TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 135


__ADS_3

PENYAMARAN (4)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


"Dengan bangga, pada puncak gemerlap malam ini yang sekaligus penutup acara kita, saya persembahkan....


". Iringan musik terdengar.


 


"Artefak suci Suku J dari Negara tetangga ". Mulai terdengar kasak kusuk dari orang di setiap meja-maja


 "Artefak kepala suci, memiliki nilai religi tinggi dengan sejarah perjuangan dan air mata para pertapa sakti yang di berkati oleh Dewi cinta. Artefak ini bertahtakan berlian hitam yang sangat langka ". Suara kasak kusuk semakin


keras, sedang Feya, dia malah semakin marah.


 


"Dengan hormat.....", suara pembawa acara terpotong, semua mata memandang ke arah penyebab si pembawa acara batal melanjutkan kalimatnya. Bisa di tebak apa yang terjadi ?


 


Feya, gadis cantik yang sedang berperan menjadi nyonya Fiella ini dengan santai menaikan papan penawaran pertamanya. Padahal promosi si pembawa acara belum selesai, waktu menawar belum di mulai, tetapi Feya malah mendadak membuat instruksi harga versinya sendiri.


 


Astaga, apa-apaan Ibu Feya ini. Kenekatannya benar-benar bisa membawa dirinya dalam situasi gawat nanti. Lukas.


"Bu Feya, tolong kendalikan diri anda !" Lukas sudah hilang kesabaran melihat kecerobohan Feya. "Anda yang akan berada dalam masalah ". Tetapi Feya memilih acuh.


 


"Saya tidak mau artefak itu jatuh ke tangan mereka semua ! Saya akan membawa pulang artefak itu ". Feya jelas tersulut marah


 


Aduh Ibu, kan janjinya tadi nggak boleh mencolok. Aduhhhh...mana sekarang malah marah-marah lagi. Menik.


 


"Owww..ternyata, sudah ada yang tidak sabar untuk memiliki benda suci bernilai tinggi ini ". Suara pembawa acara senang. "Bagus, mari kita lihat apakah ada yang berani menawar lebih tinggi dari meja nomor 5 ?"


 


Sementara itu, di saat aula lelang sedang heboh dengan debat nominal. Lelaki berbadan tegap yang sedang sibuk mengawasi laju kegiatan Feya mendapat telepon, sebuah telepon penting.


 


"Ya tuan ". Cepat lelaki berbadan tegap menerima panggilan masuk di handphonenya.


 


"Ya..saya mengerti tuan. Tuan jangan khawatir, saya akan membawanya pada tuan ". Entah apa isi percakapan sesaat tadi, dan siapa pula si penelepon yang di panggil tuan itu ? Yang jelas si lelaki berbadan tegap langsung memberi perintah kepada 4 anak buahnya untuk segera menjemput Feya setelah acara lelang selesai.


 


"Beritahu pembawa acara, biarkan wanita itu memenangkan lelang. Tutup lelang, antarkan semua tamu dan bawa wanita itu ke Janio ! Segera !"


 


***************


 

__ADS_1


"Tuan, di depan villa Monternio ". Hanya berjarak 10 meter lagi, Tomo sengaja memberi perintah pada sopir Dave agar menepikan mobil sang tuan.


 


"Sepertinya ada acara ". Dave memandangi Villa mewah yang berada persis di atas ketinggian itu.


 


"Kita harus apa sekarang tuan ?" Tanya Tomo yang juga menyadari banyak deretan mobil-mobil bermerek terparkir di halaman luas Villa mewah itu.


 


"Telepon Lukas !" Perintah Dave tanpa mengalihkan pandangan dari bangunan bertingkat bagai kastil itu.


 


Serta merta Tomo memilih nomor telepon yang cukup akrab dengannya, nomor Lukas. Saudara sepupu sang tuan yang berasal dari pihak nyonya besarnya. Lukas adalah anak dari adik kandung Ibunda Dave, anak kedua dan cukup dekat dengan Dave. Usia mereka terpaut 3 tahun, Lukas lebih muda dari Dave. Tetapi para saudara sepupu ini lumayan dekat. Meskipun Dave berjaya di dunia bisnisnya dan Lukas di dunia militernya, tetapi persaudaraan mereka sangat tulus. Saling jaga dan saling menyayangin


 


"Tuan, tidak di angkat ". Tomo sudah menelepon lebih dari 3 kali.


