TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 98


__ADS_3

PERTANYAAN


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Feya menjabat erat tangan lelaki tua yang sekarang telah berjalan menuju ujung koridor ruang kerjanya, sepertinya pertemuannya dengan Kepala Suku dari Desa J siang ini berjalan lancar. Suku Amdano sebagai suku yang mendiami Desa J bisa bernafas lega saat Feya menjanjikan akan mencari solusi atas hilangnya artefak suku mereka yang sudah berusia lebih dari 100 tahun itu. Jawaban Feya membuat si Kepala Suku melangkah senang meninggalkan gedung megah tempat Feya bekerja.


 


"Manik, buatkan janji saya untuk bertemu pimpinan tertinggi aparat penegak hukum di Kota J, saya harus membahas masalah ini bersama mereka ! Kita akan menempuh jalur hukum atas hilangnya artefak Suku J ". Menik segera mencatat perintah Feya pada buku agendanya.


 


"Kemudian, buat janji juga untuk saya ketemu Bapak Menteri Kebudayaan ! Pihak mereka harus tahu kalau kita akan menempuh jalur hukum atas kasus ini ". Lagi, Menik mencatat permintaan baru Feya.


 


"Bagaimana dengan Kementerian Pariwisata Bu ?" Menik melihat Feya sedang merapikan tas kerjanya.


 


"Buat laporan tertulis saja dulu, kirim ke pihak mereka secepatnya ! Agar paket wisata ke Suku J sementara di hentikan, sampai kita jelas tentang permasalahan sebenarnya di sana. Baru setelah itu saya akan menemui Pak Menteri untuk memberi penjelasan langsung ". Sekarang Feya telah selesai merapikan tas kerjanya.


 


"Ibu berangkat sekarang ke kantor Papanya Ibu ?" Menik melihat Feya sudah menyandang tas kerjanya di bahu kanan.


 


"Iya, saya ke kantor Papa dulu ya. Nanti selesai jam kantor kamu langsung pulang saja ". Feya berdiri, kepalanya terasa sangat pusing, pandangan matanya berputar-putar.


 


"Buuuuuu.......", Menik berlari ke arah Feya, memegang kuat bahu Feya dan memintanya duduk kembali. Jelas tadi Feya terlihat mulai oyong.


 


Feya memijat kepalanya perlahan, rasanya memang sangat pusing. "Kepala saya pusing Nik ".


 


"Saya ambilkan air hangat ya Bu. Sebentar ya Bu ". Menik segera berlari meninggalkan Feya.

__ADS_1


 


Selang beberapa menit Menik sudah kembali dengan segelas air hangat di tangan. "Ibu minum dulu biar segeran dikit, biar perutnya enak". Menik mendekatkan gelas yang berada di tangannya ke bibir Feya. Feya meneguk isi gelasnya, benar kata Menik rasanya lebih baik saat air hangat tersebut memenuhi lambungnya.


 


"Saya bawa Ibu ke dokter ya !" Menik menatap Feya yang tidak memijat kepalanya lagi, tapi masih dengan kadar wajah pucat yang sama.


 


"Enggak usah Nik ". Tolak Feya sambil mengeleng pelan. "Saya kekantor Papa saja, nanti dari kantor Papa, saya ke dokternya bareng Papa ".


 


"Kalau gituh Ibu berangkat ke sana sama Niko, Ibu nggak boleh sendiri ". Tanpa menunggu jawaban Feya, Menik segera menghubungi Lobby melalui telepon di meja kerja Feya.


 


 


***************


 


Sementara itu...


 


 


"Hahaha", Hadi tertawa menanggapi pertanyaan Dave barusan. "Ya tentu saja semua yang ada unsur dagingnya, tunanganku itu pasti suka ". Jawab Hadi sangat yakin.


 


"Kalau rumah impiannya ?" Dave kembali bertanya pada Hadi.


 


"Yang ada aksen gemerlapnya, khas seorang Leya ". Hadi tersenyum bangga. "Ini rahasia antara teman ya Dave, karen kamu adalah sahabatku, aku kasih tahu sebuah rahasia. aku sedang membuatkan rumah seperti impian Leya untuk kami berdua setelah menikah nanti ". Ucap Hadi setengah berbisik pada Dave.


 


"Apa warna favorit Leya ". Dave berpura-pura tidak terpengaruh dengan ucapan Hadi barusan dengan memberikan pertanyaan baru, padahal sebenarnya emosinya sangat tersulut. Bahkan kepalan tangan Dave masih belum di lepasnya.

__ADS_1


 


"Merah, Leya penyuka warna merah ". Hadi terlihat sangat lancar menjawab. "Bahkan Leya sangat suka mawar berwarna merah, itu bunga favoritnya. Pokoknya Leya suka warna merah Dave ".


 


"Seberapa hebat kemampuan berdansa Leya ?" Dave masih belum lelah bertanya. Walaupun di dalam hatinya Dave sibuk merutuki semua jawaban Hadi yang dia sendiri sangat tahu, semua jauh dari sosok wanita yang di kenalnya dengan nama Leya.


 


"Tentu saja Leya itu ratu dansa. Kamu sendiri pernahkan berdansa dengannya, jadi kamu tahu dong kehebatannya ?". Senyum Hadi puas.


 


"Sudah ahhh...permainan tanya jawab ini terlalu mudah bagiku ". Hadi terlihat menolak melanjutkan permainan tanya jawab tentang seberapa kenal Hadi pada pasangannya yang diajukan oleh Dave. Bagi Hadi semua terasa konyol, dirinya bukan sehari ini kenal Leya, tentu saja dia tahu Leya hingga seluk terdalam tunangannya itu. Jadi semua pertanyaan Dave terasa tidak menantang bagi Hadi, terlalu mudah.


 


Lain Hadi lain pula Dave. Semua jawaban Hadi barusan membuat hati Dave berkobar marah. Jelas Hadi tidak mengenal sosok Leya sebaik dirinya. Menurut Dave semua jawaban Hadi tadi adalah salah, dia sangat tahu Leya tidak sama seperti apa isi komentar Hadi.


 


Ini yang namanya cinta, lelaki yang tidak kenal siapa sebenarnya tunangannya sendiri. Dan bodohnya Leya bertahan dengan semua ini ? Apa-apaan mereka ini, katanya saling cinta tapi tidak saling mengerti, bertunangan tapi dengan kenyataan si wanita tidak memiliki rasa pada pasangannya ? Dave menatap kesal ke arah depan.


 


"Dave...?" Hadi melihat jarum jam di pergelangan tangannya.


 


Dave menatap kearah Hadi, "ya ?"


 


"Kamu bilang ada janjian tadi jam segini ?" Hadi mengingatkan Dave tentang rencana kegiatannya siang ini yang kebetulan pagi tadi di sampaikan Dave padanya saat awal mereka berjumpa.


 


"Hampir saja aku lupa ". Dave berdiri sambil mengeluarkan handphone dari saku celanannya.


 


"Tom, kita berangkat sekarang. Saya tidak mau kita sampai terlambat. Saya harus menjaga kesan positif terhadap pihak mereka ".

__ADS_1


 


 


__ADS_2