TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 24


__ADS_3

DUA HARI LAGI


 


❤❤❤❤❤❤


 


Feya lagi dan lagi berusaha menarik nafas panjang, menghembuskannya lagi, menarik nafas lagi. Berulang dan berulang Feya melakukan hal itu, saat ini Feya perlu banyak sekali asupan oksigen untuk membuat otaknya bisa terus bekerja.


 


"Fe", suara Leya memanggil Feya yang sedari tadi tidak juga beranjak dari posisi awalnya. Berdiri di depan jendela besar di belakang meja kerjanya. Entah apa yang di tatap oleh Feya, tetapi yang jelas untuk saat ini Feya lebih menyukai menatap keluar jendela melihat apa pun itu pemandangan yang ada di luar sana, dari pada membalikkan wajahnya dan menatap Leya.


 


Ah, aku harus apa sekarang?


 


"Feya", kembali Leya memanggil Feya. "Fe, aku mohon. Kamukan sudah setuju dengan permainan peran kita. Kamu dah janji Fe. Semua sudah aku siapin, dua hari lagi aku akan berangkat ke Negara H. Fe, kamu kok gini sama aku?" Suara Leya mulai terdengar serak, sepertinya Leya sedang menahan gejolak emosinya yang merasa sangat sedih, agar tidak menangis.


 


Feya masih bertahan menatap ke arah luar jendela, berpura-pura fokus dengan apa yang sedang dilihatnya. Berusaha mencari celah agar tidak perlu menjawab Leya yang jelas-jelas sedang berusaha menahan tangisnya saat ini.


 


"Fe, hiks..hikss..hiksss", ternyata pertahan diri Leya runtuh juga, usaha kerasnya untuk menahan butir hangat di sudut matanya malah jatuh tanpa bisa dihentikannya. Merasa diacuhkan Feya, merasa terjebak dengan persetujuan Feya sebelumnya yang bersedia bermain peran bersamanya. Leya menutup mukanya dengan ke dua tangan, berusaha meredam tangis kecewa yang sedari tadi di tahannya.


 


"Kenapa menangis", ujar Feya tanpa mengalihkan wajahnya dari apa pun yang di lihatnya di luar jendela.


 


"Ba, ba, bagaimana aku nggak nangis, kamu kenapa diamin aku, padahal kamu udah janji". Ujar Leya di sela-sela tangisannya.


 


"Aku janji buat bermain peran, tetapi bukan menjalankan hidup sebagai kamu, aku adalah aku Fe. Aku mana bisa tinggal di apartemen kamu, memakai semua pakaianmu, berlengak-lenggok dengan sepatu-sepatumu, kesana kemari dengan aroma parfummu. Semua bukan kebiasaanku Le, kamu tahukan dari kecil kita hidup dengan dunia kita masing-masing. Aku suka menjadi diriku Le". Ujar Feya geram, tanpa menatap Leya.

__ADS_1


 


"Iya, benar. Aku tahu Fe, tapi..tapi aku bukan mau merubah kamu. Aku Fe, aku hanya memintamu menjadi seorang Leya pada saat-saat tertentu. Saat bersama Hadi saja, itu saja Fe. Kamu ngertikan? Mana mungkin saat bermain peran nanti, kamu jalan sama Hadi dengan tampilan dirimu sendiri, kamu bersama Hadi tanpa memakai semua identitasku. Kita pasti kehuan Fe, lantas apa gunanya permainan ini?" Leya mulai cemas, bagaimana caranya menyakinkan Feya.


 


Ya..semua mudah bagimu. Coba kalau kita balikkan situasi. Kamu jadi aku selama dua minggu, memakai semua identitasku seperti bahasamu tadi, heh..aku yakin kamu pun juga tidak akan sanggup. Sekarang enak saja kamu bilang hanya. Leya, Leya.


 


"Jadi aku harus gimana sekarang Fe?". Leya sudah sampai pada titik tidak tahu lagi bagaimana cara terbaik membujuk Feya.


 


"Entahlah Le, aku yakin tidak akan sanggup menjadi kamu. Maaf Le, mari kita cari cara lain saja untuk membuat kamu bisa ikut kelas memasak". Ucap Feya sambil membalikkan badannya.


 


Tetapi saat badannya berbalik, Feya terhenyuh melihat Leya yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Terlihat oleh Feya bagaimana Leya tengelam dalam rasa sedih, sesekali terdengar suara isak tangis Leya disertai tarikan nafasnya yang mulai tersumbat karena cairan di hidungnya.


