TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 158


__ADS_3

KEJUTAN


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Benar kok, itu gagang pintu kamar memang bergerak. Batin Feya sangat yakin.


 


Astaga, berarti ada orang di dalam rumah ini. Sekarang batin Feya menciut takut. Siapa ? Rampokkah atau, atau penjahatkah ? Ba, bagaimana ini ?


 


Feya memperbesar bola matanya menatap ke arah pintu kamar. Lagi, Feya menemukan gerakan pelan di gagang pintu.


 


“Ba, bagaimana ini ?” wajah Feya pias, tangannya mulai dingin. “Si, siapapun tolong aku !” suara Feya pelan dan terbata-bata. Aura takut mulai menguasai hatinya.


 


Hubungi seseorang Feya ! Perintah hatinya.


Ta, tapi siapa ? Batin Feya malah balik bertanya.


 


Belum selesai perdebatan batinya, Feya mendapati gagang pintu kamarnya sekarang turun ke bawah pertanda siapapun di balik pintu itu serius ingin membuka pintu kamar, yang bodohnya tidak di kunci Feya. Kebiasaan seorang Feya, karena merasa tinggal sendiri. Aman tanpa sesiapa, maka dirinya memilih menutup pintu rapat saja.


 


Feya segera merebahkan dirinya di ranjang, menarik selimut hingga menutupi kepala. Feya gemetar takut, sibuk berdoa hingga lupa menghubungi seseorang untuk menyelamatkan dirinya.


 


Feya melebarkan telinganya, berusaha menduga apa yang akan terjadi berikitnya. Bunyi pintu terbuka, jantung Feya berdegub keras. Suara ribut detak jantungnya membuat Feya mulai lemas. Keringat dingin membasahi pipinya, Feya gemetar cemas luar biasa.


 


Kemudian, Feya mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah ranjang, Feya memejamkan matanya, menutup kepalanya dengan bantal dan menggulung diri di dalam selimut tebal. Tuhan tolong aku..aku mohon...tolong aku. Doa Feya sepenuh jiwa di dalam hati.


Tiba-tiba Feya berhenti bernafas.


Dug, dug, dug...suara ritme jantungnya yang sangat takut. Feya menyadari sosok orang yang berhasil membuka pintu kamarnya, sekarang telah terduduk di sisi ranjangnya.


 


Ada gerakan tangan di atas selimut bagian kepala Feya. Sekuat tenaga Feya menahan selimut penutup dirinya.


“Ja, jangan macam-macam “, suara gugup Feya. “Saya sudah punya su, suami. Ambil saja yang kamu mau sebelum suami saya datang !”


 


Feya kemudian merasakan ada usaha jemari yang ingin melepaskan selimut penggulung dirinya.


 


“Daveeeeeeeee.....tolong !” Teriak Feya sepenuh jiwa.


 


“Daveeee...”, teriak Feya semakin keras saat merasakan cengkraman seseorang di atas selimut yang menutupi dirinya. Entah kenapa, di balik rasa takutnya itu Feya refleks memanggil nama Dave.

__ADS_1


 


“Pergi...jangan ganggu aku ! Suamiku akan segera datang. Dave akan menghajarmu, pergi !” usaha Feya menakuti.


 


Feya memejamkan matanya, membiarkan rambut panjangnya menutupi wajah yang pucat penuh takut, selimut di atas kepalanya telah terbuka hingga ke badan. Feya bisa merasakan ada tangan kekar sedang menyibak rambutnya.


 


Nafas Feya cepat, dirinya sangat ingin menangis.


 


“Sayang...ini aku “. Sebuah suara yang menurut Feya hanya khayalan atas ketakutannya.


 


“Buka matamu !” Feya tahu kalau rambut yang menutupi wajahnya sudah berada di posisi belakang kepala.


 


“Feya “, suara bariton menenangkan yang sangat di rindukannya.


 


Mimpi, itu penjahat. Nasehat hati kecil Feya.


 


“Bukan mimpi, aku nyata kok !” seakan bisa membaca isi kepala Feya.


 


 


Dengan mata terpejam, Feya meringsut dirinya sendiri mundur ke belakang ranjang. Berencana membuka mata, tetapi harus pasti menjaga jarak aman dari suara lelaki yang terdengar sangat tidak asing dalam hidupnya.


 


Feya perlahan membuka mata, ada sosok tubuh atletis yang nampak duduk di atas ranjangnya. Feya berusaha menelan ludah, cemas dan penasaran.


 


Mata Feya bergerak perlahan, naik ke arah atas. Mencari tahu penampakan pasti wajah lelaki yang terlihat cukup percaya diri duduk di dalam kamarnya, di atas ranjangnya.


