
PENYAMARAN (1)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
Dave berjalan santai ke lantai 1, seperti biasa sang Mama sudah menunggu di meja makan untu sarapan pagi bersama. Sebuah kebiasaan yang akan di pertahankan oleh Dave selama dirinya tidak sedang tugas keluar kota, semenjak sang Papa sudah tiada. Dave berusaha membuat segala sesuatunya seperti biasa. Meskipun sulit, Dave selalu berusaha untuk sang Mama dan adik tercintanya.
 
"Pagi sayang ". Sapa Mama di lengkapi senyum di sudut pipi tuannya saat melihat Dave berjalan ke arahnya
 
"Pagi Ma ". Jawab Dave plus satu kecupan sayang di pipi kanan sang Mama.
 
"Duduk nak, Mama akan ambilkan sarapamu !" Dan tangan Mama terlihat lincah menyusun orek telor serta dangin bacon dan selembar roti gandum di piring saji Dave.
 
"Nyenyak tidurmu ?" Tanya Mama sambil meletakkan piring saji berisi sarapan Dave tepat di depan anak lelakinya itu.
 
"Lumayan Ma ". Jawab Dave tanpa memperjelas arti kata-katanya. Padahal jelas bagi Dave kata lumayan itu memiliki sambungan, lumayan susah tepatnya. Ya, memang benar. Dave memang lumayan kesulitan memejamkan mata lelahnya semalam. Jelas matanya sudah ngantuk, badannya sudah sangat penat dan hatinya sudah letih. Tetapi tepat saja, dirinya tidak bisa tidur nyenyak. Sosok Feya selalu saja hadir di dalam kepalanya, tepat di saat Dave memejamkam matanya. Sosok wanita yang menurut Dave tidak mencintainya, tidak menginginkan dirinya.
 
"Ini hari ketiga nak, apa kamu sudah yakin ?" Tanya Mama yang telah duduk di depan Dave.
 
"Iya Ma..besok Mama undang saja semua yang Mama mau ! Sama seperti yang Tomo sampaikan pada Mama, aku akan terima siapapun pilihan Mama !" Dave terlihat memainkan sarapan paginya, bukan memakannya.
 
"Kamu janji Dave ?" Tanya Mama masih dengan senyum di wajah tuanya. Dave bisa melihat kalau pagi ini sang Mama sangat senang. Senyum Mama terlalu manis, seakan itu merupakan pancaran langsung dari hatinya.
 
Aneh...
Pikir Dave heran.
 
__ADS_1
"Aku janji Ma ". Jawab Dave tegas.
 
"Bagus...Maka saatnya tiba, Mama akan tagih janjimu, nak ". Mama bertepuk tangan pelan beberapa kali.
 
Asalkan Mama senang, aku akan lakukan apapun. Toh, Mama pasti akan memilih yang terbaik untukku. Setidaknya aku masih punya harapan kalau gadis pilihan Mama akan belajar mencintaiku, dan bukan menjadikan aku korban dalam permainan perannya.
 
***************
 
"Ibu sudah siap ?" Tanya Menik saat telah mendapat izin masuk ke dalam kamar hotel Feya.
 
"Sudah Nik, ini ". Feya mengangkat kedua tangannya dan mengerakkannya dari atas sampai bawah, sebagai wujud pembuktian kalau dirinya sudah siap.
 
"Bu, ini ada benda yang bisa memantau pergerakan Ibu mirip GPS. Ini Pak Rojer berikan pada saya tadi untuk Ibu, kata beliau Ibu harus simpan ini di tempat paling aman. Supaya dia selalu bisa memantau keberadaan Ibu, keselamatan Ibu dimanapun ". Jelas Menik sambil terus berjalan ke arah ranjang Feya.
 
 
"Bagusnya saya taruh di mana ya Nik ?" Feya masih saja membolak balik benda kecil yang berlapis tembaga itu.
 
"Di saku celana panjang Ibu saja, gimana ?" Menik melihat ke arah celana bahan Feya yang berwarna hitam pekat itu.
 
"Begitu ya ?" Feya sedikit ragu.
 
"Atau di kepang rambut Ibu saja ? Lebih tersembunyi dan lebih nggak logiskan kalau ada alat seperti itu di sana ". Tunjuk Menik kearah rambut Feya yang telah di kepang rapi dan di sematkan sebuah jepit mutiara warna hitam, senada dengan warna celana panjangnya sebagai hiasan rambutnya.
 
"Iya..kamu benar Menik ". Feya pun mencoba menyelipkan benda kecil pemberian Menik tadi di sela-sela kepangan besar rambut hitamnya itu. Dan hasilnya sangat bagus, benar-benar tidak terlihat kalau di antara rambut hitam yang terjalin rapi itu ada benda logam yang berfungsi sebagai GPS.
__ADS_1
 
"Cerdas ". Puji Feya pada Menik.
 
***************
 
"Bagaimana Tom ?" Sesaat sebelum Tomo melangkah keluar mengikuti langkah sang tuan, ternyata nyonya besarnya, Ibunda Dave menghentikan langkah lelaki yang sangat setia pada Dave ini.
 
"Memang benar nyonya, gadis itu ada di negara kita. Ini ". Tomo memperlihatkan handphonenya kepada sang nyonya.
 
"Ini nyonya..ini ". Tunjuk Tomo pada wajah seorang gadis di layar handphonenya.
 
"Coba kamu pausekan ! Mata saya kurang jelas ", pinta sang nyonya.
 
Tomopun mengulang video yang ada di dalam handphonenya. Video yang berisi lalu lalang orang-orang di bandara negara mereka, terlihat jelas ada banyak jenis manusia yang mungkin baru saja datang dari berbagai tempat, dari berbagai negara mungkin juga. Dan kemudian, Tomo menghentikan putaran Video tersebut tepat di bagian wajah seorang gadis bermata biru gelap dengan baju kemeja berwarna putih dan celana jeans biru terang.
 
"Ini ?" Tanya sang nyonya penasaran.
 
"Benar nyonya ". Wajah Tomo terlihat serius
 
"Bagus, kalau anakku tidak mau memperjuangkannya. Biar aku yang berusaha untuk dia. Sepertinya Dave akan berterima kasih padaku kalau aku bisa menyelesaikan masalahnya ini ". Guman senang sang Ibunda Dave sambil memikirkan sesuatu. Entah apa itu, yang jelas dirinya memang sangat senang hari ini. Sama seperti dugaan Dave tadi di meja makan.
 
"Berapa lama lagi kau akan di dalam ? Tomo !" Teriak Dave kesal memanggil Tomo yang ternyata masih bertahan tepat di depan sang nyonya.
 
"Tinggal sedikit lagi Tom, kau harus selesaikan semua ini ! Demi Dave, demi kebahagiaannya !" Titah sang nyonya yang sangat di sukai oleh Tomo. Diam-diam di dalam hatinya Tomo berjanji akan memenuhi permintaan sang nyonya dengan sepenuh jiwa.
__ADS_1