TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 58


__ADS_3

TELEPON MASUK (2)


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Menik telah meninggalkan ruang kerja Feya, meninggalkan dirinya yang sedang membuka laporan yang tadi ceritakan oleh Menik. Feya berusaha konsentrasi membaca lembar pertama pada tumpukan laporan tersebut. Baru masuk lembar kedua, Feya mendengar nada dering di handphonenya berbunyi, perlahan Feya menatap layar handphonenya.


 


"Dave?" Feya membaca tulisan pada layar handphonenya.


 


Dave siapa ya? Feya mulai berpikir, mencoba mengingat. Terus mengingat, tetapi tidak menemukan jawaban.


 


Kapan aku buat kontak atas nama Dave? Dave mana ya? Lagi, Feya sedang mencoba berpikir. Dan hingga nada dering tersebut berhenti dengan sendirinya, Feya masih kebinggugan siapakah Dave yang di maksud layar handphonenya.


 


Lain Feya, lain pula Dave. Dave terlihat geram menatap kesal pada handphonenya sendiri. Satu panggilan teleponnya diabaikan begitu saja, tidak ada seseorang pun di sana yang menerima panggilan tersebut.


 


Kenapa tidak di angkat? Apa dia baik-baik saja?


 


Dave berusaha kembali mengulang untuk menelepon Feya, satu tekanan di layar handphonenya dan panggilan kembali berlanjut.


 


Feya tersadar, ternyata usaha kerasnya berpikir terlalu lama, hingga masuk kembali panggilan kedua, masih dari nama penelepon yang sama.


 


"Dave?" Feya menatap layar saat nada dering berbunyi kembali.


 


"Iya, hallo?" Akhirnya Feya memutuskan menerima panggilan tersebut dari pada dirinya semakin penasaran.


 


"Akhirnya kamu angkat". Ada nada kelegaan di ujung telepon yang di dengar oleh Feya.


 


Su-suara Dave. Feya tidak percaya.


 


"Ini kamu Dave?" Feya berusaha meminta kepastian dari si penelepon.


 


"Iya ini aku". Jawab Dave cepat.


 


"Bagaiman bisa?" Feya tidak percaya.


 


"Ya bisa dong, tinggal aku tekan nomor teleponmu". Jawab Dave acuh.


 


"Maksud aku, bagaimana bisa kamu tau nomorku?" Feya memperbaiki pertanyaannya.


 


"Semalam waktu kamu tidur, aku memasukkan nomormu dalam hapeku dan begitu sebaliknya". Jelas Dave. "Kamu keberatan?" Dave pun merasa sudah salah melakukan hal tersebut tanpa seizin yang punya.


 


"Tidak, tidak apa-apa". Jawab Feya kemudian.


 


"Baiklah, sekarang dimana kamu?" Dave langsung kembali ke penyebab awal dia menelepon Feya.

__ADS_1


 


"Aku di kantor". Feya pun menjawab pertanyaan Dave.


 


"Apa, kantor? Siapa yang menyuruhmu masuk kantor? Akukan menyuruhmu istiraha!" Terdengar suara penuh kekesalan di ujung telepon.


 


Kok aku dimarahin?


 


"Ma-maaf". Hanya itu yang bisa Feya ucapkan.


 


"Aku di apartemenmu, beberapa kali aku menekan bel, tapi tidak ada sahutan. Aku masuk dan mencarimu, ternyata kamu ke kantor". Dave benar-benar merasa tidak percaya.


 


Aku mengkawatirkannya, eh..dia malah masuk kerja. Dave menghela nafas kesal.


 


"Aku dah sehat Dave, sudah tidak apa-apa lagi. Kamu jangan kawatir ya". Terdengar Feya sedang berusaha menyakinkan Dave. "Karena merasa sudah sangat sehat dan kebetulan ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, jadi aku memilih masuk kantor". Feya memberi penjelasan pada Dave.


 


"Kamu enggak boong?" Dave perlu kepastian dari Feya.


 


"Serius, aku sangat sehat loh". Ucap Feya dengan bersemangat sambil mengangkat tangan kanannya tinggi ke udara.


 


"Sukurlah kalau begitu, aku jadi tidak terlalu cemas sekarang".


 


Dave, Dave cemas....


 


 


"Bubur makan siangmu sudah di makan?" Dave mengajukan pertanyaan baru pada Feya.


 


Gawat....


 


"Sudah, tapi hanya sedikit. Tadi rasanya tidak sedang berselera". Jujur Feya menjawab pertanyaan Dave.