 


“Dave ?” suara tanya Feya tidak percaya. Feya mengucek mata dua kali, dan kembali menatap arah yang sama, memperhatikan setiap inci wajah itu.


 


“Daveeee “. Suara riang Feya. Langsung bergerak cepat ke arah Dave, menghambur masuk dalam pelukan lelaki yang sangat di rindunya, sangat di cintanya.


 


“Dave “. Ada suara isak tangis.


 


“Sayang, maaf ya aku sudah buat kamu takut “. Dave mengecup dalam puncak kepala Feya.


 

__ADS_1


“Aku sudah bunyikan bel 3 kali. Tetapi gak ada sahutan. Aku pikir kamu enggak di rumah. Trus aku hubungin Hadi, ternyata kembaranmu bilang kami sudah tidak di rumah orang tua kalian. Kamu sudah kembali ke sini. Karena itu, aku mau ngecek. Mungkin kamu sudah tidur, jadi enggak dengar aku datang “. Dave mengusap-usap punggung Feya.


 


“Tapi siapa yang sangka, ternyata istriku ini sedang menungguku ya “. Dave tersenyum lebar.


 


“Jangan sembarangan bicara “, ucap Feya masih menangis. “Apa kamu tahu, aku sangat takut. Aku bisa jantungan tahu “.


 


“Maaf sayang.... “, ucap Dave lembut, membuat hati Feya bergetar. Feya sangat senang, kata sayang yang Dave ucapkan terasa manis bagi dirinya.


 


“Jangan marah ya. Aku salah “, Dave membujuk Feya.


 


“Sekarang biarkan aku melihat wajah yang sangat aku rindukan ini “. Dave membuat jarak di antara dirinya dan Feya. Mengangkat dagu Feya, agar menatap matanya. Pelan Dave menghapus sisa air mata di pipi Feya, begitu pelan penuh kasih sayang.


 


“Aku kangen kamu Fe “. Dave menatap mata biru gelap Feya silih berganti.


 


“Maaf, aku enggak bisa konsisten untuk memenuhi janji padamu. Aku mengaku kalah. Baru 3 hari dan aku sangat merindukanmu “. Sebuah pengakuan jujur yang jelas terpancar di mata Dave, dan Feya tahu itu.


 


“Aku sangat mencintai kamu, Feya. Hidup tanpa ada kamu membuat aku nyaris linglung. Semua salah, semua tidak ada yang sempurna. Aku benar-benar butuh cinta kamu. Jangan tinggalin aku lagi ya, tinggalllah di sisiku dan jadilah istri hebatku !” Dave tersenyum pada Feya.


 


Feya yang tadinya sudah berhenti menangis, mendadak gagal memcegah air matanya jatuh. Air mata itu lepas kendali begitu saja. Jatuh satu persatu tiada henti. Feya terharu, hatinya tersentuh. Pernyataan cinta Dave, cara Dave memuja dirinya. Feya gagal meredakan tangisnya, suaranya hilang. Feya benar-benar terbawa suasana.


 


“Jangan menangis lagi, aku ada di sini dan aku sangat mencintai kamu “. Dave meletakkan kedua tangannya di pipi Feya. Mendekatkan wajah Feya ke keningnya. Mengecup pelan mata kanan Feya. “Aku mencintaimu, Feya “.


 


Kemudian, mengecup pelan mata kiri Feya. “Aku sangat mencintai kamu, apa adanya kamu “.


 


Selanjutnya beralih ke puncak hidung Feya, memberi kecupan lembut di sana. “Aku hanya mau kamu, Fe !”


 


Lalu berhenti di depan bibir seksi Feya. “Aku tergila-gila pada seluruh yang ada di dirimu. Segala ke kurangan kamu dan ke lebihan kamu. Kamu sempurna di mataku dan kamu terbaik untuk aku. Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku lagi. Aku mohon, menikahlah denganku !” sebuah penyatuan bibir terjadi, Dave menyatukan bibir tegasnya di bibir lembut Feya.


 


Sebuah penyatuan yang sangat manis, bukan menuntut, bukan mendominasi. Dave hanya ingin membuat hati Feya mengerti, Dave berharap Feya bisa menyelami relung jiwanya. Setiap sudut sanubarinya yang telah terpatri nama Feya.


 


Dave begitu sabar, membuat Feya terbuai. Dengan mata terpejam Feya meletakkan tangannya bergantung di belakang leher Dave. Entah kenapa Feya begitu yakin, serta merta semua keraguannya menguap entah ke mana. Feya membalas ciuman Dave dengan versi dirinya, Feya ingin Dave menyelami seberapa besar cintanya untuk lelaki tampan itu


 

__ADS_1


 


__ADS_2