TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 87


__ADS_3

MENGHINDAR


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


γ€€


Feya telah sampai di apartemennya, memilih duduk sesaat di meja makan untuk sekedar menarik nafas, jelas dia perlu menenangkan diri.


γ€€


Berhasil meloloskan diri dari Hadi, Feya berusaha secepat mungkin meninggalkan restoran tempat mereka makan malam. Suasana hatinya benar-benar kacau, Dave telah membuat Feya ketakutan. Sehingga Feya sangat terpaksa kembali ke apartemennya bukan apartemen kembarannya. Ada sedikit keraguan di dalam hati Feya jika kembali ke tempat Leya. Dirinya takut Dave akan mencarinya kesana, entah kenapa tapi perasaan Feya mengatakan semua ini belum berakhir, Dave masih akan berusaha menemuinya lagi.


γ€€


Pusing di kepala Feya masih terasa, sepertinya efek wine masih mendera isi kepalanya. Sesekali Feya memijat pelan keningnya, menyesali kebodohannya menghabiskan satu gelas wine tanpa berpikir panjang. Syukur dia masih bisa sampai ke apartemennya dengan selamat. Kalau saja dia lebih mabuk dari ini, Feya tidak bisa membayangkan nasib permainan perannya ini.


γ€€


Feya berdiri, mendekati lemari es mencari sebutir buah lemon, kemudian Feya mengiris tipis setengah buah lemon itu dan merendamnya dengan air panas dalam sebuah gelas berukuran sedang.


γ€€


Feya membawa gelasnya ke kamar, meletakkan di atas meja riasnya. "Aku lebih baik mandi, mungkin air dingin bisa mengurangi efek denyutan di kepalaku ". Sambil menunggu air di dalam gelas lebih dingin, Feya pun memilih mandi.


γ€€


Feya berdiri di bawah keran air, membiarkan rambut panjangnya terguyur air dingin. Feya sengaja berlama-lama di sana, hatinya sedang tidak menentu, semua terasa kacau. Bayangan ciuman pertamanya di balkon villa Dave memulai rangkaian memorinya saat ini. Jelas Feya mengingat semua, bagaimana dia tersudut di dalam kurungan tangan Dave, bagaimana lembutnya Dave menyentuh bibirnya, bahkan bagaimana Dave memaksa Feya agar meresponnya. Feya ingat semua tanpa terkecuali.


γ€€


Dave yang selalu punya ide-ide aneh untuk menyelamatkannya dari menu makanan yang dipilihkan Hadi untuknya, bahkan saat makan malam Feya bersama Hadi berakhir dengan dirinya nyaris pingsan. Dave juga yang menyelamatkannya, membawanya ke sebuah klinik pengobatan. Dave selalu muncul untuknya, selalu tahu apa yang dia tidak suka dan cepat mencegah dirinya untuk tidak melakukan itu. Dave begitu peka, dia tampan, dia baik. Dia selalu memuji Feya cantik, Dave bahkan bisa menjadi teman yang pandai menghibur Feya.


γ€€


Feya harus mengakui, Dave hebat dalam mengenali dirinya. Benar, hanya dalam waktu 2 hari seorang Dave bisa dengan mudahnya menyimpulkan apa yang disukai dan tidak disukai Feya. Parahnya, kesimpulan tentang ciuman pertama Feyapun, Dave juga benar. Feya mengelengkan kepalanya, membuat air yang jatuh kekepalanya berserakan kemana-mana.


γ€€


"Kenapa, kenapa jadi seperti ini ?" Guman Feya pada dirinya sendiri.


γ€€


"Bagaimana sosok lelaki yang baru saja muncul dalam hidupku bisa dengan mudahnya mengenali semua kebiasaanku, bahkan mengambil ciuman pertamaku ?"


γ€€


"Apa mau Dave ? Kenapa dia mengacaukan permainanku ? Padahal aku sudah semakin hebat membuat Hadi yakin, kenapa Dave malah muncul ?" Feya sangat ingin berteriak, terlalu banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya. "Bagaimana sekarang ? Aku harus apa ?"


γ€€


Cukup lama Feya berdiam diri di dalam kamar mandinya, badannya mulai merasa dingin. Akhirnya Feya menyudahi mandinya dan segera keluar serta berpakaian. Air irisan lemonnya sudah mulai dingin, tidak sepanas tadi. Feya duduk di tepi ranjangnya sambil membawa gelas minumnya. Perlahan Feya mulai menyeruput air hangat yang terasa agak asam di lidahnya. Beberapa kali Feya mengulangi seruputannya, sepertinya ada efek posistif yang Feya rasakan. Denyutan di kepalanya sedikit berkurang, perasaanya lebih tenang.


