
PERASAAN KACAU
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
Hampir menjelang sore, hampir selesai jam kantor di Negara tetangga. Sosok lelaki tampan yang memiliki perusahaan di bidang properti terbesar di Ibu Kota Negara itu, sedang berdiri menatap ke bagian luar jendela kaca besar di belakang meja kerjanya.
 
Sedari pagi hati Dave sangat kacau, pagi ini dirinya bangun sebentuk kerinduan yang semakin besar pada gadis bermata biru gelap yang sangat dicintainya itu.
 
Dave meletakkan tangan kanannya di depan kaca, entah apa yang ada dalam alam pikirannya saat ini.
 
Konsentrasinya terpecah, seharian ini lebih banyak Tomo yang bekerja dari pada dirinya. Sedang Dave, si Presdir muda ini lebih banyak termenung dan berdoa. Berharap handphonenya akan berbunyi, akan ada panggilan masuk dari Feya. Wanita yang sudah memporak-porandakan hidupnya 3 hari terakhir ini.
 
Kadang Dave masih bingung, kenapa Feya harus menyakinkan dirinya tentang perasaan mereka ? Apa yang salah dengan cintanya untuk Feya ?
 
Dave tahu, Feya pasti bisa merasakan kesucian cintanya pada gadis berambut panjang itu. Lantas, kenapa masih ragu ?
 
“Apa aku kurang sabar ?” Dave bertanya pada dirinya sendiri.
 
“Apa aku terlalu kasar ?” Rahang Dave mengeras.
 
“Atau, apa aku kurang perhatian ?” Dave menempelkan keningnya di jendela.
 
“Kenapa Feya ? Apa yang salah padaku hingga kamu harus menyakinkan dirimu tentang cinta kita ? Jelas cinta, tetapi tidak bisa langsung bersama ?” Dave memejamkan mata.
 
Aku rindu kamu Feya, aku rindu seluruh keceriaanmu, tawamu, aroma harum rambut panjangmu, aku sangat rindu kamu. Apa kamu merasakannya Feya ? Bisakah hati kecilmu mendengar bahasa kalbuku yang memanggil-manggil kamu ? Batin Dave penuh harap.
 
Dan sampai detik ini, isi kepala Dave sudah mulai tidak logis lagi
__ADS_1
Antara rindu dan ketakutan kehilangan wanita yang di cintai sudah bercampur satu.
 
“Persetan dengan menguji perasaan ini “, upat Dave kesal sambil berjalan kemeja kerjanya
Dave segera menekan angka di telepon persis di atas meja kerjanya.
 
“Tom, ke ruangan saya !” perintah Dave tanpa memberi kesempatan Tomo bertanya.
 
“Ada apa tuan ?” Tidak butuh waktu lama, Tomo sudah berdiri di depan meja kerja Dave.
 
“Hubungi otoritas bandara, sampaikan kalau pesawatku akan terbang secepat mereka bisa memberi izin terbang ! Kau ikut aku, temanin aku ke Negara tetangga dan mengenai pekerjaan di sini, percayakan pada Ezza !” perintah Dave yang di sambut ketidak percayaan Tomo.
 
“Boleh saya tahu tujuan keberangkatan kita tuan ?” Tomo masih tidak percaya.
 
“Apa lagi kalau bukan menjemput cintaku “. Suara Dave keras.
 
 
“Kau pikir berapa orang wanita yang aku cintai di Negara itu ?” Dave yang memang sudah emosian, sekarang tambah kesal.
 
“Tuan “, Tomo menarik nafas dalam. “Tuan ingat perjanjian tuan dengan ayahnya nona Feya ?” Tomo berusaha berbicara setenang mungkin. Dalam pikiran Tomo, harus ada yang membantu sang tuan untuk kembali menemukan akal sehatnya.
 
Ah, seperti ini ternyata kalau sedang mabuk cinta itu. Seorang Dave Indra Barata bisa berpikir sangat tidak masuk akal, lelaki tangguh super kaya dan penguasa dunia properti, bisa kalut karena masalah hati pada seorang wanita. Batin Tomo berdecak heran.
 
“Ya..aku belum amnesia “. Dave tidak suka.
 
“Dan tuan ingat kalau tuan setuju dengan permintaan ayah nona Feya ?” Tomo masih berbicara sebaik mungkin.
“Iya... “, kesal. “Akukan sudah bilang, aku belum amnesia “. Menjawab dengan nada keras.
__ADS_1
 
“Lantas, kalau kita terbang ke sana dan tuan menemui nona, apa pandangan calon ayah mertua tuan nanti ?”
 
Dave diam, berpikir.
 
“Iya kalau tuan Maladi bisa memaklumi itu. Tetapi, bagaimana kalau sebaliknya, tuan Maladi menganggap tuan jenis manusia yang tidak bisa di percaya. Beliau merasa tuan menghianati janji tuan ? Apa itu tidak merusak citra tuan di matanya ? Apa itu tidak membuat tuan akan kesulitan mendapat restunya nanti di saat menikahi nona Feya ?” Tomo memanfaatkan kediaman Dave untuk terus mencoba mengajak Dave berpikir dewasa.
 
“Dan nona Feya. Apa menurut tuan, nona Feya bisa memaklumi seorang tuan yang sengaja melanggar janji ? Janji akan sabar menunggu hingga seminggu ini ?” Tomo masih saja berbicara, sedang Dave masih diam berpikir.
 
“Tapi tanpa komunikasi ?” Suara Dave frustasi.
 
“Lagi pula, bagaimana kalau dia lupa meminum obatnya ? Atau, atau bagaimana kalau mendadak bahu kanannya sakit, hah ? Bagaimana ?” Pertanyaan Dave yang jelas tidak penting untuk di jawab.
 
“Aku mencintainya Tom ! Apa kau mengerti ?” Dave mengusap rambutnya kasar.
 
“Ah, kau mana mengerti “. Suara Dave kecewa. “Kau inikan jomblo, mana tahu arti cinta suci “. Mengejek Tomo.
 
Ya, ujung-ujungnya saya yang salah. Tomo membatin pasrah.
 
“Tuan “, sekali lagi Tomo berusaha mengajak sang tuan berpikir ke arah yang benar. Bagi Tomo, janji tetaplah janji. Tidak perduli sedang merindu, tetapi tetap harus konsisten.
 
Sepertinya Tomo memang tidak mengerti arti kata merindu yang sudah sampai di puncak kepala. Seperti yang tengah di tanggung Dave saat ini.
 
“Cukup “. Dave memotong pembicaraan Tomo. Membuat sekretarisnya itu membatalkan niatnya untuk berbicara.
 
“Yang tejadi nanti, biarlah nanti saja. Yang penting sekarang !” Dave serius.
__ADS_1
 
“Aku mau ke Kota Feya !” Dave menatap mata Tomo lama. Membuat Tomo hanya bisa menghela nafas dan kehilangan kata-kata.