TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 40


__ADS_3

PERDANA (7)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Entah sudah yang keberapa kalinya Feya mengucap syukur, berterima kasih atas kebaikan Tuhan padanya. Rasa syukur tidak terkira bisa selamat dari sebuah peristiwa yang menurut Feya sangat besar yang hampir terjadi beberapa saat tadi. Nafas lega Feya membuat wajah cantiknya yang tadi sempat pucat sekarang mulai berdarah lagi. Berkali-kali Feya menarik nafas panjang, semua sudah berlalu setidaknya untuk saat ini dan dia sudah bisa duduk manis kembali di kursinya, bukan di pangkuan Hadi lagi.


 


*****


 


Flash Back


 


Hampir saja Feya mendorong wajah Hadi agar menjauh dari wajahnya, rasa takut dengan apa yang akan di lakukan bibir Hadi membuat Feya berencana melakukan segala cara agar Hadi menghentikan niatnya, mungkin karena terlalu panik Feya sampai tidak berpikir apa dampak dari keputusan yang akan dilakukannya pada permainan peran dirinya dan Leya ini.


 


Tetapi keberuntungan masih berpihak di tangan Feya, detik-detik sebelum bibir Hadi mencicipi bibir Feya, tepat di saat itu pintu ruang VVIP di ketuk. Tanpa di perintah Feya segera mengambil kesempatan emas itu, konsentrasi Hadi yang terganggu karena ketukan pintu dimanfaatkan Feya untuk segera beranjak dari pangkuan Hadi, dari dalam pelukan Hadi.


 


Feya berdiri dengan anggun menjauh dari Hadi, Hadi terlihat kesal.


"Ya", suara singkat Hadi terhadap si pengetuk pintu yang telah menganggu dirinya dan wanita yang sedari tadi dipikirmya adalah Leya.


 


"Tuan, apakah kami sudah bisa menghidangkan menu utama?" Suara wanita yang sepertinya adalah pelayan yang tadi menghidangkan appetizer untuk mereka.


 


"Belum, kami belum selesai. Tunggulah lima menit lagi". Perintah Hadi kemudian.

__ADS_1


 


"Baik tuan", jawab sang pelayan tanpa membantah.


 


Hadi pun beranjak, memindahkan posisi duduknya ke kursi awalnya. "Duduklah beb, kita lanjutkan acara makan kita". Perintah Hadi pada Feya.


 


Dan jangan di tanya seberapa cepatnya langkah Feya kembali ke kursinya lagi. Bebas duduk sendiri tanpa ada Hadi yang akan memangkunya seperti tadi. Dalam hati, Feya benar-benar bersyukur, Feya tidak percaya kalau tepat di detik-detik terakhir adegan Hadi tadi, Tuhan kirimkan penolong untuk Feya. Rasanya Feya sangat terharu, seperti baru saja selamat dari sebuah pertempuran yang luar biasa.


 


Terima kasih Tuhan, terima kasih, terima kasih, terima kasih.


 


 


*****


 


 


Yahhh, kirain setelah kejadian tadi boleh gak makan itu. Tapiiii....


 


"Iya sayang". Jawab Feya sambil memperhatikan hidangan yang sedari tadi ingin dihindarinya.


 


Potong kecil-kecil, masuk mulut, langsung telan. Jangan di kunyah, langsung telan sampe batas maksimum. Truss, minum banyak-banyak.


 

__ADS_1


Sepertinya isi kepala Feya tadi cukup cemerlang bagi dirinya sendiri, tidak memakan appetizer yang telah di pesan Hadi khusus untuknya, ehh..ralat khusus untuk Leya, hanya akan menimbulkan tanda tanya baru bagi Hadi. Feya tidak ingin membuat Hadi curiga lagi seperti tadi. Mengerikan bagi Feya, bukan karena efek kalau ketahuan permainan perannya, tetapi rasa mengerikan itu timbul karena adega-adegan yang ingin Hadi lakukan padanya. Tentu saja Feya menolak, tetapi mana mungkin dia bisa menolak secara langsung, secara terang-terangan.


 


Hadi melahap hidangan pembuka secara perlahan, sambil memperhatikan Feya yang sedang sibuk memotong-motong keci sajian di atas piringnya. Menyadari mata Hadi tertuju pada aktivitasnya saat ini, Feya pun cepat mencari topik untuk membuat Hadi tidak terlalu fokus padanya.


 


Untung saja, semalam Leya sempat menyinggung tentang kesibukan Hadi dengan proyek penyediaan barang kantor di gedung utama PT. Rakasalido yang baru selesai membangun gedung baru. Semua tahu, proyek Hadi ini bernilai fantastis, dan menurut Leya, Hadi berjuang keras demi suksesnya proyek tersebut yang tentu saja tujuan Hadi atas semua jerih payahnya itu untuk membahagiaankan Leya dan rumah tangga mereka nanti.


 


"Sayang, gimana perkambangan proyekmu itu? Apakah setelah ini kamu masih akan meninggalkan aku untuk ke sana?" Tanya Feya sambil memonyongkan bibirnya, seakan-akan Feya keberatan kalau harus berjauhan dengan Hadi lagi.


 


Leya pasti gituh deh kalau lagi merajuk, bibirnya mencebek trus gomongnya kayak orang mau pisah selamannya. Iya, seingat aku gituh.


 


Dan benar saja, melihat wajah sedih tunangannya, bibir yang mencebek, nada suara yang mengiba, Hadi langsung membujuk wanita yang telah membuat dia jatuh hati itu. Ya, walaupun jelas-jelas itu adalah Feya sih.


 


"Aku ngerti kamu pasti kangen berat ma aku kan beb? sabar ya. Tidak lama lagi kok, ya..walaupun sebenarnya aku sendiri juga tidak suka berlama-lama jauh dari kamu beb. Tapi demi kamu dan buah hati kita nanti, tinggal satu minggu lagi. Aku janji bakal usahakan cari waktu buat ke apartemen kamu atau janjian makan malam seperti ini, pokoknya kita pasti bisa ketemuan. Akan aku cari caranya". Janji Hadi sambil membelai punggung tangan kanan wanita yang dipikirnya adalah Leya itu dengan lembut.


 


Bicara aja terus, gak usah pake belai-belai tangan akuh. Udah nelan nih makanan susahnya minta ampun, di tambah adegan ngelus-ngelus tangan aku segala lagi. Boleh nangis nggak sih, hiks, hiksss, Le..dua minggu itu lama banget. Hikss.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2