TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 96


__ADS_3

SAKIT


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


γ€€


Senen pagi, hari baru dan awal baru bagi sebagian besar penghuni bumi ini. Dimana semua akan berlomba-lomba memulai rutinitas harian entah itu sebagai pekerja ataupun sebagai pencari kerja. Yang jelas semua orang memiliki pengharapan baru masing-masing saat sang fajar telah hadir di ufuk timur. Pagi ini Feya bangun tidak di jam biasanya, Feya bangun sedikit terlambat. Tidak lama memang, hanya terlambat setengah jam dari biasanya. Harapan Feya dapat beristirahat dengan nyaman di tidurnya semalam tidak terwujud. Feya beberapa kali terjaga tanpa sebab hingga membuat kepalanya terasa sedikit pusing sekarang. Sejenak ada keraguan di dalam hatinya, apa sebaiknya Feya memilik istirahat saja hari ini ?


γ€€


Beberapa menit berlalu, Feya masih bergelung di bawah selimut hangatnya. Sesekali Feya berbalik badan, berganti posisi tidur. Sepertinya kejadian semalam terus saja berulang, Feya memang kesulitan menemukan posisi tidur terbaiknya.


γ€€


Bosan dengan keadaan yang tidak juga membuat dirinya nyaman, akhirnya Feya memilih bangun dan masuk kekamar mandi.Β Percuma aku berdiam di rumah, aku tidak juga berhasil melupakannya. Sendiri di sini malah membuat aku merindukannya. Akhirnya kepalaku malah tambah sakit.Β Feya memandang wajah suramnya di depan kaca wastafel. Sekebelebat bayang Dave yang tengah tersenyum hadir di pelupuk matanya. Ya Tuhan, aku kekantor saja deh.


γ€€


Feya menyelesaikan rutinitas mandinya dan berdandanya sangat kilat, sepertinya Feya memang berencana ingin secepatnya keluar dari rumah, Feya ingin cepat berada di antara kerumunan orang ramai. Dia ingin segera membawur demi bisa melupakan duka di dalam hatinya.


γ€€


***************


γ€€


Dave membuka mata perlahan, mengerjab beberapa kali demi menyesuaikan cahaya silau yang menembus jendela kamar tidurnya. Tomo berdiri di ujung jendela, sepertinya Tomo baru saja membuka semua tirai untuk mempersilahkan mentari pagi masuk.


γ€€


"Jam berapa ?" Tanya Dave pada Tomo sambil duduk bersandar di kepala ranjang.


γ€€


"Sudah lewat jam 8 tuan ". Jawab Tomo tanpa memalingkan badan ke arah Dave.


γ€€


"Bagaimana perkembangan kondominium di Lestari 1 ?" Dave memijat kepalanya, pagi ini efek minuman beralkohonya semalam masih meninggalkan sisa, kepalanya terasa sakit.


γ€€


"Lancar tuan, hari ini mereka akan mulai bekerja ". Tomo berbalik badan, perasaan miris mendera hatinya. Sang tuan terlihat masih sama kacaunya dengan semalam.


γ€€


"Aku akan ke sana. Bersiaplah !" Tomo berjalan mendekat ke ranjang Dave.


γ€€


"Tuan yakin ?" Tatap Tomo penuh selidik.


γ€€


"Dia memang menolakku, tapi aku sudah terikat kontrak dengan tunangannya. Aku harus profesional bukan ?" Dave seakan tahu apa arti pertanyaan Tomo padanya barusan. "Lagi pula ini adalah proyek besar perusahaan, perasaan pribadi harus dihilangkan kalau aku mau sukses ".


γ€€


"Baiklah, kalau itu kemauan tuan. Tuan bersiaplah, setengah jam lagi saya akan membawa tuan ke Lestari 1 ". Tomo menunduk hormat dan berlalu dari hadapan Dave.


γ€€

__ADS_1


***************


γ€€


Menik sudah 3 kali masuk keruang kerja Feya pagi ini. Tidak seperti biasanya, asisten pribadi Feya ini sengaja mencari-cari alasan agar bisa masuk ke ruang kerja sang pimpinan. Menik sebenarnya khawatir melihat kondisi Feya, pimpinannya itu terlihat agak pucat, tidak seperti biasa.


