, jadi kotak berisi bubur yang bawa Feya masih bersisa satu.
 
"Buat siapa lagi ya?" Menik bertanya pada diri sendiri.
__ADS_1
 
"Buat Bu Feya aja kali ya? Mana tau si Ibu kepengen nanti". Menik pun menjawab pertanyaannya sendiri.
 
Selesai dengan pembagian bubur, Menik pun masuk keruang kerja Feya. Ada beberapa penjelasan tentang semua aktivitas kantor yang telah dihandelnya pagi tadi, di saat Feya masih beristirahat di rumah.
 
"Permisi Bu, ada beberapa hal yang harus saya sampaikan". Menik sudah berdiri di depan meja kerja Feya.
 
"Iya, bagaimana Menik? Coba jelaskan!" Feya pun menunggu penjelasan dari Menik.
 
"Bu, pagi tadi email dari Desa X masuk. Sepertinya mereka telah selesai mengali semua sisa artefak di pinggir Sungai Merah. Foto lengkap sudah kita dapat dan sudah saya serahkan ke Divisi Penelitian. Kemudian, para Arkeolog kita tadi minta izin untuk turun kelapangan Bu. Dan saya memberi izin atas nama Ibu". Menik memberi penjelasan pertamannya.
 
"Bagus, saya sangat menghargai bantuanmu". Ucap Feya tulus pada Menik. "Kemudian, masih ada lagi?"
 
"Masih Bu". Jawab Menik cepat. "Tadi pihak kementerian Pariwisata meminta solusi pada kita tentang situs kita yang berada di kawasan Hutan Taman kota. Pagar pembatasnya rusak Bu, sepertinya ulah tangan jahil. Jadi mereka minta pendapat terbaik kita untuk masalah itu".
 
"Jawabanmu?" Tanya Feya singkat.
 
"Saya bilang, Ibu sedang di lapangan. Siang baru kembali, jadi siang Ibu akan memberi jawaban pada mereka. Hehehehe". Terdengar suara cenge-gesan Menik di akhir jawabannya.
 
"Hahaha", tawa Feya pelan. "Kamu boong ya?" Tunjuk Feya ke arah Menik.
 
 
"Hahaha, iya, iya..boleh. Saya izinkan". Feya kembali tertawa.
 
"Baiklah Menik, terima kasih untuk semua bantuanmu. Sekarang biar saya yang menyelesaikan semua". Kembali ucapan tulus Feya pada si asisten pribadinya. "Sekarang nikmatilah bubur salmon itu. Nanti kalau saya perlu kamu akan saya panggil".
 
"Oo, iya Bu. Bubur buat Ibu saya letakkan di pantry. Nanti kalau Ibu mau bisa panggil saya".
 
"Loh, kenapa ada buat saya? Itu buat kamu dan yang lain".
 
"Sudah Bu, kami sudah dapat semua".
 
"Ya sudahlah, terserah kamu saja". Feya malas membahas masalah tersebut.
 
 
**********
 
"Mari tuan". Tomo membukakan pintu mobil untuk Dave, mempersilahkan dirinya masuk.
 
Dave hanya diam, tanpa suara hanya diam dan duduk. Pikirannya melayang entah kemana, matanya sibuk memandang ke arah luar jendela memperhatikan gedung-gedung tinggi berjalan jauh meninggalkan dirinya. Dave bersidekap, mengalihkan pandangannya dari luar jendela ke gagang pintu mobil bagian dalam.
__ADS_1
 
Pikiran Dave membawanya kembali ke peristiwa semalam, Feya dengan mulut yang di tutup oleh tangannya sendiri, meminta Dave untuk menghentikan mobil. Berusaha membuka paksa pintu mobil karena sudah kepayahan menahan gejolak perutnya yang mendesak ingin dikeluarkan.
 
Semua bayangan kejadian semalam tergambar jelas di pelupuk matanya. Satu persatu menampilkan gambar wajah cantik Leya, ralat Feya. Tetapi, kan Dave tahunya memang Feya bernama Leya. Dan lagi, rasa khawatir memenuhi salah satu sudut terdalam hati Dave.
 
"Kita singgah sebentar ke apartemen Leya!" Dave memberi perintah pada Tomo.
 
Tadi pagi terlihat kesal saat meninggalkan apartemen nona Leya, gara-gara tau nona itu sudah bertunangan. Sekarang kenapa mau ke sana lagi ya?Â
 
"Bagaimana tuan?" Tomo merasa binggung, seakan salah dengar.
 
"Keapartemen Leya sebentar. Aku ingin melihat kondisinya!" Terdengar Dave mengulangi perintahnya, lengkap dengan alasan kenapa harus ke apartemen Leya.
 
Aneh....
 
"Baik tuan". Tomo hanya menurut saja keinginan sang tuan.
 
Dan akhirnya mereka pun sampai di depan pintu apartemen Leya.
 
Sekali, Dave menekan bel dan menunggu Feya membukakan pintu untuknya. Waktu berlalu dan pintu tidak juga di buka.
 
Kali kedua, Dave kembali menekan bel dan menunggu lagi pintu apartemen itu di buka. Waktu berlalu dan akhirnya tetap tidak ada yang membukakan pintu untuknya.
 
Kenapa tidak di buka? Dave penasaran.
 
Nekat, Dave memilih menekan kode pasword apartemen Leya. Dia masih sangat ingat, berapa angka kombinasi untuk membuka pintu itu, toh kemaren setelah Feya membisikkan kombinasi kuncinya, dialah orang yang membuka pintu tersebut. Jadi wajar saja dia bisa tahu kode rahasia untuk bisa masuk ke dalam apartemen tersebut.
 
"Le..Leya". Dave mulai memanggil Leya setelah dia berhasil masuk.
 
"Sepertinya tidak ada tuan". Tomo menarik kesimpulan dari sunyinya apartemen tersebut.
 
"Le...". Dave masih masih berusaha memanggil Leya.
 
Tidak mendapat jawaban, Dave pun menuju lantai dua, masuk ke kamar Leya.
 
"Kemana dia? Kenapa tidak ada?" Cemas, Dave segera mencari nama Leya dalam kontak teleponnya.
 
 
 
 
__ADS_1