TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 109


__ADS_3

BERUSAHA MELUPAKAN


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Setumpuk bahan-bahan masakan sudah menunggu Leya di meja kelas masaknya pagi ini, khusus hari ini kelas masak di mulai pada jam pagi. Seperti biasa, Leya akan memulai kelasnya dengan doa agar kali ini bisa melakukan yang terbaik, bisa mengontrol gerak tangannya demi tidak melakukan kesalahan yang sama, dan tentu saja akan berakhir sama. Berakhir dengan suara bentakkan dengan nada tinggi dari koko pengajar. Leya berusahan melupakan betapa malu dirinya saat mendapat tatapan mengiba dari rekan-rekan satu kelasnya yang memberikan sorot mata tidak percaya, seakan tatapan mereka mengatakan, "astaga Leya lagi ? nggak ada kapoknya ya di marahin tiap hari ".


 


***************


 


Pekerjaan Feya pagi ini cukup padat, Menik baru saja berlalu dari ruang kerjanya setelah menyampaikan semua susunan agendanya satu hari ini. Tepat pukul 9 nanti, Feya harus survey lokasi hilangnya benda cagar budaya Suku J yang telah memasuki masa penyelidikan. Feya bersama jajaran aparat kepolisian akan mendatangi lokasi. Tapi sebelum itu Feya memiliki waktu kurang lebih selama satu jam untuk rapat staf bersama jajarannya di kantor, hanya rapat staf rutin saja untuk membahas kendala yang mungkin terjadi dalam kurun waktu satu bulan ini, serta tidak lupa Feya biasanya akan menyampaikan reward atas prestasi kerja dari jajarannya, Feya selalu konsisten melakukan hal tersebut untuk memacu semangat kerja para pegawainya.


 


Sepertinya kesibukannya di awal pagi ini sukses membuat Feya lupa akan kegelisahannya di pagi buta tadi, sekarang Feya benar-benar fokus menjalankan peran sebagai pimpinan tertinggi salah satu lembaga pemeritahan yang di pimpinnya saat ini.


 


***************


 


Sejujurnya Tomo agak sedikit cemas dengan kondisi sang tuan, firasat Tomo mengatakan kalau gelagat sang tuan sedikit berbeda dari biasanya. Di mata Tomo, Dave lebih banyak diam seakan sedang berpikir keras, entah apa gerangan beban sang tuan. Tetapi hati kecil Tomo yakin semua ini berkenaan dengan wanita cantik yang mulai menguasai hati majikannya yang bernama Leya.


 


"Tuan baik-baik saja ?" Sudah tidak sanggup hanya menyaksikan saja. Tomo akhirnya memilih bertanya ada apa gerangan dengan sang tuan.


 


"Tom, apakah saya berhak menyatakan perasaan saya ? Bolehkan saya jujur ?" Dave mengajukan pertanyaan tanpa melihat wajah Tomo.


 


"Kalau itu demi kebaikan kenapa tidak tuan ?" Jawaban Tomo malah terdengar mengambang.


 


"Meskipun akhirnya akan menghancurkan sebuah hubungan ?" Sekarang Dave sengaja mengajukan pertanyaan baru sambil memandang wajah Tomo.


 


"Untuk itu hanya tuan yang tahu jawabannya ". Jawab Tomo pelan. Dave pun mengalihkan tatapan matanya seakan sedang mencerna kata-kata Tomo barusan.


 

__ADS_1


Aku gak mau dia hidup dalam kepalsuan, itu hanya akan menyakiti dirinya. Aku mencintainya dan aku yakin dia juga merasakan hal sama. Tapi, entah kenapa dia mau bertahan dengan semua kepura-puraan ini ?


 


"Kepulanganku besok sudah kamu atur ?" Sekarang Dave menanyakan pertanyaan baru pada Tomo yang tidak ada sangkut pautnya dengan perasaan yang sedang menganggu pikirannya.


 


"Sudah tuan, pesawat tuan akan berangkat jam 5 sore. Otoritas bandara sudah memberi ruang untuk tuan di jam tersebut ". Jawab Tomo menyakinkan.


 


"Aku percayakan kegiatan di sini padamu ". Dave menepuk pelan bahu Tomo beberapa kali sebelum dirinya berjalan menjauh dari Tomo yang hanya menganguk pelan.


