TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 152


__ADS_3

SEBUAH KEINGINAN (2)


 


Hari pertama perenungan bagi Feya, hari di mana dirinya akan mulai menyakinkan sanubarinya, benarkah dia bisa menjalani masa depan bersama Dave.


 


Pagi ini Feya bangun dengan wajah segar, pertanda dirinya tidur nyenyak. Matanya terbuka dan menemukan sang kembaran, Leya tidur persisi di sebelahnya. Seperti masa kecil mereka saja, dari bangun tidur hingga tidur lagi akan selalu bersama.


 


Senang sekali rasanya, Leya sangat memanjakan Feya. Sesuatu yang langka yang jarang terjadi, tetapi Feya menikmatinya. Hari ini Leya sengaja izin kerja, dirinya ingin bersama Feya, memastikan Feya baik-baik saja.


 


Seharian ini, dunia Feya sangat sempurna. Ada Papa, Mama dan Kembarannya, rumah besar keluarga Maladi terasa hidup lagi, moment langka dan sudah lama tidak ada. Hingga Feya pun untuk hari ini bisa lupa pada sosok lelaki tampan di Negara tetangga.


 


*****************


 


Pagi ini Dave bangun sedikit bingung. Matanya mencari ke segala arah, ada yang hilang. Dave serius mencari hingga akhirnya dirinya sadar. Dirinya sedang terbangun di ranjang kamarnya. Bukan di kamar Rumah Sakit seperti satu minggu terakhir ini, terbangun dengan mata yang bisa melihat sosok wanita yang di pujanya sedang tertidur damai. Mendadak Dave merindu, baru hari pertama tetapi dirinya sudah mendamba.


 


"Ahhhhh...", sebuah helaan panjang terdengar. "Aku kangen kamu Fe ". Ucap Dave lirih padahal baru beberapa jam berlalu.


 


Suasana hati Dave kurang baik, itu yang bisa di nilai Tomo saat sang tuan sudah memasuki mobi mewahnya, mereka akan segera berangkat berkerja. Dave terlihat merudung saja, Tomo sampai bingung mau menyemangati sang tuan seperti apa.


 

__ADS_1


 


Sesampainya di kantor, terlihat Dave berkerja seperti biasa. Tetapi sayang, hanya beberapa waktu saja bertahannya, sebab setelah itu Dave cenderung menjadi emosian.


 


 


"Itu saja tidak becus ". Bentak Dave di awal jam 5 sore. Dave sedang marah pada seorang Manajer yang melakukan sebuah kecil. Kesalahan sepele, tetapi entah kenapa bagi seorang Dave menjadi luar biasa.


 


Tomo mengeleng pelan, mengelus dada dan mencoba tabah.


Maklum, sedang di tinggal sang kekasih. Sabar ya Manajer. Itu belum seberapa, saya sedari pagi tadi malah sudah kena getah, padahal enggak tahu salah apa. 


 


Hanya di situ saja ?


Tentu saja tidak, semakin malam, Dave semakin sensitif saja. Marah tidak jelas sambil memandang handphonenyan mau menghubungi sang kekasih tetapi sudah terikat janji. Berharap wanita yang di damba menghubungi sebentar lagi, tetapi sampai malam hari tidak kunjung jua. Dave meradang, Tomo menjadi sasaran paling tepat.


 


 


"Maafkan saya tuan ". Tomo mencoba mengalah. Malas adu argumen dengan lelaki yang sedang menanggung rindu berat.


 


"Ahhhhh...kau ini ". Masih marah, tetapi tidak tahu harus mau gomong apa lagi.


 


Dave melangkah gontai, menaiki anak tangga langsung menuju kamar. Tanpa menyapa sang Mama, bahkan Dave melewatkan acara makan malam keluarga yang selama ini tidak pernah dia lupakan. Sebuah kebiasaan yang sesulit apapun akan di laksanakan. Namum, bukan hari ini. Dave seakan sengaja melupakan semuanya hanya untuk membuat dirinya lelah dan pulang dengan tenaga yang hanya bisa di pakai buat masuk ke kamar. Mengunci diri dan menyiapkan tenaga kembali untuk esok hari. Hidup tanpa sosok wanita yang di pujanya, yang sangat dicintai.

__ADS_1


 


******************


 


Hari kedua


Feya bangun dengan senyum manis seperti semalam, jadi bisa di tebak lagi, kalau Feya berhasil melalui hari dengan senang.


 


Feya mencoba mengerakkan tangan kanannya perlahan, ingin merasakan seberapa besar keluhan yang akan di terimanya saat bahunya di bawa beraktivitas lagi.


 


"Aduh ", suara Feya pelan sambil mencoba mengapai posisi luka di bahu kanan.


Lukanya sudah mengering, tinggal proses menyehatkan lagi, tetapi untuk rasa perih tetap saja masih tertinggal.


 


"Sepertinya aku udah bisa masuk kerja deh besok ". Meskipun masih merasakan kurang nyaman tetapi Feya yakin, kalau hanya berkerja di kantor, semua tidak akan masalah.


 


Dan sudah di putuskan, hari ini Feya akan pulang ke apartemenny. Akan kembali ke kehidupan normalnya lagi seperti biasa.


 


Lantas, bagaimana dengan Dave ?


 


Masih sama seperti semalam. Dave bangun dengan mata mencari sosok yang di rindunya sejak semalam. Dan akhirnya Dave akan kembali melalui hari ini dengan sikap kesal dan aroma kemarahan, sama seperti kemarin lagi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2