
TIDAK
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
 
Dave terlihat begitu yakin dengan semua hasil analisanya terhadap sosok Leya, yang tidak lain justru adalah adalah Feya yang sedang memainkan peran sebagai Leya. Dave benar-benar berani mengeluarkan isi kepalanya pada Feya, tanpa berpikir panjang atau tanpa mau bertanya, begitu jujur semua mengalir begitu saja. Yang jelas Dave yakin apa yang diucapkannya adalah kebenaran yang di lihat dan di rasakannya secara langsung.
 
"Sudah selesai omong kosongnya ?" Feya tidak ragu memperlihatkan kekesalannya pada Dave.
 
"Oke, oke, saya tahu ini semua terdengar tidak masuk akal. Tapi percayalah, ini semua benar !" Dave bersikap tenang menghadapi sikap ragu Feya.
 
"Saya sangat mengenal Leya, jadi saya tahu bahwa Leya memang tidak mencintai Hadi. Ya, kalau kamu mau bilang Hadi mencintai Leya, itu bisa saya terima. Hanya saja Hadi terlalu dibutakan oleh cintanya sendiri sampai tidak tahu apa-apa tentang Leya ". Ekspresi Dave penuh keseriusan.
 
"Oo, sekarang kamu mau bilang kalau kamu lebih mengenal Leya di banding Hadi ?" Sudut bibir kiri Feya tertarik kebelakang, jelas wajah sinis Feya kembali terpasang.
 
"Tentu saja ", Dave bersungguh-sungguh dengan jawabannya
 
"Jadi apa arti pertunangan mereka kalau bukan karena mereka saling mencintai ?"
 
"Dan menurut kamu, kamu lebih baik dibandingkan Hadi ?"
 
"Ooo, iya sudah pasti ". Jawab Dave tegas.
 
"Leya hanya kasihan sama Hadi ", dan kepercayaan diri Dave belum goyah sedikitpun. Dave masih bersemangat menjawab semua pertanyaan Feya dengan wajah seriusnya.
 
"Hahahahaha", tawa Feya pecah. Dave terlihat tidak suka.
 
__ADS_1
"Kamu bukan siapa-siapa dalam hidup Leya, Dave. Kamu terlalu takabur sampe berani bilang Leya hanya kasihan sama Hadi, kamu juga terlalu pongah kalau begitu berani membandingkan dirimu sama Hadi. Kamu terbaik untuk Leya ? Mimpi kamu ". Sesaat Feya menarik nafas panjang.
 
"Dengar ya, Leya itu tergila-gila sama Hadi. Hingga Leya terkadang tidak segan-segan melakukan hal aneh hanya untuk memastikan Hadi selalu bahagia ". Seperti sekarang ini contohnya, permainan peran yang membuat kamu ikut terjebak di dalamnya Dave.Â
 
Dave mengeleng pelan saat bersitatap dengan Leya. Dave berusaha menyangkal semuanya.
 
"Dave tolong jangan buat aku tertawa lagi, hahaha". Ucap Feya di sela tawanya.
 
"Aku dan Leya saling mencintai, terserah kamu mau percaya atau tidak !". Feya terlihat cukup kaget. Kamu, Leya, cinta ? Ya Tuhan, kenapa semua jadi serumit ini ?
 
"Aku, aku mencintainya Feya dan dia membalas itu. Jelas dia tidak mencintai Hadi ". Dave sangat percaya diri. "Dengarkan aku aku !" Dave tidak senang dengan wajah Feya yang terlihat masih menertawakannya.
"Mana ada cinta kalau kamu hanya terpaksa melakukan semuanya, sementara kamu begitu nyaman saat bersama lelaki lain ".
 
Cukup sudah !
 
"Leya tidak suka semua makanan yang ada unsur dagingnya. Leya tidak suka kehidupan glamor, dia tidak ahli berdansa ". Dave masih saja terus berbicara. "Leya bahkan memasang sikap waspada pada Hadi, berjaga takut kalau-kalau Hadi akan memeluknya dan parahnya Leya takut kalau Hadi akan menciumya. Kamu tahukan itu bukan cinta namanya ?" Feya menghembuskan nafas kesalnya.
 
