TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 32


__ADS_3

PERDANA (1)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Siang itu dihabiskan Feya dengan setengah hati, pikirannya terpecah. Terbagi antara pekerjaan dan rencana bertemu Hadi nanti malam. Setengah hati Feya berusaha keras menyakinkan dirinya bahwa dia pasti bisa, tetapi setengah hatinya lagi terus bertanya-tanya apa tidak sebaiknya Feya mencari alasan untuk membatalkan pertemuan tersebut.


 


Rasanya dulu saat mereka masih sekolah, permainan peran ini tidaklah sebegitu menakutkan seperti saat ini, walaupun di awal Feya juga setengah hati dalam memainkannya, tetapi dia bisa menguasai keadaan dengan cepat dan bijak. Berkali-kali bermain peran, Feya selalu sukses. Andai ada penghargaan untuk kehebatannya bermain peran di masa itu, pasti Feya sudah memiliki banyak koleksi tropi pemain terbaik. Tetapi sayangnya untuk permainan di masa sekarang, Feya benar-benar ragu. Lebih tepatnya dia benar-benar takut, terlalu banyak yang harus dipertaruhkannya jika dia gagal. Termasuk pernikahan kembarannya sendiri menjadi taruhan dari kegagalan Feya.


 


"Bu, laporan Ibu di terima, sekarang pihak mereka meminta solusi untuk enam bulan kedepan". Terdengar suara Menik berbisik di teliga Feya. Menik terpaksa berbisik-bisik dengan atasanya itu, karena sedari tadi sangat jelas terlihat kalau Feya tidak sepenuhnya fokus pada rapat gabungan antara lembaga yang di pimpinnya dengan pihak kementerian.


 


Bu Feya kenapa ya? Apa lagi kurang enak badan?


 

__ADS_1


Feya hanya menganggukan kepalanya sebagai usaha menutupi kegalauan hatinya, dia berdeham seakan-akan telah siap dengan apa yang harus dilakukannya untuk situasi saat ini. Padahal jangan hatinya, sejujurnya Feya sangat ingin kegiataannya ini segera berakhir agar dirinya memiliki banyak waktu untuk persiapan perdana permainannya nanti malam.


 


Tetapi pekerjaan adalah tanggung jawab mutlak baginya, dia seorang pimpinan, dia harus bersikap profesional. Saat ini dia harus berusaha memberikan yang terbaik bagi pekerjaanya sebagai wujud profesionalismenya. Maka sesaat kemudian Feya telah kembali ke dunia kerjanya, Feya dengan penuh percaya diri berhasil memaparkan solusi terbaik dari laporannya pada hari ini. Solusi terbaik untuk enam bulan kedepan seperti yang diinginkan oleh pihak kementerian. Terlihat jelas keberhasilan Feya, para audience terpetuk tangan sebagai wujud kesuksesannya memberikan solusi terbaik seperti yang diharapkan semua orang.


 


"Ibu hebat". Puji Menik sambil berjalan di sebelah Feya saat mereka hendak meninggalkan gedung kementerian.


 


 


Menik tersenyum menerima pujian dari Feya, senang sekali rasa hati Menik saat mendengar kata-kata bijak Feya barusan. Itulah Feya, dia selalu saja bisa menghargai segala jeripayah para stafnya, sekecil apapun itu dia tidak pernah melupakan bahwa kesuksesannya bisa dia capai karena ada tangan-tangan di bawahnya yang selalu mendukung dan berusaha memberikan pikiran dan cucuran tenaga untuknya setiap saat, setiap hari.


 


"Apakah Ibu akan langsung pulang". Tanya Menik. Ternyata jam kantor telah selesai tiga puluh menit yang lalu. "Saya biar pake taksi online saja Bu". Menik tidak ingin atasannya itu repot mengantarkan dirinya kembali ke kantor karena mobilnya yang tertinggal di sana. Saat tadi Feya mengajak Menik untuk ikut dengannya kekementerian, Menik memang memilih pergi bersama Feya. Menik merasa segan kalau Feya harus berkendaraan sendiri padahal mereka akan menuju tempat yang sama.


 

__ADS_1


"Tidak, kamu bareng sama saya aja lagi. Saya juga mau kembali ke kantor, saya mau meminta Nico mengantarkan saya pulang. Rasanya hari ini sangat melelahkan, saya ragu Nik bawa kendaraan sendiri". Ujar Feya.


 


Nico adalah sopir dinas yang memang bertugas menjadi sopir pribadi Feya, terkadang Feya mamang memilih mengemudikan mobilnya sendiri dengan alasan keperaktisan. Tetapi pada saat-saat tertentu Feya lebih memilih memanfaatkan keberadaan sopir pribadinya untuk mengantarkannya kemana saja. Dan untuk saat ini, Feya sengaja berniat memanfaatkan keberadaan Nico untuk mengantarkannya ke apartemen Leya. Karena nanti malam dia akan bertemu Hadi, maka Feya harus membawa mobil Leya. Untuk berjaga-jaga dari berbagai kemungkinan, menurut Feya akan lebih baik jika mobilnya tidak berada di parkiran apartemen Leya. Jadi Feya lebih memilih diantarkan oleh Nico sore ini dan besok pagi kembali di jemput Nico untuk ke kantor. Lebih paraktis dan lebih aman.


 


"Apakah Ibu sedang kurang enak badan?" Menik merasa khawatir setelah mendengar perkataan Feya tadi. Tentu saja Menik tidak tahu tentang rencana Feya malam nanti, dan yang ada dalam pikiran Menik, atasannya itu pasti sedang kurang sehat sehingga meminta Nico mengantarkannya pulang.


 


"Tidak Nik, saya cuma sedikit lelah". Jawab Feya berusaha menyakinkan Menik.


 


Jangan sampe Menik tahu. Begitu guman isi hati Feya padanya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2