TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 25


__ADS_3

GELISAH


❤❤❤❤❤❤


 


Kalau di hitung-hitung, mungkin sudah lebih dari sepuluh kali Feya berusaha berganti posisi, Feya berusaha mencari posisi tidur ternyamannya malam ini. Tetapi apa pun itu, mau mereng ke kiri atau pun ke kanan, terlentang atau pun menelungkup, tetap dia belum bisa menemukan posisi terbaik. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih dua puluh menit, mata Feya masih terbuka memperhatikan langit-langit kamar Leya.


 


Malam ini sengaja Feya mensetujui permintaan Leya agar dirinya menginap di apartemen Leya. Feya sengaja mengiyakan permintaan Leya itu dengan alasan besok pagi Leya akan terbang ke Negara H, jadi malam ini dia ingin bersama kembarannya, sebab mereka akan berpisah dua minggu lamanya. Sedangkan bagi Leya, setujunya Feya tidur bersamanya malam ini merupakan awal yang baik. Karena dengan begitu Feya akan semakin cepat bersosialisasi dengan lingkungan apartemennya, maka akan semakin bagus permainan mereka nanti.


 


"Kenapa kamu belum bisa tidur juga?" Tanya Leya yang sedari tadi merasa terganggu dengan usaha Feya mencari posisi nyaman untuk membuat matanya merasa lelah dan tertidur.


 


"Mungkin karena tidak terbiasa dengan lingkungan di sini". Jawab Feya dari belakang punggung Leya.


 


"Apakah kamu perlu sesuatu?" Leya berkeinginan membuat Feya nyaman.


 


"Tidak, tidak ada. Sudah tidurlah, besok pesawatmu berangkat pagi. Kamu harus banyak istirahat". Feya berusaha membuat Leya kembali tidur.


 

__ADS_1


"Fe?" Ujar Leya sambil merubah posisi tidurnya menghadap ke arah Leya.


 


"Hemmm", jawab Feya singkat.


 


"Kamu ingat, dulu waktu kita masih berumur enam tahun. Saat kamu tidak bisa tidur seperti ini, Papa pasti akan mengelus rambutmu dan entah bagaimana setelah itu kamu pasti tidurnya nyeyak". Leya bertanya pada Feya.


 


Feya tersenyum mengingat moment tersebut. Bukan sekali dua kali hal itu terjadi di masa kecil mereka, Feya sendiri tidak tahu apa penyebabnya dia bisa merasa sangat tenang hanya dengan usapan lembut tangan Papa dirambutnya. Dan benar saja, tidak lama setelah itu Feya pasti akan terlelap, tidur nyenyak dan tenang.


 


Feya merasa bahagia mengingat kejadian di masa lalu mereka. Kemudian Feya memiringkan badannya hingga sekarang wajahnya dan Feya sejajar,  beradu pandang.


 


 


"Apakah kamu mau, kalau saat ini aku usap kepalamu?". Leya berusaha memberi solusi pada kembarannya itu agar bisa tertidur segera seperti masa kecil mereka dulu.


 


"Tidak usah, sebentar lagi aku juga pasti akan tertidur. Aku hanya perlu menyesuaikan diri dengan situasi baru ini". Jawab Feya menyakinkan Leya.


 

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau bermain peran bersamaku" ucap Leya tulus sambil memberikan Feya senyum terbaiknya.


 


"Dan jangan lupa berdoa, semoga aku bisa dan semua tidak berakhir sia-sia". Feya mengingatkan Leya.


 


"Jangan kawatir, semua pasti lancar. Kita sudah membahas ini berkali-kali, aku sudah mempersiapkan semua sebaik mungkin, sesempurna mungkin". Ucap Leya penuh percaya diri.


 


"Jangan suka mendahului Tuhan, doa tetaplah hal penting kalau kita mau sukses". Feya tidak ingin Leya terlalu sesumbar. "Sekarang pejamkanlah matamu, besok aku akan mengantarmu ke bandara".


 


"Terima Kasih kembar". Ucap Leya sambil mencium pipi kanan Feya.


 


Feya hanya menjawab ucapan terima kasih Leya dengan senyum yang terlukis kecil di wajahnya. Hatinya masih belum tenang, jiwanya masih meragukan kemampuannya sendiri untuk memulai semuanya besok. Tetapi semua telah terlanjut disetujuinya, usahanya untuk mundur hanya akan membuat Leya menangis tersedu-sedu karena rasa kecewa padanya.


 


Jadi untuk saat ini, Feya hanya mampu memberikan Leya seulas senyum kecil sebagai wujud kegundahan hatinya untuk esok hari.


 


Semua keinginanmu, walaupun aku telah jujur padamu, aku tidak sanggup tapi kau tetap memaksaku. Semoga Tuhan mengasihani aku sehingga aku tidak membuat semua menjadi berantakan. Jangan ada penyesalan di kemudian hari Le.

__ADS_1


 


 


__ADS_2