TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 114


__ADS_3

DERAI AIR MATA


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


γ€€


"Hadiiiiiiii ", sekuat tenaga Feya meneriakkan nama calon kakak iparnya itu, entah bagaimana caranya Feya sudah terduduk lemas di samping Hadi. Feya memegang wajah pucat tunangan kembarannya.


γ€€


"Hadiii...", air mata jatuh di sudut mata Feya. "Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini ?" Feya terus menguncang bahu Hadi, berharap lelaki yang sebentar lagi menjadi iparnya itu akan membuka matanya.


γ€€


"Cepat cari kain atau apalah itu yang bersih !" suara keras Dave memberi perintah pada Feya. "Cepatlah ! Kita harus menolongnya !" Mendapati Feya masih terpaku diam, sekali lagi Dave mengeluarkan suara yang akhirnya membuat Feya tersadar. Feya berlari ke kantai 2, masuk ke kamar tidur Leya dan mengambil sebuah handul kecil bersih. Bergegas Feya kembali lagi dan menyerahkan handuk tersebut pada Dave.


γ€€


Dave cukup telaten. Luka di tangan Hadi atas torehan pecahan kaca yang di buatnya sudah tertutup rapi menggunakan handuk kecil berwarna pink. Sepertnya Hadi sudah memperhitungkan ketepatan goresannya di lengannya sendiri, hingga hitungan detik warna pink di handuk itu mulai berganti warna menjadi merah.


γ€€


"Aku akan membawanya ke Rumah Sakit terdekat ! Kamu segera susul aku !" Dave memegang bahu Feya. Sebentuk noda merah yang menempel di tangan Dave, bersumber dari luka Hadi langsung berpindah ke bahu Feya. Feya menyadari itu, rasa bersalah mulai mengutuki dirinya.


γ€€


"Kamu bisa bawa mobil sendiri ?" Dave sudah memapah Hadi berdiri.


γ€€


"Iya..", jawab Feya cepat.


γ€€


"Bagus, kunci pintu baik-baik dan kalau bisa segera susul aku !" Dave segera membawa Hadi, meninggalkan Feya yang masih menatap tetesan merah yang tertinggal di lantai apartemen Leya, tampat tadi dirinya menemukan Hadi terduduk pucat.


γ€€


"Ya Tuhan........", Feya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sesaat Feya bertahan di posisi itu, dia jelas harus menenangkan diri.


γ€€


"Leya....", mendadak sekarang ingatan Feya kembali pulih, dia harus menghubungi Leya, Leya harus pulang saat ini juga.


γ€€


Feya menemukan keberadaan tas kerjanya yang tadi di lempar Hadi entah ke mana saat Hadi mencoba mencium bibirnya. Cepat Feya mencari benda kecil berwarna hitam, mencari keberadaan ponsel kesayangannya.


γ€€


Berhasil, Feya sudah menekan nama kembarannya di layar ponsel mewah itu


γ€€


"Cepat pulang, saat ini juga !" Tanpa memberi kesempatan Leya bicara, Feya langsung memberi perintah agar sang kembaran segera pulang.


γ€€


"Feya...udah deh. Kita udah bahas inikan ". Leya terdengar malas menanggapi kata-kata Feya di ujung telepon.


γ€€

__ADS_1


"Baik..kembalilah saat kau mau ! Tapi jangan lupa, kau pakai baju hitam terbaikmu ! Aku akan mengantarmu ke makam Hadi saat itu ". Feya sudah habis kesabarannya saat ini.


γ€€


"Kamu ini bicara apa sih ? Pagi udah ngawur dehΒ  mana panggil kau segala. Kamu ini kerasukan ya ?" Leya terdengar cukup kesal, tanpa tahu situasi yang tengah di hadapi oleh Feya di seberang sana.


γ€€


"Dave menemui Hadi dan menceritakan semua apa yang dia tahu tentang kamu pada Hadi, termasuk rasa cintanya padamu. Dave jujur menceritakan semua sama Hadi. Hadi tidak bisa terima hingga dia melukai dirinya sendiri ", Feya merasa Leya terlalu pendiam di ujung telepon saat ini, Feya yakin Leya sedang mencerna semua isi penjelasannya.


γ€€


"Sekarang Dave membawanya ke Rumah Sakit di dekat apartemenmu , wajah Hadi sangat pucat ". Dan Feya merasa kalau Leya masih diam di sana.


γ€€


"Le....?"


γ€€


"Ti, tidak...tidak...tidakkkkk ".


Prangggkkkkk......suara benda jatuh yang mungkin berbahan alimunium terdengar oleh telingaΒ  Feya di speker teleponnya.


γ€€


"Leyaaaaa, kenapaaaaaa ", Feya mendengar ada suara orang mendekat ke arah leya.


γ€€


"Tidak, Hadiiii....Hadi...hikssssss ", tebakan Feya pasti saat ini Leya sedang terduduk lemas sambil menangis.