Itu aku, aku Dave, bukan Leya. Tentu saja aku gak mau bibirku di cium kakak iparku sendiri. Kamu, tahu apa kamu tentang Leya. Ketemu aja nggak pernah.Â
 
"Aku menghabiskan hari bersama Leya dan tahukah kamu ? Leya terlihat senang seakan dia bisa bebas menjadi dirinya sendiri, dia begitu rileks sangat cantik. Dan aku tahu pasti saat dia bersama Hadi, Leya tidak pernah selepas itu ".
 
Leya, Leya, Leya......
 
"Masih ada lagi yang ingin kamu sampaikan ?" Feya membolak-balik lembar kertas yang tadi sedang dibacanya tepat di saat Dave datang. Feya berpura-pura sibuk.
 
"Kamu kembarannyakan ? Bagaimana mungkin kamu tidak peka ? Kamu tega membiarkan Leya hidup dalam balutan keterpaksaan, membiarkan dia menikahi lelaki yang tidak dicintainya sedikitpun ?" Dave tidak mau ambil pusing dengan sikap Feya yang jelas-jelas berusaha mengusirnya.
__ADS_1
 
"Saya tidak perduli ", Feya sudah tidak sanggup lagi menghadapai Dave. Rasanya dia sudah tidak tahan lagi mendengar nama Leya di sebut berkali-kali oleh bibir Dave, hatinya mulai sakit. Tidak hanya itu, mata Dave begitu jujur memperlihatkan seberapa besar cintanya pada Leya. Leya yang hanya sebuah nama dari permainan yang dimainkannya, tetapi justru sukses menguasai hati Dave. Sampai-sampai Dave sanggup menghenyahkan segala kemungkinan kenyataan bahwa Leya dan Feya yang dikenalnya memang orang yang sama, satu orang yang sama.
 
"Itu bukan urusan anda tuan Dave !" Feya makin kesal.
 
"Saudara macam apa kamu ?" Dave mengeleng tidak percaya.
 
"Sekali lagi saya jawab. Bukan urusanmu ". Feya bersiap untuk berdiri.
 
"Saya kesini mengharap bantuanmu demi kebahagiaan Leya. Saya tidak menyangka saya malah datang ke orang yang salah. Kamu tidak punya hati ". Dave marah.
 
"Hohoho, saya tidak punya hati tuan Dave yang terhormat ?" Ekspresi sedih menghiasi mata biru gelap Feya. "Baiklah, kalau begitu silahkan anda tinggalkan wanita tidak punya hati ini. Saya masih sangat banyak pekerjaan yang lebih penting di banding mendengarkan semua omong kosong anda ". Feya berjalan cepat ke arah pintu ruang kerjanya.
 
"Saya tidak akan pernah membantu anda. Saya sangat sayang sama Leya, jadi lupakan semua ini !" Feya membuka pintu ruang kerjanya. Menunggu Dave yang masih duduk diam di kursinya
 
"Manusia batu, kamu tidak ingin melihat Leya bahagia. Sampai kamu memilih mengabaikan kebenaran yang aku ungkapkan padamu ". Rahang Dave mengeras.
 
"Baik, baik ". Dave berjalan menuju Feya yang masih memegang pintu ruang kerjanya. "Saya tidak akan menganggu anda lagi nona Feya. Saya akan melakukannya sendiri ! Saya mampu memisahkan mereka tanpa bantuan anda. Cih ". Dave melewati Feya begitu saja, wajahnya memerah. Dave sedang menahan amarahnya atas ketidak perdulian Feya, jelas-jelas di awal Dave datang dengan pengharapan besar kalau Feya akan bersama-sama membantunya menyelamatkan sosok wanita yang diam-diam sangat dicintainya. Tapi apa ? Realitanya tidak seperti harapannya. Dan Dave sangat marah karena semua kenyataan ini.
 
"Kalau kamu masih bertahan dalam pikiranmu, percayalah kamu akan menyesal ". Dave berhenti sesaat mendengar kalimat terakhir Feya tepat sebelum gadis cantik itu menutup rapat pintu ruang kerjanya
 
Feya bersandar di pintu ruang kerjanya, mendadak semua tenaganya habis menguap entah kemana. Sama seperti peristiwa sebelumnya, berdebat dengan Dave bisa membuat tenaganya terkuras habis.
 
"Aku lelah dengan semua ini. Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku menyerah Le, sekarang terserah padamu, aku menyerah ". Guman pelan Feya yang ternyata telah terduduk di lantai dengan tangan memeluk erat lutunya.
 
 
__ADS_1