TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 90


__ADS_3

TEMAN


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


"Kesini ?" Feya sibuk menatap ke arah luar memperhatikan sekitar melalui kaca depan mobil. "Sudah sampe ?" Tanya Feya heran.


 


"Iya, di sini ", jawab Dave sambil mengajak Feya turun.


 


"Serius, di sini ?" Feya masih tidak percaya. Sedang Dave membuka pintu mobil bagian belakang dan menurunkan tas kain yang di bawa Feya tadi. "Aku nompang ini ya ?" Dave menunjukkan celana pendek pada Feya.


 


"Mau pake itu nanti ?" Feya menunjuk celana yang di pegang Dave.


 


"Iyaap ", jawab Dave cepat. "Ayo ". Lagi Dave mengandeng Feya dan merekapun masuk ke dalam wahana bermain air yang cukup terkenal di kota tersebut, sengaja di pilih Dave untuk mengisi siang mereka hari ini.


 


 


***************


 


Siap bermain, berbagai wahana air sudah mereka coba. Bahkan sebuah seluncuran air yang tingginya bermeter-meterpun berani mereka jajal. Awalnya Feya cukup takut, susah payah Dave mengajaknya hingga akhirnya keberaniaan Feya pun timbul. Ternyata di luar dugaan, setelah mencoba, Feya malah ketagihan sampai 2 kali mereka menikmati sensasi meluncur dari ketinggian sambil terus berteriak keras, adrenalin benar-bensr terpacu.


 


Feya masih tertawa senang, rasanya siang hari ini Feya begitu lepas, beban dipundaknya karena memikirkan permaian perannya bersama Leya jauh berkurang. Feya melangkah ringan sambil terus tertawa, efek kegembiraan hanya dengan bisa bebas teriak tanpa ada yang melarang dan adrenalin yang sempat terpacu tadi. Andai saja perutnya tidak meronta kelaparan, sebenarnya Feya berniat menolak ajakan Dave untuk menyudahi acara main mereka siang ini. Dan Dave terpaksa membujuk Feya dengan menjanjikan suatu hari nanti mereka akan bermain lagi kesini. Seperti anak kecil saja, Feya melompat kegirangan hanya dengan sebuah janji, wajah cantiknya tersenyum merekah memberi efek berkali-kali lipat menambah kecantiknya menurut Dave. Kembali lagi Dave merasa sesuatu di dalam hatinya, hanya dengan melihat Feya benar-benar senang, Dave sudah berbunga-bunga.


 


"Suka ?" Tanya Dave sambil mengajak Feya ke kamar bilas.


 


"Banget. Aku udah lupa kapan terakhir main air sepuas ini ". Feya masih tertawa sendiri. "Kamu enggak ada takutnya ya ? Padahal aku itu takut waktu kamu ajak naik seluncuran setinggi tadi ".


 


"Tapi setelah itu kamu nagihkan ?"


 


"Iya, seru sih. Bisa teriak sepuasnya, plong ". Dave berhenti mendengar Feya berbicara.


 


"Kamu lagi ada masalah ?" Dave memandang Feya.


 


"Kok nanya gituh ?" Feya juga ikut berhenti.


 


"Kamu kalau ada masalah cerita sama aku. Kan kita teman, jangan di simpan sendiri ".


 


"Enggak ada, cuma masalah biasa. Sudah jangan di pikirkan ". Feya mengajak Dave jalan lagi.


 


"Kapan-kapan kita main ke sini lagi, aku akan ajak kamu lagi ".


 


"Serius ya Dave ". Feya bertepuk senang.


 


"Iya, janji ". Dave kemudian menyuruh Feya masuk ke kamar bilas wanita dan dirinya ke kamar bilas pria.


 


 


***************


 


"Hallo sayang ". Suara manja khas seorang Leya terdengar di ujung telepon. Hadi tersenyum senang padahal cuma dengar suara saja.


 


"Beb, i miss you ".


 


"Gombal ah, kan kita baru ketemu semalam ". Leya pura-pura mengingatkan Hadi kalau dia dan Hadi sudah makan malam bersama semalam.