γ€€


γ€€


γ€€


****************


γ€€


Di ujung telepon, setelah Feya memberi perintah padanya, Leya hanya bisa menganguk untuk jawaban atas semua arahan sang kembaran. Lutut Leya sudah sangat lemas, seakan tidak akan mampu menopang tubuh indahnya, Leya sudah tidak berdaya. Hatinya sangat takut, pikiran buruk sudah menghadiahkan dirinya segala macam jenis ketakutan yang paling dramatis.


γ€€


"Leya...kenapa ?" Teman-teman kelas memasak Feya sudah berkumpul di sebelahnya, ikut terduduk di sebalah wanita cantik ini. Leya sangat sedih, jelas semua bisa melihat itu


γ€€


"Kanapa kamu ?" Koki pengajar juga ikut mendekat ke arah Leya. Meskipun dalam keseharian di kelasnya, Leya adalah murid terburuk dalam sejarah mengajar yang dia kenal. Tetapi di luar itu, si koki pengajar cukup menyukai pribadi Leya yang supel dan ramah. Jadi mendapati seorang Leya begitu terpuruk, si koki pengajarpun juga ikut penasaran.


γ€€


"Saya harus kembali Pak, saya harus pulang ". Leya menatap si koki dengan mata yang terus menangis.


"Tunangan saya, lelaki yang menjadi alasan saya melakukan semua ini sedang dalam kondisi kritis. Saya harus pulang".


γ€€


"Ooooh, malangnya nasibmu Leya ". Ucap si koki pengajar penuh simpati.

__ADS_1


γ€€


"Ya..pulanglah cepat. Kamu harus bisa sampai secepatnya di dekatnya !" Dengan di bantu oleh teman-teman sekelasnya Leya akhirnya bisa berdiri lagi. Leya berusaha mengumpulkan sisa tenaganya sebanyak mungkin, dia akan segera pulang, dia harus segera kembali detik itu juga.


γ€€


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku !" Ucap Leya lirih saat sudah keluar dari gedung tempat kelas memaasaknya berlangsung.


γ€€


****************


γ€€


γ€€


Feya berhasil menemukan keberadaan Dave dengan mudahnya di Rumah Sakit itu, ternyata Dave sedang terduduk dengan wajah menatap lurus ke arah dinding ruang gawat darurat. Segera Feya menghampirinya, Feya ingin segera tahu kondisi terbaru Hadi saat ini.


γ€€


"Nona...anda yakin tidak apa-apa ?" Seorang perawat wanita masih saja mengikuti Feya, ternyata sedari awal dia masuk tadi. Rupanya perawat ini menyadari ada noda darah di baju Feya, sehingga dia berasumsi kalau Feya sedang dalam keadaan terluka. Feya telah menjelaskan kalau dia baik-baik saja, kalau noda merah itu bukan berasal dari anggota tubuhnya. Tapi, karena wajah Feya yang pucat, sepertinya si perawat ini tetap yakin kalau telah terjadi sesuatu pada feya.


γ€€


"Terima kasih banyak, tapi sungguh. Saya baik-baik saja ". Suara Feya yang sedang menyakinkan seorang perawat wanita berhasil membuat alam pikiran Hadi kembali ke dunia ini.


γ€€


"Kamu gak papa ?" Dave sudah berdiri di sebelah Feya.


γ€€


"Aku baik-baik saja ". Jawab Feya cepat pada Dave.


γ€€


"Kemarilah !" Dave menarik tangan Feya ke arah bangku panjang yang tadi di dudukinya tepat di saat si perawat yang tadi mengikuti Feya berlalu.


γ€€


"Bagaimana keadaan Hadi ?" Tanya Feya setelah memposisikan diri duduk di sebelah Dave.


γ€€


"Sudah tidak apa-apa, sudah di beri obat untuk menenangkan diri. Mungkin kurang 2 jam lagi dia akan sadar ". Dave menjawab tanpa menatap mata Feya.


γ€€


"Aku boleh melihatnya ?" Feya masih belum tenang kalau belum melihat kondisi Hadi langsung dengan mata kepalanya sendiri.


γ€€


"Sekarang belum boleh. Dokter masih melarang kita, hadi baru saja transfusi darah, jadi dia masih harus di obsevasi. Nanti ya, kalau dia sudah dipindahkan ke ruang rawatan, kita bisa lihat dia !" Dave memegang jemari tangan kiri Feya yang berada di atas kursi tepat di sebelah paha kanan Dave.


γ€€


"Baiklah...kalau gituh lebih baik kamu pulang saja dulu. Kamu ganti baju, lihat baju kamu sudah penuh noda merah. Biar aku yang tunggu di sini !" Ucap Feya sambil memperhatikan kondisi Dave.


γ€€


"Nanti saja ". Tolak Dave tanpa mau beradu argumen dengan Feya.

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2