
TERNYATA MUDAH
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
Dave mengangkat dan meletakkan kedua tangan Feya tepat di belakang lehernya, Feya hanya diam dan membiarkan Dave melakukan semua.
 
"Sekarang angkat kedua kakimu dan letakkan di atas sepatuku !" Setengah berbisik Dave memberi perintah pada Feya.
 
"Mau ngapain kamu ? Jangan bercanda Dave ! Aku benar-benar enggak bisa dansa, jadi jangan aneh-aneh !" Feya menolak permintaan Dave padanya.
 
"Kamu ini benaran nggak bisa ya ?" Dave curiga, jangan-jangan Feya hanya mencari alasan agar mereka batal berdansa.
 
"Kau ". Masih dengan tangan di belakang leher Dave, Feya menatap kesal pada Dave.
 
"Dave, aku sungguh-sungguh tidak bisa dansa. Aku bukan ahli di bidang itu ". Setengah putus asa, suara Feya terdengar pelan di telinga Dave. "Terserah mau percaya atau tidak, yang jelas aku jujur padamu ".
 
Perlahan Dave menatap mata Feya, menatap lama dan sangat dalam. Dave tengah berusaha mencari kebohongan yang mungkin di sembunyikan Feya. Sementara Feya, di pandangi oleh Dave begitu lekat. Sontak membuatnya menjadi salah tingkah.
 
"Kalau kamu memang tidak bisa dansa, maka naiklah ke atas sepatuku. Kamu percaya padakukan ?"Â Sikap Dave sekarang berubah melunak. Dave yakin Feya memang tidak berbohong padanya.
 
Feya mengangguk dan mengangkat kakinya, naik keatas sepatu hitam mengkilat milik Dave.
 
"Biar aku yang bergerak, kamu ikuti saja. Semua mudah kok, percayalah !" Dave tersenyum dan meletakkan kedua tangannya di belakang pinggang Feya. Sekarang posisi kepala Feya tepat di depan bibir Dave, ternyata dengan menginjak sepatu Dave bisa menambah tinggi Feya beberapa centi.
 
Dave mulai mengerakkan kakinya kekanan dan kekiri, perlahan tanpa membuat Feya takut sama sekali.
 
Beberapa menit berlalu, Feya tersenyum. "Ternyata memang mudah ". Guman Feya pelan.
 
"Kan sudahku bilang, dansa itu mudah ".
 
"Kakimu sakit ? Apa aku berat ?" Dave menatap Feya, rasanya dia ingin tertawa mendengar pertanyaan Feya barusan.
 
"Kamu itu sangat ringan, apa kamu kurang makan ? Mana mungkin tubuh sekecil ini bisa menyakiti kakiku !"
 
"Benarkah itu, jangan boong ya !"
 
Mereka saling berpandangan. Dave tersenyum pada Feya dan Feya membalas senyum Dave, tulus.
 
__ADS_1
"Kamu memang enggak bisa dansa ?" Sambil terus bergerak Dave mengajukan pertanyaan pada Feya.
 
"He-eh ", jawab Feya singkat.
 
"Kamu enggak suka makanan yang ada olahan dagingnya ?" Dave masih bertanya.
 
"Iya ", Feya mendongakkan lehernya, menatap Dave.
 
"Enggak suka cheese cake dan cappucino, tapi suka blueberry cake dan teh hijau ?. Dave merapatkan tubuh Feya padanya membuat mereka berpelukan dalam dansa.
 
"Benar ", jawab Feya di dada Dave.
 
"Suka rumah dengan konsep alam ?" Sepertinya Dave masih saja bertanya pada Feya.
 
"Tepat ". Wangi kamu enak banget Dave. Feya sibuk menghirup sebanyak mungkin wangi parfum Dave, sepertinya dia menyukai aroma mask dan mint yang melekat di tubuh lelaki itu.
 
"Dan kamu tidak bisa dansa sama sekali ?" Dave mengajukan pertanyaan yang jawabnnya sudah dia ketahui.
 
"Kan aku udah bilang tadi, aku udah jujur sama kamu ". Jawab Feya tegas.
 
 
"Kenapa kamu mau terikat pertunangan ini bersamanya ? Kenapa ?" Dave telah mengehentikan gerakan kakinya, mereka berhenti di salah satu ujung lantai dansa.
 
"Aku bisa mengenalmu hanya dalam waktu 2 hari. Aku bisa tahu apa yang kamu suka dan tidak kamu suka. Sementara Hadi ? Kalian sudah bertunangan lama dan sebentar lagi akan menikah. Tapi dia tidak tahu apapun tentang kamu. Kenapa kamu menyiksa diri dalam ikatan pertunangan dengannya ?" Dave mengangkat dagu Feya, memaksa Feya menatapnya.
 