γ€€


"Kenapa Dave sibuk mengurusi masalah perasaanku terhadap Hadi ? Padahal dia juga bukan sahabat Hadi, mereka baru berteman setelah menjadi rekanan proyekkan ? Lantas kenapa Dave sampai sebegitu kerasnya meminta aku meninggalkan Hadi, apa pedulinya ?" Ternyata Feya belum bisa menyudahi semua pertanyaan yang masih tersimpan di banaknya.


γ€€


Sekali lagi, Feya menelan air putih yang rasanya asam dalam gelas di tangan kanannya itu. Air baru saja tertelan, rasa asam belum sepenuhnya hilang dari lidahnya, Feya dikejutkan dengan bunyi panggilan masuk di teleponnya. Feya berdiri, mengambil benda kecil berwarna hitam yang sibuk berdering tidak mau berhenti.


γ€€


Dave, nama itu tertulis di layar handphonenya.


γ€€


Feya menatap layarnya, dia memilih mengabaikan panggilan Dave.


γ€€


Panggilan berakhir, Feya membawa handphonenya keranjang tempat tadi dia duduk. Feya menatap layar yang telah hitam itu. Dirinya mulai bingung, apa yang harus dilakukannya sekarang. Belum selesai Feya dengan kebingungannya, ponselnya kembali berbunyi dan nama Dave muncul lagi di layar. "Apa yang harus aku lakukan ?" Feya bertanya pada layar handphonenya.


γ€€


Lama handphone itu berdering meminta Feya agar segera menerima panggilan masuk di layarnya. Tetapi Feya hanya diam sambil memandangi layar handphonenya, dirinya masih belum mendapatkan solusi terbaik atas semua masalahnya malam ini.


γ€€


Waktu berlalu, malam mulai merangkak naik. Feya sudah merasa lebih baik, efek air irisan lemon tadi cukup besar pengaruhnya untuk membuat perasaannya lebih tenang. Akhirnya Feya memilih merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya, menarik selimut dan mencoba berdamai dengan malam. Dia harus berusaha beristirahat, tenaganya sudah habis terkuras karena memikirkan seorang Dave begitu lamanya.


γ€€


Feya memaksa memejamkan matanya, padahal mata biru gelap itu masih enggan di pejamkan. Feya berharap dengan memejamkan matanya, maka bayangan Dave akan segera hilang dari hidupnya. Sayang, baru saja matanya terpejam handphone Feya kembali berbunyi. Dengan malas Feya mengapai handphone yang berada di sisi kanan meja ranjangnya. Ternyata Leya, kembarannya yang menelepon.


γ€€


"Sudah tidur ?" Leya segera bersuara begitu tahu Feya telah menerima panggilan masuknya.


γ€€

__ADS_1


"Belum, baru mau ". Jawab Feya singkat. "Kamu juga belum tidur ?"


γ€€


"Aku lagi senang Fe, rasanya mata ini sangat susah di ajak tidur ". Ada nada suara senang yang terdengar oleh Feya di ujung teleponnya.


γ€€


Sama aku juga lagi susah untuk tidur, tapi bukan karena senang. Melainkan karena pusing dengan permainan peran ini.


γ€€


"Fe, kamu dengar aku kan ?" Leya heran tidak mendapat respon dari kembarannya.


γ€€


"Hemm ". Jawab Feya acuh.


γ€€


"Aku tadi berhasil buat menu sarapan pagi, sandwithc dengan acar timun. Hasilnya sempurna, rapi dan enak. Tingkat kematengan dagingnya bagus. Fe, aku sampe di puji sama Koki pengajar, setelah beberapa hari aku selalu dimarahi, tapi hari ini aku di puji loh Fe. Aku seneng banget, aku hebatkan Fe ?" Leya sibuk berbicara di ujung telepon tanpa tahu bagaimana suasana hati kembarannya saat ini.


γ€€


"Aku ada masalah ". Feya membuat gelak tawa senang Leya berakhir, Leya langsung diam.


γ€€


"Apa, kenapa Fe ?" Tanya Leya kemudian.


γ€€


"Seorang teman Hadi mencurigai aku tidak mencintai tunanganmu Itu ". Suara Feya terdengar kesal.


γ€€


"Teman Hadi ? Siapa ?" Leya mulai penasaran.


γ€€


"Namanya Dave ".