 


"Kan malam kita nggak lama ketemuannya beb, kamu mendadak harus pulang karena Feya. Eh, iya gimana kabar Feya, ada apa dia mendesakmu untuk ke apartemennya semalam ?"

__ADS_1


 


Waduh..jawab apa ya? 


"Masalah pekerjaannya sayang, sepertinya ada kendala. Jadi dia butuh teman cerita ". Jawab Leya asal


 


"Dia itu bukan butuh teman cerita beb, tapi butuh pendamping. Usul aku tentang Anjas gimana ? Kita coba kenalkan mereka. Mana tahu jodoh ?"


 


"Tapi kamukan tahu Feya, nanti malah dia marah. Enggak deh sayang, aku enggak berani ". Tolak Leya pada tunangannya.


 


"Kita coba aja dulu, buat seperti pertemuan tidak sengaja gituh. Nanti aku atur deh beb, ya ?" Hadi sedikit mendesak Leya.


 


"Emmm, gimana baiknya kamu aja. Tapi setelah minggu depan ya sayang !"


 


"Kok gituh, lama amat ?"


 


"Kan Feya masih dinas luar kota. Jadi kita biarkan saja dulu sampai semua kegiatannya selesai. Baru setelah itu kita jodohkan dia sama Anjas ". Sebuah kebohongan dari Leya.


 


"Okeh..enggak papah. Setelah lewat minggu depan saja ". Senyum Hadi senang. Akhinrya setelah sekian lama, Hadi bisa juga membantu calon adik iparnya itu lepas dari status jomblonya.


 


Dan pembicaraan telepon antara Leya bersama Hadi masih lanjut. Mereka sibuk membahas berbagai hal, bercerita begitu lama. Sejujurnya Hadi sedikit heran menanggapi sikap kekasihnya itu. Hadi merasa sikap manja Leya yang terdengar di telepon seperti orang yang sudah lama tidak saling jumpa. Padahal jelas-jelas baru beberapa jam yang lalu mereka makan malam bersama. Tapi Hadi tidak mempermasalahkan hal tersebut, toh dia juga suka saat mendengar tunangannya itu begitu merindukannya.


 


***************


 


"Habis ini kita kemana ?" Feya sudah merasa kenyang.


 


"Kamu enggak capek ? Gak istirahat dulu ?" Dave sedikit khawatir dengan kondisi Feya, setelah bermain dengan berbagai wahana air berjam-jam lamanya. Sekarang seperti tanpa lelah mengajak lanjut kegiatan lainnya.


 


"Enggak, aku sama sekali gak capek. Malah seneng banget ". Feya tersenyum pada Dave.


 


 


"Iya, iya. Kemana Dave ?" Dengan muka penasaran Feya menatap Dave.


 


"Rahasia ". Jawab Dave acuh, ayo kita berangkat sekarang ". Dave mengulurkan tangannya pada Feya, Feya menerimanya dan mereka berjalan sambil bergandengan tangan.


 


Perjalanan lumayan jauh, lebih dari satu jam waktu yang harus di tempuh hingga Dave dan Feya sampai pada tempat yang menjadi tujuan selanjutnya Dave akan membawa Feya.


 


Mobil telah di parkir rapi oleh Dave, tapi Feya masih saja tertidur. Ya, sepanjang perjalanan kali ini tanpa di sadari Feya tertidur lelap. Awalnya mereka masih bercerita, pengalaman bermain di wahana air tadi masih mendominasi cerita mereka. Feya masih saja bersemangat dengan pengalaman menegangkan saat menaiki wahan yang tingginya nyaris mendekati tinggi gedung berlantai 5. Ceritanya sangat mengebu-gebu, seperti anak kecil yang baru pertama diizinkan oleh orang tuanya untuk pergi kencan saja. Menegangkan, begitu menurut Feya.


 


Dave tidak bisa berhenti tersenyum merespon antusianya Feya dalam mengambarkan seperti apa adrenalinya tadi terpacu. Hingga selang beberapa saat, Feya menguap dan mulai menyandarkan kepalanya ke arah pintu. Ternyata tidak butuh waktu lama. Feya akhirnya terlelap, sangat tenang.