 


"Kirim pesan ! Bilang kita ada di sini !" Sebuah perintah baru yang langsung di kerjakan oleh Tomo. "Satu lagi Tom, perintahkan Ezza agar mengirim 2 mobil para pengawal terbaik ke sini, suruh bergegas ". Tomo sedikit terkejut.


 


Kenapa ?


Batin Tomo heran. Tetapi tetap patuh pada sang tuan.


 


"Ahhh...perasaan saya benar-benar gak enak Tom . Apa saya masuk saja ?" Dave mulai gusar.


 


 


Belum sampai hitungan detik Tomo dengan usahanya mempelajari lingkungan sekitar, sebuah pesan masukpun mengalihkan konsentrasinya.


 


"Bilang kakak, dia jangan ikut campur ! Dan kau, segera bawa kakak pergi, di sini berbahaya !" Tomo mengulang kalimat itu di dalam hatinya hingga 2 kali.


 


Gawat.....aku harus bagaimana ini ? Jujur, pasti tuan malah tambah nekat. Kan tadi katanya perasaannya enggak enak. Bohong, bagaimana kalau ada apa-apa dan itu tentang nona Feya ? Ah, aku harus gimana ya ?


Tomo memandang sesaat layar handphonenya.


 


"Balasan dari Lukas ?" Tanya Dave keras. "Apa katanya ?" Tomo masih diam.


 


"Tomooooooo ". Dah menepuk bahu Tomo.


 


"Aarrgh, lamban ". Dave merebut handphone Tomo dan membuka layar sentuh handphone tersebut.


 

__ADS_1


***************


 


"Selamat untuk meja nomor 5, artefak suci ini telah berhasil di miliki dengan harga yang luar biasa ". Feya menghela nafas lega atas keberhasilannya malam ini.


 


"Selamat ". Senyum Feya senang.


 


"Terima kasih kepada tuan dan nyonya untuk malam bersejarah ini. Selanjutnya kami persilahkan kepada seluruh tamu undangan untuk berpidah ke ruang sebelah, pesta belum berakhir. Mari kita lanjutkan dengan santai bersama ". Terlihat banyak pelayan berbaju kemeja putih mendekati tiap meja dan memberi hormat sebelum menunjukkan jalan pada tiap tamu ke arah acara berikutnya.


 


Aneh, baik Feya, Lukas dan Menik. Mereka sedang terheran-heran, aula sudah kosong tetapi tetap tidak ada seorang pun pelayan dan mendatangi meja mereka. Sepertinya mereka terlupakan begitu saja.


 


Feya berdiri, bermaksud menjauh dari situasi yang tidak menyenangkan ini, mengajak Menik dan berusaha memanggil Lukas yang sedang siaga.


 


"Nyonya....tuan kami ingin menemui anda. Beliau akan menyerahkan secara langsung barang lelang yang telah anda menangkan ". Langkah Feya terhenti, 4 orang lelaki dengan postur tegap yang menjulang tinggi sedang berbicara ramah padanya.


 


"Maaf, tuannya Bapak-bapak ini siapa ya ?" Tanya Feya denga wajah di buat sepolos mungkin.


 


"Nyonya cukup ikuti kami dan nyonya akan segera tahu ". Jawab salah satu dari keempat lelaki itu.


 


"Wah....kenapa tuan itu begitu baik ? Mau repot-repot menemui saya. Padahal cukup kirim ke asisten atau pengawal saya saja, semua selesai ". Feya sedang mengulur waktu.


 


"Kalau untuk itu, nyonya tidak perlu khawatir. Setiap lelang selesai di laksanakan, tuan biasanya memang mengundang si pemenang puncak secara spesial ".


 


"Baiklah...kalau memang ini suatu kebiasaan. Maka, saya dengan senang akan memenuhi undangan tersebut ". Feya berbicara lengkap dengan senyum ramahnya. "Ayo kita pergi !" Ajak Feya pada Menik dan Lukas.


 


"Maaf nyonya..pengawal dan asisten anda akan di antarkan pelayan ke ruang sebelah. Mereka akan di jamu dalam acara di sana, mereka tidak akan mengikuti anda ". Salah satu dari 4 lelaki tersebut menghentikan langkah Lukas dan Menik.


 


"Tidak bisa ". Tolak Lukas.


 


"Silahkan nyonya ". Feya telah di pisahkan dari Lukas dan Menik.


 


Bagaimana ini ?


Tanpa menyentuh Feya, 3 orang lelaki berpostur tinggi itu memaksa Feya berjalan ke arah yang mereka inginkan. Feya serab salah, ragu mulai mengerogoti dirinya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2