
TUNANGAN
🌹🌹🌹🌹🌹
 
Feya berhenti sesaat, berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat setengah berlari menuruni anak tangga. Capek..
 
"Ah, menghindar dari dosa itu sangat melelahkan deh". Feya berusaha membuat tarikan nafasnya kembali normal.
 
"Tapi kenapa juga dosa? Kan aku, bukan aku yang memulai semua". Feya berusaha membela diri sendiri.
 
Mulai enggak, partisipasi iya Fe, jelas-jelas sedang bermain peran. Tau-tau? Ahhhhhh, ini semua gara-gara Leya. Hikssss
 
Entah keberuntungan, entah kesialan. Nama orang yang tengah dirutukinya malah muncul di layar handphonenya sekarang.
 
Aduh Le, kok nelepon sekarang sih? Feya sedang menimbang, mengangkat telepon masuk dari Leya atau menolaknya.
 
"Siapa beb?" Hadi telah berdiri dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya sambil melirik benda kecil yang mengeluarkan suara ribut di tangan Feya.
 
"Oh, ini". Feya terlihat kaget. Kapan datangnya? Kok udah berdiri aja di sini?Â
 
"Siapa?" Hadi makin di buat penasaran.
 
"Ini beb, Fe-Feya". Feya segera berpikir cepat, membuat karangan cerita paling masuk akal baru.
 
"Feya?" Hadi bertanya heran.
 
"He-eh". Jawab Feya cepat.
 
"Angkat beb, mau apa manusia langka itu. Hahaha?" Tanya Hadi sambil tertawa lucu.
 
Apa? Aku manusia langka. Kurang ajar kau kakak ipar. Belum menikahi kembaranku saja sudah seenaknya begini menertawakanku. Feya terlihat tidak senang.
 
"Beb, angkat!" Hadi kembali mengingatkan Feya yang terlihat kesal. "Nanti dibiarkan kelamaan jadi mumi dia, Hahahaha". Hadi kembali tertawa dengan ledekannya untuk Feya.
 
Mumi, mumi...kamu tuh. Iihhhhhhhh, dasar manusia jelekkkkk, laki-laki aneh, cih. Feya sedang menyusun kata-kata terbaik yang bisa dia gunakan untuk memaki Hadi di dalam hatinya.
 
"Ya Hallo". Ketus, Feya mengangkat telepon Leya.
 
"Ma-masih marah?" Leya bisa merasakan ada nada tidak suka dari intonasi suara kembarannya.
 
"Enggakkk", jawab Feya berusaha terdengar biasa saja.
 
"Aku ganggu?" Leya sekarang mulai ragu untuk terus berbicara dengan Feya.
 
"Enggak kok, aku cuma lagi jalan-jalan sama Hadi". Jawab Feya acuh.
 
__ADS_1
"Hadi bawa kamu keluar, kemana?" Leya terdengar senang.
 
"Keliling-keliling aja, sekalian nemenin Hadi lihat kawasan tempat proyek barunya". Feya masih menjawab acuh pada Leya.
 
"Apa aku bilang, Hadi itu baik Fe". Leya terdengar memuji sang pujaan hati.
 
"Iya, baik banget". Saking baiknya aku di bilang mumi. "Kamu sendiri lagi sibuk apa?" Feya berusaha mengalihkan pembicaraan dari Hadi. Sekarang, dia masih kesal, masih belum niat untuk mendengar nama tunangan Leya yang tadi terlihat senang menertawakannya.
 
"Biasa..aku masih sibuk dengan appatizer. Beberapa hari ini masih materi appatizer Fe. Sekarang masih pembelajaran itu dulu. Eh, iya nanti itu setiap kami di beri kesempatan buat request mau belajar buat menu pembuka apa. Nah, nanti di vote, suara terbanyak mana yang akan di pilih, dan kami akan belajar buat itu". Leya terdengar sangat senang menceritakan kegiatannya di Negara H.
 
"Sukurlah kalau begitu, semoga kamu bisa menyelesaikan semuanya di sana dengan baik". Feya mengingatkan Leya.
 
"Pasti, pasti Fe. Aku enggak akan menyia-yiakan semua kesempatan yang kamu berikan". Jawab Leya sungguh-sungguh. "Masih beberapa hari lagi Fe, tolong aku ya. Aku mohon". Leya terdengar memelas.
 
"Iya..iya..aku tolongin kok. Akukan udah janji". Jawab Feya pelan.
 
"Fe", suara Leya mulai serak.
 
"Hey, kenapa?" Feya merasa ada yang salah.
 
"Maafin aku ya, karena aku kamu hampir celaka waktu itu". Leya benar-benar menyesal.
 
"Sudahlah, kamu fokus aja di situ. Jangan buat semua ini sia-sia". Feya menarik nafas panjang.
 
