TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 140


__ADS_3

TIDAK BERDAYA


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Monternio berjalan santai ke arah Feya yang telah tertelungkup tidak sadarkan diri di lantai. Sebuah benda logam tajam menusuk bahu kanannya, entah seberapa dalam luka itu. Yang jelas kemaja Feya di bagian tersebut telah berubah warna menjadi merah segar. Monternio tersenyum memandangi Feya yang terlihat sangat tidak berdaya, bagaikan manusia tanpa dosa dengan tenang Monternio menendang pelan kaki Feya. Mungkin kalau selama ini terdengar kata manusia psikopat, sepertinya sosok Monternio cocok menerima kata itu.


 


"Feya, ngapain kamu lari ? Kamu bodoh sekali ". Monternio masih menendang pelan kaki Feya.


 


"Kan sekarang jadi luka, terus pingsan lagi. Hehehe ". Monternio cekikikan bahagia.


 


"Ngelawan sih sama aku, ya...rasakan pembalasanku ". Tanpa belas kasih Monternio menarik benda logam yang sangat tajam di punggung Feya, hingga membuat cairan segar berwarna merah semakin banyak tertumpah.


 


"Ih...baju kamu jorok banget deh ". Monternio sibuk berbicara sendiri pada sosok Feya yang mulai berangsur-angsur memutih.


 


"Sini aku buka baju kamu ya ". Monternio membalik badan Feya, mengendong tubuh tidak berdaya itu kembali ke atas ranjangnya.


 


"Aku bukain baju kamu, terus nanti kamu kasih aku upah ". Senyum penuh niat busuk terkembang di wajah tampan itu.

__ADS_1


 


"Kamu tetap harus bertugas memuaskan aku ! Ya, kalau hasilnya bagus aku akan menyuruh orang merawat lukamu. Tapi, kalau hasilnya jelek. Aku akan berikan kamu ke hewan peliharaanku ". Monternio mulai menyentuh pipi pucat Feya.


 


"Seharusnya kamu itu nggak nakal tadi, hehehe ". Monternio mengelus pipi pucat itu. "Jadi kamu bisa merasakan surga dunia. Aku bakal buat kamu menjerit bahagia sepanjang malam ini. Tapi, ya sudahlah..perduli setan. Yang penting aku tetap mau merasakan tubuhmu ". Tanpa belas kasih Monternio mulai naik ke atas tubuh Feya. Dengan bertopang pada 2 lututnya, Monternio memandangi Feya intens.


 


"Siap Feya ". Jakun Monternio terlihat bergerak naik turun, jelas otaknya sudah tidak bersahabat lagi.


 


"Ooo, sulitnya buka bajunya ? Monternio mengerakkan lidahnya, membasahi bibir tegasnya. "Tenang feya, aku akan bantu kamu membuka semua lembaran benang yang melekat di tubuhmu ini ".


 


Senyum penuh nafsu terlihat jelas di mata Monternio, wajah ketidak beresan membuat lelaki itu terkesan biadab. Santai dan tanpa dosa, membiarkan Feya memutih dengan luka di bahunya. Sekarang malah tanpa rasa kemanusiaan berpikir untuk menodai gadis yang mungkin sudah terbang entah kemana separuh nyawanya itu.


 


 


"Kancing pertama Feyaaaaa ". Sekarang Monternio memandangi susunan kancing berikutnya yang bertenger rapi di kemeja Feya.


 


"Aku udah gak sabar nih ". Kancing kedua berhasil di selesaikan Monternio begitu saja.


 

__ADS_1


Mata monternio membulat sempurna, pemandangan tulang selangka Feya membuat nafsunya semakin naik saja.


Isi kelapa Monternio sudah mengarah ke hal-hal paling indah, tetapi itu versi dirinya. Keindahan yang akan merusak Feya selamanya. Meskipun Feya tidak berdaya, lemah dengan luka mengangga. Monternio tetap memasang wajah bahagia, sepertinya Monternio benar-benar sudah gila, gila pada segala macam rencananya untuk menikmati apa yang bukan menjadi haknya sebagai lelaki, tepatnya lelaki dewasa.


 


*****************


 


Prankkkkk....


 


"Astaga Ma..kenapa ?" Sosok lelaki paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Feya berlari menghampiri isterinya. Terlihat serpihan kaca di lantai yang berasal dari sebuah gelas sudah berderai halus.


 


"Mama juga enggak tahu Pa, tiba-tiba aja jatuh ". Suara sang isteri terdengar sangat cemas. "Pa...perasaan Mama gak enak, Mama keinget Feya ".


 


Wanita paruh baya yang kecantikkannya sama dengan Feya ini tetiba bisa merasakan ada ketidak beresan di sana, pada Feya anaknya. Mungkin seperti itulah perasaan seorang Ibu pada anak terkasihnya, anak yang di kandung 9 bulan lamanya, sehingga bisa memiliki ikatan batin begitu besar sampai masalah terkecil saja, sang Mama bisa merasakan. Percaya atau tidak, Mama tahu kalau Feya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


 


"Feya, kenapa Ma ? Feya itu baik-baik saja. Ini pasti karena Mama merindukan mereka ya, jadinya kepikiran ?" Sang suami, Papa dari si kembar ini mencoba membuat isterinya lebih tenang.


 


"Pa...cepat hubungi Feya. Perasaan Mama benar-benar tidak enak ". Nyaris menangis sang isteri mengajukan sebuah permintaan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2