γ€€


"Ibu yakin, enggak mau saya bawakan sesuatu ?" Tanya Menik sebelum pamit keluar ruang kerja Feya. "Mungkin apa gituh ?" Menik masih berusaha membujuk Feya.


γ€€


"Nanti saja, kalau saya sudah pengen suatu saya panggil kamu ya. Sekarang tolong tinggalkan saya, saya harus mempelajari materi rapat dengan pihak Kementrian Kehutanan buat nanti siang !" Lagi, Feya berusaha mengusir Menik dengam cara halus.


γ€€


"Baiklah Bu, saya kembali ke ruangan saya. Tapi kalau ada yang Ibu perlukan, cepat Ibu panggil saya ya !" Feya menatap Menik sekilas dan mencoba tersenyum. Senyum kaku yang di tarik oleh kedua ujung bibirnya, senyum palsu yang coba di perlihatkan Feya demi menyakinkan Menik kalau dirinya baik-baik saja.


γ€€


***************


γ€€


Papa Maladi, Papa kandung Leya dan Feya ini, si pemilik perusahaan besar Malaky Group sedang membolak balik proposal dengan cover berwarna biru muda. Papa sedang mempelajari dengan seksama proposal tawaran kerjasama dari perusahan property ternama di negara tetangga.


γ€€


Sesekali Papa terlihat mengetuk jati tengahnya di meja kerja dan sesekali pula matanya melotot lebar saat membaca poin-poin penting dari latar belakang pemilk perusahaan property dan investari itu.Β Dave Indra Barata, emmmm...hebat, anak muda ini sangat hebat. Di usia masih sangat muda sudah berhasil merajai dunia property di negara tetangga. Cerdas dan berotak cemerlang, salut aku pada kemampuan berbisnisnya.Β Papa memuji sosok lelaki yang ada dalam lembar profil di atas meja kerjanya.


γ€€


"Menarik..tingkat keberhasilan laba pasar untuk property miliknya nyaris sempurna. Jenius di bidang analisa pasar ". Guman kecil Papa yang masih saja memuji. "Aku harus menghubunginya, aku perlu mengenal lelaki muda ini !" Papa menekan angka 2 pada keybord telepon tidak berapa jauh dari tangan kanannya.


γ€€


γ€€


"Buatkan aku janji dengan tuan Dave Indra Barata. Hubungi dia dan tanya kesediaanya, semakin cepat semakin baik. Bila perlu kalau memang beliau bisa, minta hari ini !" Perintah singkat Papa yang langsung dipahami oleh si sekretaris.


γ€€


***************


γ€€


Leya terlihat ragu pagi ini untuk menginjakkan kakinya di kelas memasaknya. Suara tinggi dengan kata-kata kesal si koki pengajar semalam belum bisa dilupakannya. Wajah Leya agak pias, rasa was-was membuat kakinya terasa berat melangkah. Kalau di tanya hati, sejujurnya Leya ingin mengakhiri saja kurus memasak kilatnya ini. Leya cukup sadar dia bukanlah si ahli masak. Jiwa sebagai pembuat masakan terbaik tidak ada di dalam dirinya. Sudah masuk minggu kedua kursus masaknya, tapi tetap saja ada hari di mana Leya akan berakhir dengan semburan omelan panas dari si koki pengajar. Leya mulai lelah dan mengaku kalah, pulang ke negara asalnya serta kembali dalam kehidupan nyatanya. Melupakan impian menjadi isteri seutuhnya buat Hadi, menjadi isteri yang bisa masak. Cukup bisa saja, cita-cita Leya tidaklah tinggi, dirinya hanya berharap bisa saja.


γ€€


"Hey Le, kok bengong di pintu ?" Ternyata Donita teman kursusnya yang sudah berdiri di belakang Leya


Β "Masuk yuk !" Ajak Donita ramah.


γ€€


"Ka, kamu duluan aja Nit !". Leya berusaha menghindar dari Donita.


γ€€


"Kitakan sama tujuannya, ayo....ngapain aku duluan. Bareng aja! " Donita menarik tangan Leya.