 


Tadinya Dave sempat berhenti sejenak, memperbaiki posisi tidur Feya. Takut kalau-kalau Feya akan merasa tidak nyaman atau malah kepalanya terbentur di pintu mobil. Dave pun memilih meletakkan kepala Feya lebih ke tengah dari kursi yang diduduki Feya. Feya tidak bergeming, tetap tidur lelap. Sekilas Dave memandangi wajah cantik Feya. Benar-benar cantik. Begitu isi pikiran Dave. Kemudian Dave meletakkan sejumput rambut kembali ke belakang telinga Feya, Dave mulai tergoda. Matanya terus saja memandangi bibir ranum Feya yang seakan memanggil dirinya. Susah payah Dave menelan sulivannya, jakunya naik turun. Untungnya Dave bisa menguasai diri, secepatnya Dave henyahkan godaan manis yang terus memintanya agar mencium Feya. Dave pun memilih melanjutkan perjalanan, mengemudikan mobil agar sampai di tempat tujuan.


 


Sekarang mereka telah sampai, Dave pun telah membangunkan Feya. Sebentar Feya mengerjab, kemudian memandang Dave sambil tersenyum. Hati Dave kembali tergetar, pemandangan kali ini terlalu indah untuk dilewatkan.


 


"Maaf, aku tertidur ". Feya masih tersenyum pada Dave.


 


"Kamu pasti capek ?"


 


"Enggak kok, cuma tadi agak ngantuk aja, hehehe ". Feya cengegesan nggak jelas.


 


"Kamu yakin mau lanjut, atau kita pulang saja. Lain waktu kita kesininya ?" Dave sedikit ragu.


 


"Jangan dong, kan sudah sampe sini. Lagi pula kita mau ngapain Dave. Aku belum pernah kesini loh ". Feya terlihat bersemangat kembali.

__ADS_1


 


Dave tertawa kecil melihat tingkah lucu Feya, jelas-jelas tadi dia kelelahan dan sekarang malah sudah bersemangat lagi.


 


"Kita baru sampai di tempat parkirnya saja, tujuan utama kita ke atas sana ". Tunjuk Dave ke arah atas.


 


"Memang ada apa di sana ". Dari posisinya duduk, Feya tidak bisa melihat apa gerangan yang sebenarnya di tunjuk oleh Dave.


 


"Sulit di jelaskan. Kita ke sana aja gimana ?"


 


"Mau, ayooo ". Feya sudah melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun.


 


Begitu pintu mobil di buka, hawa sejuk dan semilir angin menerpa wajah Feya. Udaranya benar-benar bersih, jauh dari polusi dan hiruk-pikuk perkotaan. Feya turun dari mobil, memperhatikan sekeliling. Kawasan perbukitan yang hijau dengan pohon-pohon tinggi menjulang. Benar-benar asri, Feya sangat suka dengan semua pemandangan di sekitarnya.


 


"Kita berjalan ke atas. Apa kamu sanggup ?" Tanya Dave saat sudah berdiri di samping Feya.


 


"Sanggup dong, cuma jalan aja kok. Tenangggg ". Jawab Feya menyakinkan Dave.


 


"Ayo kita ke atas ". Lagi, Dave mengulurkan tangannya pada Feya dan mereka berjalan bergandengan.


 


Hampir 20 menit jalan kaki di area yang lumayan rumit. Ada bebatuan dan jalan tanah yang harus mereka lalu, seperti sedang treaking saja tapi dengan rute yang tidak terlalu ekstrim. Beberapa kali Feya bertanya pada Dave sebenarnya mereka mau kemana, tapi Dave selalu jawab rahasia.


 


Dan akhirnya dari jarak beberapa meter Feya dapat melihat ada hamparan bunga warna warni membentang luas di depannya, seperti permadani sangat indah. Terlebih bagi Feya yang seumur-umur belum pernah melihat hamparan bunga begitu banyaknya. Setengah berlari Feya mempercepat jalannya, jelas dia sudah tidak sabar lagi untuk sampai. Feya sangat ingin berkeliling di antara bunga warna warni yang luasnya melebihi lapangan bola.


