TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 44


__ADS_3

TOLONG


γ€€


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


γ€€


Feya berusaha membersihkan diri, mengelap sisa keringat yang tadi sempat memenuhi wajahnya. Sedikit lebih enak, tetapi hanya sedikit saja. Feya menarik nafas panjang, menghembuskannya kembali, berusaha mengatur nafasnya sebaik mungkin agar tenang.


γ€€


Feya melangkah meninggalkan toilet, membuka pintu toilet.Β Tunggu..


γ€€


Pintu kembali tertutup, Feya bergegas mengeluarkan kembali isi perutnya.Β Pusing, enggak sanggup lagi.Β Feya mulai merasa kelelahan yang teramat sangat, hingga rasa pusing pun mulai mendera.


γ€€


Pelan Feya melangkah ke arah pintu, berusaha mengeluarkan dirinya. Rasa pusing yang menimpanya, sangat membuat Feya ingin menjatuhkan dirinya.


γ€€


Mana Hadi? Aku nggak sanggup lagi, aku mau pulang.


γ€€


"Tolong". Suara lirih Feya yang tampak tidak berdaya. "Pusing".


γ€€


---------------


γ€€


"Bagaimana dok?" Terdengar nada suara cemas seorang lelaki bertanya kepada dokter di sebuah ruang periksa pasien.

__ADS_1


γ€€


"Tidak apa-apa, tidak perlu cemas". Dokter berusaha menenangkan lelaki yang sedari awal tadi terlihat amat sangat khawatir.


γ€€


Sukurlah di zaman seperti ini, masih ada hubungan rumah tangga yang di landaskan cinta. Lelaki tampan ini terlihat sangat sayang pada istrinya. Semoga kalian langgeng ya.


γ€€


"Tapi dok?" Ada usaha menyangkal dari si lelaki terhadap sikap santai dokter barusan.


γ€€


"Percayalah, istri tuan hanya mengalami reaksi penolakan terhadap makanan. Normal saja, hasil pemeriksaan saya tadi. Sepertinya istri tuan tidak terbiasa mengkonsumsi olehan daging, mungkin lebih tepatnya tidak suka olahan daging. Jadi di saat makanan dengan unsur daging masuk ke dalam perutnya, maka secara otomatis tubuh akan menolak. Selanjutnya tuan pasti sudah taukan apa kelanjutanya?" Dokter memberi penjelasan kepada si penanya yang sangat gusar.


γ€€


Tidak suka daging? Lantas kenapa memaksakan diri memakannya? Atau malah di paksa?


γ€€


γ€€


"Tidak tuan, tidak perlu. Istri tuan hanya dehidrasi saja, jadi sangat wajar kalau dia mengeluhkan pusing dan tubuhnya menjadi lemah". Jelas sang dokter.


γ€€


"Apa yang harus saya lakukan?" Si lelaki meminta solusi terbaik dari dokter.


γ€€


"Pertama, pastikan istri tuan beristirahat dengan baik malam ini. Kedua beri dia minum air hangat, ketiga saat istri tuan mengeluh perutnya kram dan itu sangat wajar karena proses muntahnya tadi sangat berat, maka beri kompresan air hangat di perutnya. Ke empat, untuk satu hari besok, istri anda harus mengkonsumsi makanan yang lembut dulu. Kita harus mengurangi iritasi di tengorokannya!"


Sambil tersenyum, dokter memberi penjelasan.


γ€€

__ADS_1


"Satu lagi dok, apakah semua ini pertanda bahwa, bahwa, bahwa dia hamil?" Ragu, tetapi dorongan hati membuat pertanyaan tersebut keluar juga.


γ€€


Kasihan sekali, ternyata mereka tengah berharap ini semua merupakan pertanda baik rupanya.


γ€€


"Tuan dan istri masih sangat muda, percayalah walaupun bukan sekarang. Suatu saat nanti kalian akan disegerakan untuk memiliki momongan". Dokter berusaha memberi jawaban dalam bentuk khiasan demi tidak membuat si penanya terlalu bersedih.


γ€€


"Maksud dokter?"


γ€€


"Yang di alami istri tuan, murni reaksi atas penolakan terhadap makanan tertentu. Bukan karena istri tuan sedang hamil, tapi seperti yang saya sampaikan tadi. Tuan dan istri masih muda, kesempatan kalian masih panjang". Dokter memberi senyum terbaiknya tepat di akhir penjelasan.


γ€€


Sukur-sukur, berarti besar kemungkinan dia bukanlah istri orang.


γ€€


"Terima kasih banyak dokter, saya akan pastikan istri saya beristirahat dengan baik malam ini". Ucap si lelaki sambil menyalami dokter.


γ€€


"Sama-sama tuan, ooo..satu lagi kalau perlu surat keterangan sakit, bisa tuan minta di bagian resepsionis ya". Jawab dokter sambil membalas jabat tangan.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2