
SITUASI TRAGIS (1)
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
γ
Feya memegang dadanya kuat, detak jantungnya seakan sedang berlarian mencari tempat sembunyi. Jelas dirinya mulai panik. Sesaat Feya berpikir, kalau mencuekin si tamu adalah solusi bagus untuk menyudahi situasi menegangkan ini. Tetapi sesaat kemudian Feya tersadar, semakin di acuhkan si pengetuk pintu apartemen kembarannya itu semakin menjadi-jadi. Takut keributan di depan pintu apartemen Leya menimbulkan kegaduhan bagi penghuni lain apartemen, Feya memilih membukakan pintu. Dengan sangat terpaksa, Feya mencoba membukan pintu secara perlahan.
γ
"Akhirnya kamu buka juga beb ". Hadi si tamu yang sempat memekakkan teliga Feya dengan bunyi bel hingga pukulan di pintu mulai bersuara tepat di saat Feya membukakan pintu sedikit lebar.
γ
"Aku dari tadi mengunggu di sini ". Hadi berjalan sempoyongan menuju ruang tamu Leya. Aroma minuman keras tercium kuat di hidung Feya.
γ
Apa-apaan dia, mabuk di sore hari dan malah datang ke sini.
γ
Feya hanya memperhatikan Hadi sibuk bergantungan di dinding ruang tamu untuk sampai ke sofa empuk yang hanya tinggal beberapa centi meter lagi.
γ
Astaga aku lupa, lensa kontaknya. Ya ampun.....
γ
"Sa, sayang..duduklah sebentar ya. Aku ke belakang dulu ". Tanpa menunggu jawaban dari Hadi, Feya langsung berjalan cepat ke arah dapur. Membuka tas kerjanya, mencari kotak kecil tempat lensa kontak pemberian kembarannya, hingga sesaat kemudian Feya selesai memasang lensa kontaknya. Sempurna sudah, matanya sudah sama seperti warna bola mata Leya.
γ
Feya bergegas kembali keruang tamu dengan tidak lupa membawa segelas air hangat berisi irisan lemon, Feya berharap air di dalam gelas yang sedang di pegangnya Itu bisa membantu Hadi agar cepat pulih dari mabuknya.
γ
"Kau mau kemana, haaaa ?" Suara keras Hadi membuat Feya berhenti mendadak.
γ
"A, aku, akuuuuu....", mendadak Feya kehilangan kemampuannya berbicara. Seumur-umur baru kali ini Feya melihat calon kakak iparnya itu begitu marah. Tidak hanya itu, setahu Feya. Hadi adalah pribadi penyabar dan sangat menyayangi Leya. Tapi kali ini sepertinya semua pengetahuan Feya telah hilang, menguap entah kemana tepat di saat tadi Hadi membentaknya.
γ
"Jadi benar ? Iya....?" Tatapan putus asa di perlihatkan Hadi pada Feya.
γ
Feya memegang erat gelas yang ada di tangannya, gara-gara mendadak gemetar. Sepertinya gelas tersebut terasa licin sekarang.
γ
"Kenapa....kenapaaaaaaa ? Tolong jawab aku ?" Mendadak suara Hadi berubah mengiba. Hadi terduduk di samping travel bag Feya.
γ
Hiksss...hikkkssss...hikkkkssssss....
__ADS_1
γ
Feya menyadari bahu calon kakak iparnya berguncang, Hadi tengah menangis.
γ
"Sayang.... ", Feya berjalan mendekati Hadi. Otaknya belum menemukan penyebab Hadi bertingkah aneh sore ini. Mengetuk pintu dengan tidak sabarnya. Mabuk, marah-marah dan sekarang malah menangis.
γ
"Minumlah dulu !" Feya membelai rambut Hadi sambil mendekatkan gelas yang di gengamnya ke arah Hadi, meskipun tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tetapi Feya merasa sangat tidak sampai hati melihat Hadi yang masih saja menangis
γ
"Apa salahku ?" Hadi memegang tangan Feya yang dipakainya untuk membelai rambut Hadi. "Jujurlah padaku ! Apa salahku ?" Feya menatap mata kosong yang meneteskan bulir keputus asaan dan penuh kekecewaan.