 


"Ayooo cepat ". Feya sibuk memanggil Dave agar mempercepat jalannya. "Ayooo Dave sini.. !" Feya sudah membentangkan lebar kedua tangannya sambil berputar dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.


 


Feya terlalu bersemangat, hingga kakinya terselip dan nyaris jatuh. Untung Dave sigap, secepat mungkin berlari dan mengapai Feya di saat yang tepat. Dave berhasil menangkap Feya yang jatuh dalam pelukannya, Feya terdiam di dada Dave. Detak jantung Dave begitu keras, Feya bisa mendengar dengan jelas. Sesaat mereka hanya diam dalam keadaan berpelukan. Dave memeluk erat Feya, seakan takut Feya kenapa-kenapa, meskipun sadar jantungnya memberontak keras, Dave tetap memeluk Feya. Sementara Feya, terhanyut dalam pelukan Dave, entah kenapa dirinya merasa sangat nyaman. Seakan dada bidang itu memang disiapakan Tuhan untuknya, Feya menghirup wangi mask, mint dan baccaret dalam. Rasanya dia terbuai dengan aroma tubuh Dave, tanpa malu Feya mengulang sekali lagi menghirup aroma tubuh Dave.


 


Entah sudah berapa menit mereka habiskan untuk saling berdiam dalam keadaan berpelukan. Hingga seorang anak kecil menyudahi adegan tersebut. "Kakak cantik pacarnya om ini ya ?" Sapa si anak tanpa takut, karena telah menganggu Dave dan Feya.


 


Cepat Feya menarik diri dari dekapan Dave, wajahnya memerah. Feya merasa sangat malu, di tambah lagi mendengar suara bocah lelaki kecil yang sengaja menarik ujung kemejanya.


 


"Kakak pacarnya om ?" Si anak mengulang kembali pertanyaannya pada Feya.


 


"Bu-bukan ". Sedkit tergagap Feya menjawab.


 


"Terus kenapa berpelukan tadi, di depan umum lagi. Apa gak malu ?" Tanya si anak tanpa dosa. Bibir Feya mendadak kelu. Rasanya dia ingin mengali lobang sedalam di kerak bumi dan tengelam di dalamnya.


 


Ya ampun, anak siapa ini ? Kenapa gomongnya lancar banget, sangat hebat memojokkan aku.


 


Dave menjongkok menghadap ke arah si bocah. "Tadi kakaknya hampir jatuh, jadi om tolong ". Dave mencoba meluruskan situasi yang sebenarnya pada si anak. Entah kenapa, Dave merasa perlu meluruskan segalanya. Padahal yang berdiri di hadapannya itu hanya seorang anak yang mungkin baru masuk usia 5 tahun.


 


"Yakin kakak bukan pacarnya om ?" Si bocah masih menarik ujung baju Feya.


 


"Iya...bukan adek kecil ". Sekarang Feya ikut berjongkok di depan si anak yang masih saja terus bertanya padanya.


 


"Okeh..kalau kakak bukan pacar om ini, maka kakak akan menjadi pacarku ". Suara sianak terdengar sangat serius.


 


Feya membesarkan bola matanya, sedang Dave bercita-cita mau memitak kepala si anak. Untung saja semua terselesaikan dengan cepat. Suara seorang wanita terdengar keras memanggil anak tersebut, ternyata Ibu dari si anak itu sedang mencari kesana kemari anak lelakinya yang tadi izin ke toilet dan belum juga kembali.


 


Walaupun kesal, tapi si anak mengalah dan memilih mengikuti langkah Ibunya menjauh dari Dave dan Feya. Tapi sebelum itu, "om..kalau om nggak bergerak cepat. Aku akan kembali dan merebut hati kakak cantik agar menjadi milikku ".


 


Dave dan Feya saling berpandangan, Feya terlalu takjub mendapati bocah lelaki yang jauh dari kata dewasa namun, mampu berkata layaknya orang dewasa. Sedang Dave, mendengar celotehan anak kecil itu mendadak terbakar cemburu, rasanya dia tidak bisa menerima kalau anak kecil tersebut berniat mendekati Feya. Aneh memang, tapi Dave sangat yakin dirinya memang sedang cemburu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2