 


 


***************


 


Waktu berlalu, tugas Feya hari ini berjalan lancar, Feya terlihat cukup senang semua bisa dilakukannya sebaik mungkin. Rapat, survey lapangan, monitoring hingga menerima tamu dari beberapa pihak, Feya bagai pemberi saran terhebat selalu saja punya cara mengatasi kecemasan orang-orang di sekitarnya.


 


 


Feya merasa keputusannya sudah benar, meskipun cintanya pada Dave tidak berbalas karena Dave malah memilih mencintai dirinya dalam peran sebagai Leya, tetapi setidaknya Feya sudah berkali-kali memperingatkan Leya kalau Dave serius dengan segala ide-idenya untuk membuat Leya dan Hadi berpisah. Jadi, saat Leya tidak mau mendengarnya, maka di saat itulah Feya merasa keputusannya sudah sangat tepat.


 


Feya baru saja selesai mengemas beberapa stel baju kerja dan baju santainya yang sempat di simpannya di lemari sang kembaran. Mengakhiri perannya, maka Feya juga akan meninggalkan apartemen Leya. Travel bag berisi semua pakaiannya sudah rapi sudah siap dia angkat dari ruang tamu, bahkan bahan makan yang sempat di stoknya di lemari pendingin Leya pun sudah di kemas sebaik mungkin, sudah rapi dan tinggal angkat juga.


 


"Baiklah ", ucap Feya sambil memandang sekilas kamar tidur sang kembaran. Meja rias dengan kosmetik Leya, lemari pakaian dengan baju-baju sang kembaran, ranjang basar Leya, hingga sofa yang posisinya persis di depan tempat tidur Leya. Sesaat Ingatan Feya melayang ke masa suatu pagi saat dirinya dan Dave duduk bersama di sana hampir 2 minggu yang lalu. Feya terduduk diam mengingat semua, kebaikan Dave padanya, sikap tulus Dave padanya, hingga.....


 


Ting tong...ting tong....ting tonggggg...


 


Bunyi bel di depan pintu apartemen Leya berbunyi nyaring tanpa jeda membuyarkan lamunan Feya barusan.


 


Ting tong...ting tong...ting tongggg.....

__ADS_1


Tok..tokkkkk...tooookkkkkkkkkk......


 


Dan kali ini suara bel di akhiri dengan ketukan penuh ketidak sabaran dari arah pintu.


 


"Astaga siapa itu ? Tidak sabar sekali". Feya setengah berlari dengan tas kerja di bahunya. Untung saja travel bagnya sudah di ruang tamu, kalau tidak Feya pasti kesulitan membawa beban besar itu sambil berlari menuruni anak tangga.


 


Tokkk...tookkkk...toookkkkkkkkk....


 


Ketukan keras kembali disuarakan dari bagian luar pintu. "Ya ampun, gak sabaran banget sih. Sabar napa ?" Feya mulai kesal dengan sosok tamu yang jelas-jelas tidak berniat berlama-lama menunggu.


 


"Yaaaaaaa, sebentar !" Teriak Feya mencegah si tamu kembali mengetuk keras pintu ataupun memencet bel begitu ributnya.


 


Feya menarik nafas panjang, mengatur kadar oksigen di paru-parunya akibat berlari menuruni anak tangga barusan, hingga merasa sudah cukup tenang Feya menyempatkan diri melihat sosok manusia yang telah membuat dirinya cukup gosgosan itu dari celah kecil di pintu.


 


"Ke, kenapa sore gini dia datang ?" Ucap Feya bingung bercampur kaget saat tahu siapakah gerangan si pemencet bel dan pengetuk pintu yang sangat tidak sabaran itu.


 


"Aahhhhgggg...padahal aku sedang mencoba melupakan semua. Kenapa malah dia muncu ?" Feya malah menyandarkan pungungnya di pintu ruang tamu, dirinya sedang berusaha berpikir.


 


Buggghhh...buugggghhhh...buggghhhhhhhh.....


 


Ternyata si tamu makin memperlihatkan ketidak sabarannya, kalau di awal hanya bunyi bel dan ketukan pintu yang memekakkan telinga, sekarang malah berganti pukulan pada pintu bagian luar.


 


Feya terperanjat, jantungnya berdegub kuat. Sungguh bukanlah semua ini yang di harapkannya akan terjadi pada sore hari di saat dirinya sudah sangat yakin untuk mengakhiri semuanya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2