
TIDAK BERPENGALAMAN
πΉπΉπΉπΉπΉ
γ
Langkah kaki Feya belumlah terlalu jauh dari Dave, Dave bisa melihat kalau saat ini Feya sedang berusaha mengatur nafasnya kembali. Sepertinya Feya tengah mencoba mengembalikan ketenangannya. Dave tersenyum melihat Feya memegang dadanya sambil beberapa kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Jadi, aku tidak gila.Β Dave tersenyum senang. Leya juga merasa ada yang salah dengan semua ini. Kalau tidak, mana mungkin dia terlihat sama kacaunya dengankukan?Β Dave memiliki kesimpulan sendiri.
γ
"Tunggu". Dave bergegas mengejar Feya, berusaha menghentikan wanita cantik yang membuat dia merasa bingung sesaat tadi.
γ
"Aku, aku harus ke bawah. Takut Hadi nanti mencariku". Feya berusaha melanjutkan langkah kakinya.
γ
Apa Hadi? Heh, aku benci mendengar nama itu terucap dari bibirmu.
γ
"Tunggu". Dave memegang tangan Feya, membuat Feya sangat terpaksa berhenti.
γ
"Lihat aku!" Perintah Dave pada Feya.
γ
Feya diam, bersikap seakan-akan tidak mendengar apa yang dikatakan Dave padanya.
γ
"Demi Tuhan, tatap aku!" Dave sangat kesal diabaikan oleh Feya.
γ
Jangan Fe, jangan dengarkan dia. Cepat pergi, menjauhlah darinya. Hati kecil Feya berusaha menasehati Feya solusi terbaik untuk saat ini. Berusaha membuat Feya tetap berpikir logis.
γ
"Lepas, aku mau kebawah". Feya masih sepakat dengan hati kecilnya, berusaha menghindar jauh dari Dave.
γ
__ADS_1
"Lihat aku!" Suara Dave berubah dalam, mencerminkan betapa kesalnya dia saat ini. Tidak cuma itu, Dave pun sengaja mengeraskan cengkeramannya pada tangan Feya.
γ
"Sakit, sakit". Feya terpaksa berbalik menatap kesakitan pada Dave. Astaga, kenapa dia terlihat menakutkan? Apa dia marah? Feya bergidik ngeri.
γ
"Akhirnya kamu mau menatapku". Dave mengendorkan pengangannya dari Feya, tetapi tidak melepaskan Feya.
γ
Feya menghindar, berusaha melangkah mundur. "Le-lepaskan tanganku, aku mau kebawah". Feya mulai di buat takut dengan sikap Dave padanya.
γ
Ke bawah? Buat apa ha? Buat menemui tunanganmu itu? Cih. Aku tidak suka kamu menemuinya.Β Entah kenapa pikiran itu muncul begitu saja di alam bawah sadar Dave.
γ
Terlihat ada tarikan tipis di tiap sudut wajah Dave. Entah apa artinya itu, yang jelas Feya merasa semakin takut, Dave terlihat bukan seperti Dave yang dikenalnya, Dave begitu berbeda. Tapi tunggu dulu, apa benar Feya sudah mengenal Dave dengan baik? Feya menatap mata Dave, terlihat ada tatapan tidak senang di sana. Ya, tatapan yang sangat tidak senang tersorot ke arahnya. Ke-kenapa? Aku salah apa? Kenapa Dave membuat dirinya terlihat menakutkan?
γ
Feya terus melangkah mundur, sesekali mengerakkan tangannya yang masih tertahan di genggaman Dave, berusaha melepaskan diri. Feya berusaha terus melangkah, dia tengah menghindar dari Dave.
γ
γ
"Dave". Feya berusaha mengajak Dave berbicara baik-baik. "Tolong, tolong lepaskan tanganku". Feya terlihat mulai memohon.
γ
Bukan memenuhi keinginan Feya, Dave malah memerangkap Feya di dinding dan terus menatap kearah bibir Feya, tengah mengamati dengan sikap posesif. Seakan-akan merasa dirinya perlu menelusuri setiap inci rasa yang akan dihadiahkan bibir seksi itu padanya.
γ
Apa yang harus aku lakukan?Β Aku harus berpikir, cepat Feya berpikir !
γ
Dengan telunjuknya, Dave mulai mengenali bibir Feya. Pelan menyentuh dan merasakan kelembutan bibir yang begitu mengoda dirinya.Β Lembutnya..
γ
__ADS_1
Feya membelalakkan mata, rasanya dia lupa cara bernafas yang benar seperti apa, sentuhan Dave membuat otaknya buntu. Jujur, Feya tidak pernah mempersiapkan diri ada pada situasi seintens ini. Tidak pada lelaki di masa lalunya dan tidak pada Dave hari ini.
γ
Belum lagi Feya berusaha bernafas secara baik, tiba-tiba bibir Dave telah menempel pelan pada bibirnya. Hembusan nafas Dave menyentuh wajahnya, ada hawa panas yang menjalar entah dari mana, tetapi benar-benar menyebar secara menyeluruh di setiap inci kulit tubuhnya. Dave begitu lembut menempel di bibirnya.
γ
Apa ini? Kenapa rasanya..... ya Tuhan,Β apa arti ini? Feya mulai memejamkan matanya dan membiarkan semua terjadi.
γ
Astaga, bibirmu sangat manis. Sangat murni, seperti candu yang membuatku ingin terus menikmatinya. Dave memegang lembut kedua pipi Feya dan terus berusaha membiarkan bibirnya menempel lekat di bibir pink itu.
γ
Sayang, pengendalian diri Dave benar-benar sudah goyah. Awal, dia hanya penasaran. Entahlah, mungkin benar seperti itu, hanya ingin mengenali lekuk indah bibir wanita yang dikenalnya dengan nama Leya. Tetapi sekarang? Dave ingin penyelesaian, Dave menuntut lebih dari sekedar kecupan. Terlihat Dave mulai berangsur-angur ******* bibir tipis Feya. Dave sangat suka atas apa yang dirasakannya ini.
γ
Feya gelagapan, dia benar-benar lupa cara bernafas. Rasanya paru-parunya mulai memberontak. Dia harus segera bernafas atau perlahan, dirinya akan mati lemas.
γ
Dave melepaskan lumatannya, menatap Feya yang sangat merona, sangat cantik. "Bernafaslah, bernafaslah, cepat bernafas!" Suara Dave membuat Feya kembali ke dunia nyata.
γ
Secepat kilat Feya menghirup begitu banyak oksigen yang disediakan gratis oleh alam untuknya. Dia tengah berusaha memenuhi setiap sudut rongga paru-parunya dengan kesegaran udara dari kawasan bukit Lestari.
γ
Hampir saja aku mati kehabisan nafas. Feya.
γ
Lucu, seperti orang yang tidak berpengalaman dalam berciuman saja. Dave.
γ
Hingga, "Ehemmmmm". Feya dan Dave dapat mendengar jelas, ada suara manusia lain selain mereka yang tengah berjalan menuju balkon besar lantai dua.
γ
"Si-siapa itu?" Tanya Feya kebingungan.
__ADS_1
γ
γ