γ€€


"Dave ?" Kemudian Leya hanya diam. Sesaat kemudian, "aku tidak pernah mendengar nama itu ?"


γ€€


γ€€


"Pantas aku tidak mengenal nama lelaki itu ". Kalau Feya bisa melihat, saat ini Leya sedang menganguk sambil terus memegang handphonenya.


γ€€


"Apa yang dilakukannya ?" Tanya Leya.


γ€€


"Dave tahu aku tidak memiliki rasa pada Hadi, dia bisa mengenali semua gerak-gerikku ". Feya terdengar sangat frustasi. "Kita harus mengakhiri ini Le, Dave bisa melakukan kekacauan dalam permaian kita. Hubunganmu dan Hadi bisa dalam masalah ".


γ€€


"Tidak, jangan Fe !" Rengek Leya cepat. "Aku baru saja di puji dengan hasil masakanku. Masa semua harus berakhir ".


γ€€


"Leya, ini masalah serius. Dave bisa mengacaukan semuanya. Dia begitu bersemangat memaksa aku mengakui kalau aku tidak mencintai Hadi. Kamu tahukan apa artinya ituΒ  ?" Feya hilang kendali, suaranya meninggi, dia sangat kesal.


γ€€


"Iya, iya..aku tahu. Kan kamu bisa cari cara apa gituh. Tinggal seminggu lagi Fe. Masa ini semua berakhir sampai di sini. Percuma dong usaha kita, padahal aku sudah mulai bisaloh ". Leya masih saja merengek di ujung telepon.


γ€€


"Kamu sudah gila ? Mempertaruhkan pertunanganmu dengan Hadi hanya karena masalah memasak ?" Tingkat kekesalah Feya bertambah. "Ini tuh masalah serius Le. Dave bisa kapan saja mengacaukan semuanya. Kamu tahu, aku sampai harus menghindar darinya malam ini ? Aku sampai harus membuat begitu banyak kebohongan demi bisa membuat Hadi percaya agar bisa membiarkan aku pergi. Aku bahkan tidak berani kembali keapartemenmu karena takut Dave akan mencariku ke sana ". Feya menghembuskan nafas dalam.


γ€€


"Kan kamu berhasil menghindar ". Leya masih kekeh.


γ€€


"Leya, kamu dengarkan semua perkataanku tadi ?" Feya masih berbicara dengan nada suara tinggi.


γ€€


"Fe, kamu tega menyuruh aku pulang sekarang ?" Ada getarΒ  sedih dalam suara Leya, sepertinya dia sedang menahan tangisnya


γ€€

__ADS_1


"Ya ampun Le, pertanyaamu bodoh sekali. Kamu tanya masalah tega ? Hahaha ". Feya tertawa kesal. "Pasang telingamu, dengar baik-baik !" Suara Feya berubah dingin. "Dave ingin aku meninggalkan Hadi, Dave tahu aku tidak memiliki rasa apapun pada Hadi. Bahkan dia berniat memberitahu Hadi, bahwa aku tidak mencintainya sama sekali. Kamu dengar itu ?"


γ€€


"Ya, aku dengar. Hiksss ". Leya mulai menangis. Mencoba merayu Feya dengan tangisannya.


γ€€


"Bagus, segera pulang !" Perintah Feya tegas.


γ€€


"Hadi tidak akan percaya begitu saja pada si Dave itu. Kan kamu yang bilang mereka baru berteman, Hadi tidak akan semudah itu terpengaruh olehnya. Hadi mencintai aku, dia tidak akan termakan kata-kata Dave. Percaya padaku ! Tinggal bagaimana kamu menjalankan peranmu saja di depan Hadi dan Hadi tidak akan menanggapi Dave. Aku jamin ". Di sela air matanya Leya mencoba menjelaskan pada Feya.


γ€€


"Astaga Leya ". Feya mengakat tangan kirinya tinggi. Rasanya dia ingin mengapai kepala kembarannya itu dan memukulnya berkali-kali agar otaknya bekerja dengan baik.


γ€€


"Fe, aku mohon. Kamu tinggal mainkan saja peranmu dengan baik. Hanya seminggu lagi. Berusahalah menjauh dari Dave, dan saat bersama Hadi, buatlah dirimu semirip mungkin denganku ". Leya bersungguh-sungguh dengan permintaannya.


γ€€


"Leya, apa tidak ada sedikitpun rasa takut di hatimu. Ini bukan masalah sepele. Andai saja tidak ada seorang Dave, mungkin aku akan berani melanjutkan semua. Tapi ini berbeda Le, Dave bisa nekat. Leya, yang dipertaruhkan di sini adalah masa depan pertunangan kalian ". Feya tidak habis pikir.