__ADS_1


γ€€


"Lepas Nit !" Leya berusaha melepaskan jemari Donita dari pergelangan tangannya.


γ€€


"Kamu kenapa sih, kok aneh pagi ini ?" Donita menyadari ada yang salah dengan Leya.


γ€€


"Aku, aku ragu buat lanjut Nit. Kamu lihat sendirikan, nyaris setiap akhir kelas aku selalu kena omelan si koki pengajar. Kayaknya aku memang akan berakhir sebagai wanita yang tidak akan pernah bisa masak ". Ucap Leya pelan.


γ€€


"Ya ampu Leya. Aku kira ada apa tadi ". Donita terlihat kembali memegang tangan Leya dan mengajaknya berjalan ke sudut koridor gedung.


γ€€


"Sini aku bilangin ya ! Aku juga bukan seorang wanita yang ahli masak. Bahkan kalau boleh jujur ini kali pertama aku berurusan dengan berbagai jenis bahan masakan dan sebaginya. Aku bisa di bilang gak pernah masuk ke dapur apa lagi kalau tujuannya buat masak. Tapi Le, kali ini aku harus bisa masak ". Terdengar tekad kuat dari suara Donita. "Apapun itu, meski hanya 1 jenis makanan saja aku harus bisa ".


γ€€


"Kenapa ?" Tanya Leya bingung.


γ€€


"Karena Mama. Mama aku sakit keras, sudah hampir 2 bulan terbaring di kamar rawatan. Kondisi Mama terus menurun. Belakangan ini Mama mulai kehilangan nafsu makannya, Maam terlihat selalu menolak menu-menu yang di hidangkan untuknya ". Ada getir sedih dari tatapan Donita.


γ€€


"Karena itu Le, aku ingin belajar masak. Aku sangat ingin membuatkan sesuatu untuk Mama. Terserah apa itu yang penting sehat. Mana tahu kalau masakan dari olahan tanganku sendiri, Mama mau memakannya ". Donita tersenyum pada Leya. "Jadi aku pantang menyerah Leya, apapun yang terjadi aku akan terus belajar. Toh tidak berapa hari lagi semua ini selesai. Aku berharap, saat hari kursus ini selesai aku sudah bisa membuat sesuatu untuk Mama ".


γ€€


"Itu tadi tentang aku. Kalau kamu sendiri gimana ? Kamu mau belajar masak ini buat apa sih ?" Tanya Donita menatap mata biru muda Leya.


γ€€


"Emm, itu. Buat, buat calon suami aku ". Jawab Leya malu-malu.


γ€€


"Apa dia sangat berarti buat kamu ?" Donita masih menatap serius pada Leya.


γ€€


"Sangat, sampe-sampe aku memaksa saudaraku agar mau memuluskan jalanku buat belajar masak ini ". Jawab Leya jujur.


γ€€


"Kalau gituh kenapa nyerah ? Leya...kalau memang dia sangat berarti buat kamu, seharusnya kamu harus bisa bersabar dengan hal-hal baru yang belum pernah kita lakukan ini. Kita ini bukan tipe wanita yang memiliki garis tangan mampu menjadi si ahli masakan. Tapi setidaknya kita memiliki tekad kuat untuk orang-orang yang kita cintai. Jadi sedikit di marah atau di omelin itu biasakan. Anggap saja sebagai pemedas untuk memacu adrenalin kita agar pantang mundur, jangan masukin hati. Semangat dong Leya !". Nasehat panjang Donita.


γ€€


"Ini bukan dunia sulap Leya, sekali belajar langsung bisa. Ini dunia nyata, jadi kita harus giat dan sabar !" Donita memegang pundak Leya. "Ayolahhh, jangan nyerah !"


γ€€


Leya menarik nafas panjang sambil mencerna semua perkataan Donita,Β benar juga. Kenapa aku menyerah sekarang saat aku sudah sejauh ini. Lagi pula mana mungkin aku bakal langsung bisa setelah nyaris 26 tahun umurku aku memang gak pernah masak. Bodohnya aku hampir saja putus asa, padahal Feya sudah susah payah mengantikan aku di sana.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2