
KEDATANGAN TOMO
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
γ
"Bagaimana mungkin kamu bisa memasak?" Tanya Feya penuh keheranan kepada Dave.
γ
Tampan dan bertubuh atletis, bisa masak? Luar biasa anak dewa ini. Ehh, titisan dewa.
γ
"Ada yang salah ya kalau aku bisa masak?" Sekarang malah Dave yang merasa heran dengan isi pertanyaan Feya.
γ
"Yaaaa, bukan salah. Sama sekali enggak salah". Jawab Feya sambil melambaikan tangannya di depan Dave. "Justru aku tuh kagum Dave, kamu itu tampan, keren dan bisa masak. Jadi aku tuh rada gak percaya, kamu perfect banget". Puji Feya sambil mengacungkan jempol kanannya.
γ
"Jadiii, menurut kamu aku tampan". Dave menatap Feya dengan senyum terbaiknya. "Iya?"
γ
Aduhhhh, tadi aku gomong apa coba? Bodohnya aku.
γ
Feya diam, mukanya berubah warna menjadi pink, seakan-akan telah diwarnai oleh blasshon terbaik dari para make up artis.
γ
"Hahahaha". Dave tertawa mendapati sikap diam Feya lengkap dengan rona diwajahnya. "Kok diam?" Tanya Dave pada Feya sambil memberikannya segelas susu yang di awal tadi terasa hangat.
γ
"Emmm, enggak". Feya menerima gelas tersebut, meneguk pelan isinya.
γ
"Masih mau?" Tanya Dave kemudian saat memperhatikan isi piring Feya telah habis.
γ
"Tidak terima kasih, aku sudah kenyang". Dan Feya melanjutkan meminum isi gelas ditangannya.
γ
"Terima kasih banyak, kamu sudah menolong aku. Membawaku ke Rumah Sakit dan merawatku, bahkan membuatkan aku sarapan". Ucap Feya tulus kepada Dave.
γ
"Sama-sama Fe, jangan sungkan. Aku sama sekali enggak repot kok. Aku senang bisa membantu kamu. Sama seperti waktu pertama kita bertemu". Ucap Dave sambil mencoba menikmati kopi hitamnya yang sudah mulai dingin.
γ
__ADS_1
"Pertama? Maksud kamu? Bukannya waktu kamu nolong aku, itu kali pertama kita bertemu?" Feya merasa heran sendiri.
γ
"Ingatan kamu payah". Canda Dave sambil memperbaiki rambu Feya kembali kebelakang telinganya. Tanpa sengaja, jari Dave menyentuh pipi halus Feya.
γ
Deg, deg, deg, jantung Feya berdebar keras, dia sampai bisa mendengar ributnya suara detak jantungnya sendiri saat ini. Dan lagi, wajah Feya bersemu merah.
γ
Dave memperhatikan itu, kalau di awal dia mulai merasa kagum pada Feya, sekarang dia mulai merasa ada yang lain, entahlah apa nama pas untuk perasaan yang hadir dari melihat wajah cantik Feya yang bersemu merah. Yang jelas dia suka, menjadi lelaki penyebab hal itu terjadi.
γ
"Pertama kita bertemu diparkiran supermarket, aku membantumu memegang belanjaanmu. Waktu itu handphonemu terus berbunyi, kamu kesulitan menerima panggilan dengan dua kantong belanjaan". Dave mencoba mengingatkan Feya.
γ
"Hahhhh? Itu kamu?" Feya melotot tidak percaya.
γ
"Segampang itukah aku dilupakan?" Dave heran melihat Feya.
γ
"Bukan, aku bukan lupa atas pertolonganmu. Tapi Dave, aku memang enggak tau itu kamu, waktu itu kamu berdiri di tempat yang agak gelap, jadi aku gak tau persis wajahmu". Jelas Feya pada Dave.
γ
γ
"Setelah itu, kitaΒ berjumpa saat kamu nolong aku semalam?" Tanya Feya selanjutnya
γ
"Iya dan tidak". Jawab Dave asal
γ
"Artinya?" Feya terlihat sangat penasaran.
γ
"Kali kedua, saat kamu enggak sengaja menyengol bahuku, waktu kamu masuk ke restoran kemaren". Dave pun meletakkan cangkir kopinya yang telah habis.
γ
"I-itu kamu ya?" Maaf ya Dave. Aku enggak sengaja. Aku buru-buru". Jawab Feya penuh penyesalan.
γ
"Kenapa kamu sampai buru-buru? Ada janjian?" Tanya Dave sambil menatap Feya.
γ
__ADS_1
"Iya, aku janjian sama orang dan takutnya dia sudah menunggu lama". Jelas Feya kemudian.
γ
"Siapa?" Tanya Dave santai sambil tetap menatap mata biru gelap Feya.
γ
"Hadi". Jawab Feya singkat.
γ
"Siapa dia?" Dave masih terus bertanya.
γ
"Tunangan Leya". Feya menjawab jujur.
γ
Sikap Dave langsung berubah, sikap santai, bersahabat dan penuh keceriaan di awal bincang-bincangnya bersama Feya langsung berubah. Dave mendadak kaku, memperbaiki sikap duduknya, dia merasa kesal sendiri.
γ
Tunangan? Jadi dia sudah berpunya, milik lelaki lain. Astaga, apa yang sudah aku lakukan, tanpa bertanya, setelah menolongnya malah tidur di sini. Habislah aku, bisa kacau ini. Bisa di kira mau berbuat jahat aku sama tunangannya.
γ
Bel berbunyi, suasana kaku yang mendadak tercipta antara Dave dan Feya langsung teralihkan.
γ
"Itu pasti Tomo". Ucap Dave tanpa menatap Feya.
γ
Loh, kokΒ Dave mendadak jadi berubah. Aku salah apa coba?
γ
"Aku balik, habiskan susu itu. Lalu minum obatmu, banyak minum air putih, tapi yang hangat. Gituh kata dokter semalam". Dave mulai berdiri. "Nanti makan siangmu pake bubur salmon, sudah aku buatkan. Kamu seharian ini masih harus makan yang lunak-lunak dulu dan tidak boleh cabe". Begitu banyak penjelasan Dave, tetapi tidak sedetik pun dia menatap Feya.
γ
"I-iya, terima kasih banyak. Maaf hanya menyusahkan saja". Ucap Feya pelan.
γ
Dave berlalu dari hadapan Feya, tanpa mentapnya yang bingung dengan perubahan mendadak Dave. Rasanya tadi Dave adalah pribadi yang menyenangkan, bahkan sukses membuat dia merona. Dan sepersekian detik kemudian Dave berubah, kaku dan menjaga jarak.
γ
Feya tidak mengerti, hatinya penasaran tetapi mulutnya terlalu takut mencari tahu. Dia hanya diam melihat Dave telah hilang dari hadapannya, telah meninggalkan apartemen Leya.
γ
γ
__ADS_1
γ
γ