TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 136


__ADS_3

TERBONGKAR


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


"Kenapa kalian sangat memaksa saya ?" Tanya Feya tidak senang pada lelaki-lelaki berpostur tinggi tegap itu.


 


"Maaf jika kami tidak sopan dan membuat nyonya tidak senang ". Ucap salah satunya.


 


"Sebentar lagi kita sampai. Tuan sudah menunggu nyonya ". Feya tidak bisa mengingat rute jalan yang di laluinya tadi. Lorong demi lorong, untuk itu Feya masih ingat. Kemudian ada taman dan setelah itu entah dimana. Feya merasa 4 orang lelaki ini memang sengaja membingungkan pikirannya, memudarkan ingatannya. Kenapa ? Feya mulai curiga.


 


Feya masih berusaha menghafal jalan, masing berkeras mengingat sesuatu tentang taman yang di lewatinya tadi. Setidaknya, jika sesuatu terjadi Feya berharap bisa menyelamatkan diri. Hingga dirinya tersadar sebuah pintu gandeng besar terbuat dari kuningan terang telah terbuka lebar.


 


Loh..kok udah sampe sini aja. Sebenarnya mereka melakukan apa sama pikiranku ? Kok serasa di hipnotis saja, agak ngayal tahu-tahu sudah di sini.


 


"Maaf kalau mereka memperlakukan kamu tidak baik ". Suara lelaki yang berhasil Feya temukan sedang berdiri di depan jendela besar, membelakangi pintu.


 


"Kalian semua tunggulah di luar !" Lelaki itu masih saja membelakangi Feya saat dia memberi perintah pada semua orang di dalam ruangan itu.


 


"Apa mereka menyakitimu ?" Feya sedang berusaha menebak, siapakan sosok lelaki yang terasa sangat misterius itu.


 


"Tidak tuan ". Jawab Feya singkat.

__ADS_1


 


"Namaku Monternio, jangan panggil tuan ". Feya berusah memutar otak mendengar sebuah nama baru.


 


Apa aku kenal ya ? Emmm, rasanya asing deh...


 


"Tentu saja kami enggak kenal aku, ini kali pertama kita ketemu ". Entah bagaimana caranya lelaki yang mengaku bernama Monternio itu sudah berdiri di depan Feya, dan hebatnya lagi lelaki itu seakan tahu isi kepala Feya.


 


"Kamu ?" Feya melangkah mundur, beberapa langkah saat sadar Monternio sudah berada persis di depan dirinya. Tinggi, tampan dan senyum menawan, Feya merasa benar-benar tidak mengenali sosok lelaki tersebut.


 


"Jangan takut ". Senyum menawan menghiasi sudut bibir Monternio. "Ayo silahkan duduk ". Tunjuk Monternio pada sofa mewah di tengah ruangan.


 


 


"Buat apa tuan bersusah payah mengundang saya. Padahal tinggal beri perintah saja pada pengawal atau asisten saya ". Tanya Feya setelah berhasil mendudukkan dirinya di sofa. Feya sedang mencairkan ketakutannya. Entah kenapa hati kecilnya merasa ada yang aneh pada lelaki itu.


 


"Untuk wanita spesial, tentu saja aku harus langsung bertemu. Bukan pengawal atau asisten ". Feya melihat senyum menawan tidak pernah hilang dari wajah lelaki itu.


 


"Minumlah ! Kita akan bicara banyak ". Monternio meletakkan gelas jus jeruk segar di depan Feya.


 


"Bagaimana anda tahu kalau saya suka minum jus ?" Feya mengerutkan keningnya heran.


 

__ADS_1


"Feya Zaniya Maladi, putri kembar kedua yang lahir beberapa menit setalah Leya Zaniya Maladi. Lulusan terbaik dari perguruan tinggi di Negara L hingga begitu mudahnya menjadi mahasiswi berprestasi di jenjang strata Pasca Sarjana. Penyuka olahan ikan dan sangat pandai memasak, anggun, dewasa dan mandiri tapi masih sendiri. Sekarang di usia ke 26 tahun, kamu berhasil menjadi menjadi salah pimpinan Lembaga pemerintahan yang cukup penting di negaramu ". Suara Monternio terdengar bangga saat menjelaskan apa yang dia tahu tentang Feya.


 


Feya terkejut, matanya membulat besar. Rasa tidak percaya membuat dirinya terlihat sangat heran.


 


"Aku benarkan Feya ?" Senyum sombong terpancar di wajah tampan itu.


 


"Siapa anda ? Bagaimana anda bisa tahu semua itu ?" Tanya Feya heran.


 


"Jadi Danu tidak cerita apapun tentang aku ? Ahhh, aku merasa sedih sekali. Aku pikir kedatanganmu yang sampai sibuk menyamar ini karena kamu penasaran padaku. Ternyata....", Monternio memasang wajah kecewa.


 


"Apa anda kenal Pak Danu ?" Feya malah semakin bingung.


 


"Ohh..jadi benar. Danu tidak cerita apapun tentang aku ". Feya mengelengkan kepalanya.


 


"Jadi, bisakah anda yang bercerita ?" Tanya Feya cepat.


 


"Tentu saja, untuk kamu apa yang tidak ". Senyum menawan kembali menghiasi wajah Monternio. "Tapi sebelum itu, maukan kamu mengakrabkan diri denganku ? Berhenti menggunakan kata anda, saya, dan panggil aku dengan namaku !" Monternio berdiri mendekat ke arah sofa besar yang di duduki oleh Feya.


 


Ragu, penasaran dan tidak bisa di bohongi, sejujurnya Feya mulai takut. Monternio sangat menawan, senyum selalu menghiasi ketampanannya, tetapi entah kenapa aura kejam jelas terpancar pada diri lelaki itu. Jantung Feya berdegub kencang, dag dig dug...dia mulai menciut.


 

__ADS_1


 


__ADS_2