 


"Kenapa? Tidak enak ya?" Dave pun merasa heran.


 


"Bukan, bukan Dave. Enak banget". Di awal sih, tapi kemudian...


 


"Tapi tadi itu memang gak berselera aja". Feya berkelit.


 


"Sekarang?" Dave memberi pertanyaan baru.


 


"Emmm, sekarang aku sudah sangat berselera. Aku sangat lapar rasanya". Sebuah pengakuan Feya pada Dave.


 


"Sudah sangat siang, jam makan siang sudah lewat. Makanlah bubur itu, aku enggak mau kamu kenapa-napa. Setelah itu obatnya jangan lupa di minum". Terdengar banyak arahan Dave pada Feya.


 

__ADS_1


Ya Tuhannnn, Dave baik sekali. Dia perhatian padaku..senangnya.


 


"Iya, aku sekarang aku akan langsung makan". Jawab Feya sungguh-sungguh.


 


"Jaga diri dangan sampe capek, nanti malam aku akan singah untuk melihat keadaan kamu". Janji Dave pada Feya.


 


"Iya". Jawab Feya lengkap dengan senyum cantiknya. "Terima kasih Dave".


 


Dave menyudahi teleponnya pada Feya, rasa khawatir yang sempat menguasai sudut kecil dihatinya langsung menghilang. Berganti rasa lega dan ketenangan, tahu bahwa Feya baik-baik saja. Dave pun segera mengajak Tomo melanjutkan perjalanan ke lokasi meetingnya.


 


Sementara Feya, tersenyum semeringah sambil menatap layar handphonenya. Walaupun nama Dave sudah tidak muncul di layar, tetapi Feya tetap saja menatap layar kosong itu.


 


Dave perhatian, Dave mengkawatirkan aku, Dave baik sama aku. Dave, Dave beda dari lelaki lain, dia mau berteman


denganku. Dia tidak memandang jelek padaku, dia menghubungi aku...


 


Betapa banya ucapan senang yang Feya rangkai karena rasa senang di dalam hatinya. Hilang sudah semua kesimpulannya pagi tadi tentang penyebab Dave mendadak berubah dan meninggalkan dirinya begitu saja, berganti rasa suka cita dan keyakinan bahwa Dave berkenan menjadi temannya.


 


"Lapar". Feya baru menyadari kalau sebenarnya perutnya sangat kelaparan. "Apa bubur yang ditinggalkan Menik untuk aku masih ada?" Sekarang Feya ingat tentang bubur salmon buatan Dave.


 


Benar kata orang, perasaan bahagia akan memberi ketenangan pada diri kita dan ketenangan itu akan membuat kita dapat berpikir dengan baik. Buktinya, sekarang Feya dapat berpikir dengan baik bahwa dirinya sangat lapar sekarang atau lebih tepatnya sedari tadi sih dia lapar, tetapi karena perasaan sedihnya dengan perlakuan Dave padanya pagi tadi. Maka, Feya mengabaikan rasa laparnya.


 


"Menik, keruangan saya sebentar". Feya segera memanggil Menik.


 


Tidak butuh waktu lama, Menik sudah berada di ruang kerja Feya.


 


"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?"


 


"Menik, bisa tolong minta pantry ambilkan bubur yang kamu tinggalkan tadi buat saya".


 


"Tentu saja saja Bu, apakah Ibu mau saya minta bagian pantry juga buatkan jus untuk Ibu?" Tawar Menik.


 


"Wah, sepertinya enak tuh Nik. Iya saya mau, jus naga ya". Ucap Feya setuju.


 


"Sebentar ya Bu". Menik segera undur diri dari hadapan Feya, meminta petugas lobi untuk menghubungi pantry dan menyiapakan semua yang di minta Feya padanya.


 


Sesaat kemudian Menik kembali memohon izin masuk keruang kerja Feya, lengkap dengan baki berisi sepiring bubur dengan taburan salmon dan bawang goreng, beserta segelas jus buah naga dan botol berisi air mineral.


 


Menik menata isi bakinya di atas meja Feya dan mempersilahkan atasnya itu untuk menyantapnya.


 


Untung tadi aku kepikiran buat membawa bubur salmon buatan Dave ke kantor, dari pada mubazir di rumah bagus aku bagi sama staf di kantor. Dan Menik juga baik banget meninggalkan satu untuk aku, asikkkk bisa makan kenyang deh.


 


"Makasih Dave". Feya pun mulai menyuapi bubur salmon buatan Dave ke dalam mulutnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2