γ€€


"Pulanglah, kamu tetap bisa belajar masak di sini. Kamu tetap bisa merahasiakan itu dari semuanya dan semua malah lebih aman !" Feya mencoba berbicara pelan, demi membujuk Leya.


γ€€


"Kamu, kamu tidak mau bantu aku lagi ? Hiksss ". Suara tangis Leya semakin menjadi.


γ€€


"Leya, astaga. Kamu gomong pake otak nggak sih ?" Feya sudah sampai batas kesabarannya. "Kamu pikir ini semua masalah sederhana. Leya, bukan nasih pernikahanku yang sedang aku selamatkan. Tapi ini semua tentang kamu. Aku mohon, jangan konyol ! Kamu akan menyesal ". Feya sudah tidak bisa bersabar lagi.


γ€€


"Ya, kamu enak. Bisa masak. Bisa membuatkan menu apapun untuk suami dan anakmu kelak. Sedang aku ? Seminggu belajar baru hari ini bisa, itupun hanya satu jenis masakan yang sangat sederhana sekali. Tentu saja kamu enggak ngerti perasaan aku. Aku sebentar lagi menikah, tapi enggak bisa masak. Hikss ". Terdengar Leya tidak kalah kesalnya dengan Feya.


γ€€


"Ya Tuhan ". Feya sudah kehilangan kata-kata sekarang. Energinya telah terkuras habis, baru saja bisa sedikit tenang setelah menghadapi Dave tadi, sekarang malah dihadapkan dengan kembarannya sendiri. "Jangan keras kepala ! Pulanglah !"


γ€€


"Iya, tapi minggu depan ". Jawab Leya tegas. Leya telah menghapus air matanya. "Aku akan menyelesaikan pelajaran memasakku seminggu ini. Dan minggu depan aku pulang. Aku harap kamu mau bantu aku sesuai perjanjian kita. Ingat kamu sudah janji padaku !".


γ€€


"Kamu jangan keras kepala juga Le. Cobalah berpikir ". Feya masih mencoba membujuk Leya. "Kamu akan menyesal nanti ".


γ€€


"Semua tergantung kamu Fe, selagi kamu bisa menjalankan peranmu, maka semua akan baik-baik saja. Jangankan satu Dave, 10 orang Dave saja tidak akan mengoyahkan hubunganku dan Hadi. Tidak segampang itu ". Jawab Leya ponggah.


γ€€


"Jangan sombong kamu, jangan takabur ! Penyesalan selalu di akhir. Kalau sudah terjadi kamu baru merapati, apa gunanya lagi ?" Feya sangat malas mendengar kata-kata Leya barusan.


γ€€


"Percaya sama aku ! Kamu tinggal menjalankan peranmu dengan baik, hindari si Dave itu dan semua masalah selesai. Aku akan pulang minggu depan ". Leya sudah mengambil keputusan.


γ€€


Feya menarik nafas panjang dan menghembuskannya, dia menyerah. Kembarannya terlalu keras kepala, terlalu angkuh bisa membuat semua tetap berjalan sebagai mana mestinya. "Terserah padamu Le, aku sudah mengingatkanmu. Toh ini adalah hidupmu, pertunanganmu, pernikahanmu. Terserah kamu mau apa, aku tidak akan ambil pusing lagi ".


γ€€


"Gituh dong kembaranku sayang. Santai saja, mari kita mainkan permainan kita, tinggal seminggu lagi. Saat aku pulang nanti, semua pasti baik-baik saja. Seakan-akan tidak pernah terjadi apapun, hehehe ". Terdengar suara cekikikan Leya di ujung telepon.


γ€€


"Aku capek. Aku mau istirahat ". Feya sudah tidak berminat berbicara lagi dengan kembarannya.


γ€€


"Baiklah, selamat istirahat Fe. Makasih ya selalu membantu aku. Aku sayang banget sama kamu ". Ucap Leya dengan tulus.


γ€€


"Hemmm ". Jawab Feya malas dan cepat mematikan teleponnya.


γ€€


Terserah padamu, kamu ingin semua tetap berlanjutkan ? Baiklah aku akan lanjutkan peranku tapi aku tidak bisa berjanji semua akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi setelah ini, jangan coba-coba menyalahkan aku ! Jelas semua bisa terjadi karena kamu keras kepala Le.

__ADS_1


γ€€


__ADS_2