"Jawab !" Desak Dave melihat Feya hanya diam.
 
"Jangan campuri urusanku !" Feya melepaskan tangan Dave dari dagunya.
 
"Kau tidak mencintainya ?" Pertanyaan yang Dave pilih kali ini, benar-benar membuat Feya membeku. Tangannya menjadi dingin, nafasnya terasa berat.
 
Feya telah menjauhkan kakinya dari atas sepatu Dave, dia bingung harus bersikap apa pada Dave, dirinya tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan Dave.
 
"Kenapa Le ? Jawab aku !" Dave mendekati Feya.
 
"Berhenti, jangan mendekat !" Feya sedikit kaget melihat Dave bersiap melangkah kearahnya.
 
__ADS_1
Dave tidak memperdulikan perintah Feya, dia terus berjalan dan berhenti tepat di depan Feya. Dave memaksa Feya menatapnya, Feya mengeleng, dia menolak. Dave kesal melihat penolakan Feya, setengah memaksa, Dave kembali mengakat dagu Feya. Kepala Feya terasa pening, efek wine yang di teguk habis olehnya tadi mulai terasa.
 
Feya memejamkam matanya. Di ingin lebih mengurangi efek pusing yang mendera di kepalanya. "Kau tidak mencintainyakan ?" Lagi, Dave mengulang pertanyaan yang sama.
 
"Kamu salah, Leya sangat mencintai Hadi ". Dengan mata masih terpejam, Feya berusaha memberitahu Dave sebuah kebenaran.
 
"Cukup !" Dave mulai mendekatkan wajahnya ke arah Feya, ke wajah Feya.
 
"Mau apa ?" Hembusan nafas Dave yang begitu dekat dengan wajahnya membuat Feya terpaksa membuka mata. Wajah Dave hanya beberapa centi lagi mendekat padanya. Sangat dekat, sampai Feya bisa merasakan aroma wangi nafas lelaki tampan itu.
 
Sadar posisi mereka tidaklah baik, merasakan hembusan nafas Dave terlalu dekat, Feya berusaha mendorong tubuh Dave. Feya mabuk, tapi dia masih bisa berpikir jernih. Dia harus menjauh dari Dave.
 
"Mau apa ?" Gagal mendorong tubuh Dave, Feya berusaha mundul, melangkah ke belakang.
 
Dave cukup sigap. Tahu Feya akan menjauhinya segera saja dia merangkul pinggang Feya. Membuat Feya tetap berdiri di depannya, menatap matanya.
 
"Jangan ". Suara pelan Feya mendapati bibir Dave berusaha mendekati bibirnya. "Jangan Dave ?"
 
"Kenapa ? Kanapa jangan ?" Jarak bibir Dave tinggal satu centi saja dari bibir Feya. "Beri aku alasan kuat kenapa jangan ?"
 
"Karena ini salah Dave. Kita tidak boleh begini !" Mata Feya mulai berkaca-kaca.
 
"Jadi, kamu lebih memilih hidup bersama Hadi ? Tanpa cinta, iya ?"
 
"Dave, kamu salah menyimpulkan ".
 
"Oya ? Katakan kalau aku juga salah, bahwa ciuman kita di balkon Villaku tadi bukanlah ciuman pertama bagimu ?" Feya terkejut, bola matanya membesar. Cepat dia menunduk, memandang lantai untuk menghindari tatapan Dave.
 
"Kenapa tidak jawab ? Bukankan kamu mencintainya ? Lantas kenapa kamu begitu risih saat dia mencium pipimu ? Bahkan hanya dengan mendekapmu saja, kamu sudah berusaha mencari cara agar segera lepas darinya. Itu, itu yang kamu bilang cinta ? Jangankan mencium bibirmu, memelukmu saja Hadi tidak pernah. Iya kan ?" Feya mulai gelisah. Wajahnya mulai pias.
 
Bagaimana ini ? Kenapa Dave bisa tahu ? Hadi saja tidak sadar perubahan sikapku, padahal dia tunangan Leya. Tapi Dave, lelaki ini tidak pernah bertemu Leya, tapi bagaimana bisa ? Bagaimana bisa dia tahu aku tidak memiliki rasa apapun pada Hadi ? Kepalaku pusing, aku harus apa ?
 
"Susah untuk menjawab ?" Dave tersenyum puas.
 
"Dave ". Feya bingung harus menjawab apa.
 
"Tinggalkan Hadi !" Dave terlihat sangat serius.
__ADS_1