TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 62


__ADS_3

MENANGIS


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


γ€€


Selesai mandi, Leya kembali menatap handphonenya. Kembali menimbang apakah sekarang keberaniannya untuk menghubungi Feya, saudara kembarnya itu telah kumpul? Dia sangat khawatir pada kesehatan Feya, rasa bersalah membuat Leya merasa sebagai saudara yang kejam.


γ€€


"Huuuuuuuh", Leya menghembuskan nafas panjangnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, apa pun resikonya dia harus berani menelepon Feya. Walaupun dirinya harus mendengar amukkan Feya nanti, itu sudah resiko. Toh semua ini bisa terjadi karena permintaannya pada kembarannya itu untuk mengulang permainan di masa kecil mereka. Jadi dia harus siap, harus menanggung semua konsekuensi dari kemarahan Feya.


γ€€


Leya membuka kunci handphonenya, mencari nama Feya dan segera meneleponnya.


γ€€


γ€€


γ€€


Omelet buatan Feya sukses membuat perut keroncongannya tadi terisi kembali, kenyangnya. Feya tersenyum puas.


γ€€


Setelah mencuci bersih piring makannya, Feya memutuskan untuk bersantai sejenak sambil menunggu malam hari tiba. Jam 6 lewat, bentar lagi malam. Dave janji akan mampir melihat aku malam nanti. Jam berapa ya kira-kira?


γ€€


Feya berjalan ke arah ruang keluarga, berniat menonton televisi sebagai pengisi waktunya menunggu kedatangan Dave.


γ€€

__ADS_1


Tapi, belum sampai kedepan ruang keluarga, Feya mendengar kalau handphonenya yang tertinggal di meja makan berbunyi. Apa itu Dave? Segera Feya berlari, kembali ke meja makan untuk mengambil handphonenya.


γ€€


"Leya". Suara pelan Feya membaca nama yang tertulis di layar.


γ€€


Tiba-tiba semangatnya berlari untuk mengambil handphonenya tadi menjadi sirna, berganti malas dan sedikit kesal. Bukan telepon Leya yang diharapkannya saat ini, apa lagi setelah kejadian semalam. Dirinya masih marahan pada kembarannya itu.


γ€€


Feya memilih mengabaikan panggilaΒ  Leya, percaya atau tidak, dirinya masih sangat marah. Mungkin Feya masih belum bisa mengendalikan rasa marahnya andai dia menerima telepon itu. Sudahlah, abaikan saja. Dan Feya hanya membiarkan handphonenya berbunyi dalam genggaman tangannya sambil berjalan ke depan televisi besar Leya.


γ€€


Maaf, aku masih marah sama kamu, Le. Anggap saja ini sebagai pelajaran buatmu.


γ€€


γ€€


γ€€


Sadar teleponnya diabaikan oleh Feya, Leya merasa sedih. Dengan perasaan yang campur aduk, Leya menatap layar handphonenya. Layar tersebut telah menghitam, telah terkunci kembali.


γ€€


Kenapa enggak diangkat Fe?


γ€€


Mata Leya mulai berkaca-kaca, mulai terbentuk kumpulan bening yang sepertinya agar segera terjatuh di sudut matanya.

__ADS_1


γ€€


"Kamu segitu marahnya Fe sama aku?" Leya hanya bisa bertanya pada layar handphonenya.


γ€€


"Maaf, hikssss". Dan benar saja, pertahanan dirinya runtuh sudah. Air mata kesedihannya karena merasa terabaikan oleh kembarannya sendiri terjatuh.


γ€€


"Maaf Fe, maaf. Hiksss, hikssss, hiksssss". Bahunya mulai berguncang. Rasa bersalah atas semua permintaannya pada Feya membuat Leya sangat terpuruk.


γ€€


"Jangan abaikan aku, aku sedih kamu giniin. Feeeee, hiksss". Leya masih terus berbicara dengan layar handphonenya.


γ€€


Dan Leya pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang apartemen sewaannya itu, rasanya sekarang tenaganya sudah habis.. Dia benar-benar putus asa, belum pernah sekali pun dalam hidupnya dirinya diabaikan oleh kembaranya itu. Feya selalu ada buatnya, sesulit apa pun selalu ada. Sekesal apa pun, semarah apa pun, Feya tidak pernah mengabaikannya. Selalu ada Feya, kembar identiknya yang menjaga dirinya dengan begitu baik.


γ€€


Tetapi sekarang berbeda, ini kali pertama Leya merasakan kerinduan yang teramat sangat pada Feya. Ini kali pertama dirinya tidak bisa berkomunikasi dengan Feya, Feya mengacuhkannya. Dan ternyata itu sakit sekali.


γ€€


"Plisss, maafin aku Fe". Ucap Leya sambil menatap langit-langit kamarnya sambil terus mengelap air matanya yang tidak mau berhenti menetes.


γ€€


γ€€


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2