 


Pelan Feya berjalan kembali ke sofa tempat awal dia duduk bersama Leya. Feya ingin menyentuh rambut Leya, membelainya dan menarik Leya ke dalam pelukannya, ingin menenangkan Leya dan membuatnya berhenti menangis. Tetapi hati kecilnya melarang, melarang Feya jangan sampai lemah dan terjebak dalam keinginan Leya. Lihat sekarang, begitu dia mengiyakan, maka semua langsung kacau. Kehidupannya pasti akan kacau karena harus berperan sebagai Leya. Peran itu harus dijalankan dengan totalitas penuh, hingga harus memakai semua atribut yang biasa dikenakan Leya. Tujuannya agar Feya sukses menjalankan perannya dihadapan Hadi, inilah yang membuat Feya sangat berat. Dia dituntut bermain sempurna untuk membuat Hadi yakin, Hadi yang beberapa bulan lagi akan menjadi kakak iparnya setelah menikahi Leya.


 


 


"Apa sebenarnya yang kamu mau dari aku Le?" Suara Feya lembut tanpa ada rasa kesal yang tadi dirasakannya.


 


Leya semakin terguncang dalam pelukan Feya, isak tangisnya semakin bertambah. Hingga membuat Leya sesegukan berkali-kali, tiba-tiba Leya kehilangam suaranya. Dia hanya terus menangis dan menagis di dalam pelukan kembarannya.


 


"Sudah, sudah Le. Sudah, tenangkan dirimu. Berapa lama lagi kamu akan menangis". Pinta Feya pada Leya, "hey, lihat aku. Lihat aku, ayolah". Feya berusaha mengangkat wajah Leya agar menatap padanya.


 


"Fe, hiks..hikss..hiksss". Hanya itu yang terdengar dari bibir Leya saat matanya menatap mata Feya.

__ADS_1


 


"Astaga Le, sudah. Berhentilah menangis , lihat matamu sudah sembab. Wajahmu pun sudah memerah, sudah. Berhentilah Le". Feya sangat iba melihat tampilan wajah dan mata Leya saat ini.


 


"A..a..aku, aku, hiks. Sudah, sudah putus asa Fe. Sekarang aku udah gak tau harus bagaimana lagi, hiksss". Leya masih belum bisa menghentikan air matanya walaupun matanya sudah sembab.


 


"Hanya itukah caranya Le?" Tanya Feya berharap masih ada solusi lain agar bisa bermain peran dengan baik.


 


Leya hanya menganggukan kepalanya, tidak mampu berkata-kata lagi. Semua sudah usai, itu yang dirasakan Leya. Dia sudah putus asa mendapati Feya yang jelas-jelas menolak menjalankan permainan peran secara maksimal.


 


Inilah akhir segalanya, semua sampai di sini. Seumur hidup pernikahanku, aku tidak akan pernah bisa membuatkan sarapan untuk Hadi, tidak akan pernah bisa membuatkan cemilan untuk anak-anakku. Ya Tuhan, kenapa setragis ini hidupku.


 


"Berdoalah Le, aku tidak akan mengacaukan semua ini, berdoalah sebanyak yang kamu bisa!" Ujar Feya sambil mengecup sayang kening kembarannya. "Akanku mainkan permainan ini sebaik yang aku bisa, selebihnya aku tidak bisa menjanjikan kalau tidak akan timbul kekacawan apa pun. Jadi berdoalah Le, berdoa sepenuh hati memohon pada Tuhan!" Ujar Feya sambil menghapus air mata yang telah membasahi wajah cantik Leya.


 


Leya menganggukan kepalanya patuh, diam dan tidak bersuara sepertinya dia belum mencerna arti kata-kata Feya barusan. Lama, Leya hanya sibuk mengangguk-anggukan kepalanya. Hingga tiba-tiba dia tersadar apa yang telah diutarakan Feya.


 


"Ka..kamu mau bantu aku, serius Fe?" Leya melepaskan diri dari pelukan feya. "Janji Fe, berjanjilah atas nama Papa dan Mama. Fe, jangan bohongi aku". Leya mengajukan permohonan pada Feya.


 


"Ya", jawaban singkat Feya.


 


Aku berjanji Le, tetapi apa pun takdir Tuhan nanti, bersiap-siaplah. Aku tidak bisa menjanjikan semua akan berjalan mulus sepeti hayalanmu. Kita bukan anak-anak lagi, permainan ini bukanlah hal mudah. Berdoalah Le, semoga tidak pernah ada penyesalan bagi kamu dan bagi aku.


 

__ADS_1


 


__ADS_2