 
"Udah". Ternyata Hadi masih berdiri di dekat Feya.
 
Udah, terus kamu masih mau ledek aku manusia langka, mumi? Isssshhhh.
 
"Udah sayang". Jawab Feya singkat.
 
"Kenapa beb?" Tanya Hadi serius.
 
Eh, bisa juga ya gomong baik-baik. Kirain cuma bisa ledekin aku.
 
"Biasa sayang, lama enggak ketemu. Kangen". Jawab Feya sambil menyimpan kembali teleponnya.
 
"Kamu sih beb". Hadi terlihat tidak senang.
 
"Kenapa? Aku kenapa?" Feya tidak mengerti
 
"Kan udah aku bilang, jodohkan Feya sama Rio, temenku. Kamu selalu enggak mau". Hadi melipat tangannya kesal di depan dada.
 
"Hah? Jodohkan?" Gila apa ya, main jodoh-jodohkan aja. Memang aku apa coba? Sebegitu jelekkan aku di mata kamu sampe harus dicarikan pasangan?
 
__ADS_1
"Lupa ya". Hadi mencuil pelan hidung Feya.
 
"Sudah?" Suara berat, menahan amarah keluar begitu saja dari mulut Dave.
 
Pamer kemesraan, iya? sengaja mau buat aku murka? Dave.
 
Kok suaranya menakutkan gituh, buat kaget ajah. Feya.
 
Ah, tuan apa yang anda telah lakukan? Tomo.
 
"Dave". Hadi tersenyum menghadap Dave. "Sudah semua, mohon beri aku waktu dua hari untuk menyiapkan semua sketsanya".
 
"Iya tentu saja, tidak masalah". Jawab Dave dengan mata mencuri pandang kepada Feya.
 
Lihat aku, lihat aku. Dave.
 
"Oh, iya satu lagi. Tentang desain interior Villa akan aku buatkan beberapa opsi. Tapi sebelum itu, apa kamu punya opsi sendir? Mungkin bisa aku mix atau ya...bisa aku bantu desainnya". Tanya Hadi kemudian.
 
"Belum, aku hanya baru memiliki sedikit gambaran tentang halaman belakang. Tapi itupun belum jelas, masih sangat sedikit". Dave terlihat mengingat ide Feya yang telah digambarkan untuknya tadi di baklon atas, sebelum semua berakhir dengan sesuatu yang sangat disukai olehnya.
 
"Apa?" Hadi ingin tahu.
 
"Emm, ya seperti ada jalan setapak menggunakan batu refleksi dan ada pendopo". Jawab Dave masih serius dengan usaha mencuri pandang ke arah Feya. Dan kali ini Feya membalas menatap kearahnya, semua penjelasan Dave kepada Hadi, sukses membuat Feya menatap matanya.
 
Dia, dia beneran mau buat itu? Feya tidak percaya.
 
"Klasik". Hadi memberi penilaian. "Berarti kamu suka konsep klasik?"
 
Dave hanya mengangkat kedua bahunya sebagai respon pertanyaan Hadi tadi.
 
"Unik, okeh aku juga akan menambahkan konsep klasik dalam opsi desainku nanti". Hadi mulai bisa membayangkan apa yang mungkin Dave inginkan.
 
"Ya..silahkan". Dave hanya menanggapi biasa semua yang diutarakan oleh Hadi.
 
"Baik, kalau gituh kami permisi dulu. Aku mau menyenangkan hati tunangan cantikku ini". Terlihat Hadi merangkul erat Feya.
 
Dave kesal, bahkan level kekesalannya sekarang perlahan bertambah. Melihat tangan Hadi begitu bebas merangkul erat bahu Feya, itu membuatnya merasa semakin tidak suka. Tangannya telah tergenggam, seakan siap dilayangkan untuk membuat kekesalannya menghilang.
 
Tahu sang tuan hanya diam, Tomo segera menjawab. "Oo, tentu Pak. Selamat bersenang-senang. Mari saya antar keluar". Tomo mewakili sang tuan mengantar para tamu mereka keluar.
 
Hadi mengandeng tangan Feya, bahkan sempat sekali mencium tangan wanita itu dan meletakkannya ke dada Hadi sambil mereka melangkah keluar menuju teras depan Villa. Dave memandangi itu semua, dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Dia tidak bisa mencari penjelasaan untuk itu, tapi yang jelas dia kesal, dia tidak suka dan dia marah. Matanya melotot besar memandangi Hadi yang bisa begitu bebas merangkul Feya. Dan entah mendapat ide cemerlang dari sumber yang mana, tiba-tiba....
 
"TUNGGU......." Suara teriakan Dave membuat Langkah Feya dan Hadi berhenti, bahkan suara Dave pun membuat Tomo juga ikut berhenti.
 
 
__ADS_1