TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 163


__ADS_3

LAMARAN


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


 


Dave konsisten dengan ucapannya. Setelah 2 hari berlalu, keluarga besar Maladi dan keluarga besar Baratta berkumpul di sebuah aula megah di hotel berbintang yang merupakan salah satu aset properti milik Dave di tanah kelahiran Feya.


 


Aula nan cantik dengan dekorasi putih dan deretan bunga mawar putih. Sepertinya siapapun yang mendekorasi aula tersebut, jelas sangat berhasil. Keindahan dan sisi elegan dari pasangan yang segera akan menikmati acara makan bersama itu nampak jelas di mana-mana.


 


Alunan musik begitu lembut, permainan piano sangat bagus. Pianis yang duduk di depan pentas itu sukses memainkan lagu Love milik Nat King Cole. Acara makan malam 2 keluarga berlangsung ramah, semua senang, semua bahagia.


 


“Sayang, maukah kamu berdansa denganku ?” Tanya Dave yang langsung di balas gelengan kepala keras oleh Feya.


Dansa, akukan mana bisa dansa. Ah, apa benar dugaanku, duniaku dan Dave jauh berbeda. Bohong kalau suatu masa Dave tidak akan mengajakku berdansan. Bohong kalau Dave tidak punya keinginan itu. Batin Feya terpuruk malu.


 


“Dengar calon istriku, aku ingin mengajakmu berdansa. Kenapa kamu malah takut ?” Dave tersenyum pada Feya.


 

__ADS_1


“Baiklah karena calon istriku tidak mau berjalan sendiri ke lantai dansa, biarkan aku mengendongnya “. Tanpa menunggu jawaban Feya, Dave segera mengendong Feya dan membawanya ke lantai dansa. Feya kaget, tetapi itu belum seberapa. Kemudian Dave bersimpuh di depan Feya, melepaskan sepatu cantik yang di pakai Feya. Mengangkat tubuh mungil itu agar berdiri di atas kakinya, dan mereka pun berdansa. Persis seperti masa itu, Feya dan Dave menikmati detik demi detik alunan musik yang merdu.


 


Hingga saat lagu telah berhenti. Lampu di buat temaram.


 


Sorot lampu besar mengarah kepada Feya. Sebuah suara terdengar, Dave sedang berbicara dengan mikrofon di tangannya.


 


“Feya “, saat Dave mulai berbicara, di bagian depan pentas muncul foto Feya saat masih balita.


 


“Siapa yang menduga putaran waktu begitu cepat berputar. Gadis kecil bermata biru gelap itu sudah sangat dewasa. Tumbuh sempurna dan cantik luar biasa “. Foto berikutnya muncul.


 


 


“Kamu begitu tegas, tetapi begitu rapuh. Aku ingin melindungimu ! Kamu begitu lepas, tetapi kamu begitu menutup diri. Aku ingin menjadi pemilik hatimu ! Feya, kamu begitu cantik, kamu sempurna dengan segala kekuranganmu dan kamu hebat dengan segala kelebihanmu. Dan aku ingin menjadi bagian kecil dalam hari-harimu. Bagian kecil yang melimpahkan cinta sebesar-besarnya untukmu. Menjaga kamu selamnya, memilikimu sepenuh jiwa dan menjadikan kamu ibu anak-anakku “. Sebuah lampu sorot terang, muncul dari atas. Menyoroti Dave yang sedang berjalan ke arah Feya.


 


“Feya, aku mencintaimu. Kamu telah menjebak aku dalam cinta tiada akhir ini. Maka, kamu harus tanggung jawab pada jiwa mendambaku “. Dave bersimpuh di depan Feya yang nampak melongo tidak percaya. Matanya berkaca-kaca, Feya bahkan kesulitan bernafas dengan semua susunan kata Dave padanya.

__ADS_1


 


“Feya, kekasih hatiku, belahan jiwaku. Maukah kamu menerima aku untuk mendampingi segala kehebatanmu ? Maukah kamu menghabiskan masa tua bersamaku dalam balutan cintaku ? Maukah kamu memberikanku keturunan dalam hari-hari kita ?” Feya tersentak tidak percaya. Refleks kedua tangannya terangkat menutup bibir mungilnya.


 


“Feya, maukah kamu menikah denganku ?” Suara lembut Dave, tetapi dalam maknanya. Membuat air mata yang sudah mengenangi kelopak matanya jatuh begitu saja. Jantung Feya berdebar tidak menentu. Jiwa Feya bersorak terlalu girang, hati Feya serta merta menuntutnya menjawab iya.


 


Satu detik berlalu, semua mata yang memandang sedang terlihat menahan nafas, takut melewatkan jawaban yang sudah mereka tunggu dari mulut Feya.


 


“Dave..”, suara Feya di antara air mata harunya.


 


“Aku bersedia “. Jawab Feya dengan wajah merona.


 


Serasa tidak percaya, Dave berteriak senang sambil mengangkat tangan kanannya tinggi ke udara. Dave melompat tinggi, dirinya terlalu senang.


 


Suara tepuk tangan semua yang datang menyadarkan Dave dari hiforianya. Cepat Dave mengangkat Feya tinggi, memutar-mutanya di udara. Dave mendongak menatap mata biru yang masih meneteskan air mata itu.

__ADS_1


 


“Terima kasih Feya, terima kasih mau menerima aku dalam hidupmu “. Suara mesra Dave yang di sambut senyum cerah Feya.


__ADS_2