γ
"Tidak ada, sungguh sayang ". Feya mengigit bibir bawahnya. "Aku, aku tidak mengerti dengan semua ini. Tolong, coba tolong kamu jelaskan ada apa ini ? Kenapa kamu mabuk sayang ?"
γ
"Bohong....", Hadi melepaskan tangan Feya yang tadi di pegangnya dengan kasar. "Jangan bohongi aku lagi !" Hadi mendadak berdiri. Sayang tubuhnya terlalu sempoyongan akibat efek minum keras. Untung saja Feya cukup sigap menangkap tubuh lunglai Hadi, Hadi jatuh ke dalam pelukan Feya.
γ
"Ya Tuhan, Hadi kamu ini kenapa ?" Feya memapah Hadi duduk di sofa ruang tamu Leya.
γ
"Lepas !" Hadi mendorong Feya kuat hingga terjungkal ke ujung sofa dobel tempat dirinya di dudukkan oleh Feya.
γ
γ
Ini ada apa sebenarnya ? Datang mabuk dan sekarang marah. Ya, wajar saja kali aku keceplosan panggil nama kamu, kamu juga sih buat aku bingung saja.
γ
"Maaf sayang, soalnya kamu buat aku bingung. Sekarang coba jelaskan padaku ada apa sebenarnya !" Feya meletakkan gelas yang sedari tadi di gengamnya ke atas meja kaca tepat di depannya, hingga kemudian berusaha mendekat ke arah Hadi kembali.
γ
"Apa benar kamu tidak mencintai aku ?" Satu pertanyaan dari Hadi sukses membuat mata Feya membelalak besar.
γ
"Apa, apaan itu? Pertanyaan bodoh apa itu ?" Feya terlihat mulai gugup.
γ
"Jawab aku, aku mohon !" Hadi mulai menangis lagi
γ
"Tentu saja aku sangat mencintai kamu sayang, kamu segalanya bagiku, kamu pun tahu itu sayang ". Feya berusaha mengarang kata-kata bohong sebaik mungkin.
γ
__ADS_1
"BOHONGGGGG ", Hadi kesal, dengan sengaja dia membentak Feya.
γ
"Selama ini kau tidak mencintaiku, kau hanya kasihan padaku. Kau terpaksa menjalani pertunangan kita....iyakan ?" Hadi mengusap kasar rambutnya.
γ
"Kenapa, kenapa kau sejahat itu padaku ? Apa salahku...kenapa kau menipuku dengam sikap kasihanmu, dengan sikap manjamuΒ ?"Β Feya hanya bisa mengelengkan kepalanya saking tidak percaya dengan semua perkataan Hadi barusan.
γ
"Siapa yang telah meracunimu sayang, itu tidak benar. Semua orang tahu aku sangat mencintaimu. Kamu ini kenapa sayang ?" Feya semakin bingung untuk menyakinkan Hadi.
γ
"Dave, Dave yang cerita semuanya ". Jawaban Hadi sontak membuat Feya mengepal tangan kanannya marah.
γ
Sialan kau Dave....
Apa maksudmu menceritakan persepsi bodohmu itu pada Hadi.
Ya Tuhan, kenapa malah jadi seperti ini ?
Aku harus bagaimana sekarang, jelas-jelas Hadi percaya semua penuturan Dave padanya. Hadi pasti sudah termakan semua cerita Dave.
Leya...habislah kita, semua berakhir dengan kondisi terburuk yang sangat mengerikan ternyata.
γ
γ
***************
γ
EPILOG.....
γ
"Dimana kita ketemuannya ?" Tanya Hadi tepat di saat panggilan masuk teleponnya kepada Dave di terima
γ
"Ada rekomendasi tempat ? Yang tenang dan santai ". Dave malah balik bertanya pada Hadi.
γ
"Kalau kafe Diantarga gimana ? Apa kamu tahu ?" Tanya Hadi meminta kepastian Dave.
γ
"Tidak, tapi kamu bisa memberikanku alamatnya. Nanti aku tinggal lihat aplikasi saja !" Dave sepertinya setuju dengan tempat yang di rekomendasikan Hadi padanya.
γ
"Baiklah, aku tunggu kamu di sana ". Dan itu adalah pembicaraan terakhir antara Hadi dan Dave tepat sesaat sebelum mereka akhirnya bertemu di kafe Diantarga sesuai rencana.
__ADS_1
γ
γ