TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 101


__ADS_3

SADAR


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


γ€€


Hampir 3 menit berlalu sejak sang dokter pamit meninggalkan ruang kerja tuan Maladi, tapi selama itu pula Feya belum sadar juga. Si Presdir Malaky Group masih menunggu buah hatinya di kamar istirahat, meninggalkan Dave dan Tomo duduk termenung dalam pikiran masing-masing di ruang kerja. Sebenarnya Dave sangat ingin masuk ke dalam kamar tempat Feya terbaring, entah kenapa di dalam hatinya ada rasa cemas. Padahal Dave tidak mengenalΒ  sosok Feya, namun hatinya begitu gelisah kenapa Feya belum sadar juga. Jelas tidak mengenal Feya, tapi perasaannya mengatakan dirinya sangat perduli pada gadis cantik yang terlihat pucat itu.


γ€€


Lain Dave, lain pula Tomo. Perasaan Tomo mulai tidak nyaman menunggu ketidakpastian di ruangan tersebut. Apa lagi yang mereka tunggu bukanlah urusan yang berhubungan dengan pekerjaan sang tuan. Aneh saja, yang punya ruangan dimana yang menunggu dimana ? Merasa terabaikan, apa lagi dengan situasi ada yang sakit, bukankah lebih aneh lagi kalau mereka masih berencana menunggu. Begitu kira-kira pikir Tomo.


γ€€


"Apa tidak kita kembali lain waktu tuan ? Sepertinya sekarang tuan Maladi sedang tidak bisa menerima tamu ?" Tomo mencoba memberi usul pada Dave.


γ€€


"Kita tunggu sebentar lagi ! Saya gak tenang kalau belum memastikan Feya nggak papah lagi ". Jawab Dave sungguh-sungguh.


γ€€


"Tuan yakin ?" Tomo memandang Dave ragu.


γ€€


"Saya juga enggak yakin sih, kenapa punya rasa perduli sama Feya padahal jelas saya enggak kenal dia ? Tapi kita tunggu 2 menit lagi. Tadi kata dokternya kalau belum sadar juga hingga lewat 5 menit harus segera di bawa ke Rumah Sakitkan. Kita lihat perkembangannya !"


γ€€


"Jadi yang di dalam memang bukan nona Leya ya tuan ?" Tomo masih terlihat tidak percaya. Dave telah menceritakan semua identitas wanita yang masih pingsan di dalam kamar istirahat kepada Tomo. Ternyata respon Tomo sama seperti Dave, melotot heran dan tidak percaya.


γ€€


"Iya, kata tuan Maladi itu kembaran Leya, adiknya. Feya ".


γ€€


"Mirip banget tuan, sama banget gak ada beda sama sekali ". Tomo mengeleng bingung memikirkan tingkat kemiripan Leya dan Feya.


γ€€


"Ternyata antara kamu dan saya sama pendapatnya, mereka seakan 2 orang yang sama. Saya malah sempat ragu, masa iya kembar identik sampai kemiripannya sama persis, 100 persen sama ? Terlalu sempurna rasanya ". Tomo sekarang malah mengangukan kepalanya.


γ€€


"Saya kebetulan gak punya pengalaman dengan anak kembar tuan. Hanya saja saya memang susah mencerna keadaan sekarang tuan. Karena perasaan saya sama seperti apa yang tuan bilang tadi, mereka seakan adalah 2 orang yang sama ". Ucap Tomo ragu.


γ€€


"Sudahlah, kita tunggu saja sebentar lagi ". Akhirnya Tomo memilih diam kembali.


γ€€


Sementara itu....


γ€€


"Fe..sadar dong nak ! Jangan buat Papa cemas !" Sang Papa membelai pipi pucat Feya.


γ€€


"Feya kenapa nak, ada masalah apa ? Papa belum pernah melihat kamu seperti ini ?" Ada gurat kesedihan di wajah tua sang Papa.


γ€€

__ADS_1


Papa memijat pelan legan Feya, matanya terus menatap kelopak mata Feya yang masih terpejam. Sepertinya belum ada tanda-tanda Feya akan segera sadar.


γ€€


Menit berikutnya berlalu, sang Papa melihat ada pergerakan di kelopak mata Feya.


γ€€


"Feeee, nak.....?" Papa mengengam kuat jemari Feya.


γ€€


Ternyata jemari Feya memberi respon, ada gerakan pelan yang terasa di tangan Papa.


γ€€


"Ehhh ", erang Feya pelan.


γ€€


"Sayang, ini Papa ". Wajah Papa mulai terlihat tersenyum, rasa khawatir mulai berkurang.


γ€€


"Pa...". Suara Feya sangat lemah dengan mata yang masih di tutup rapat.


γ€€


"Iya, iya...ini Papa, nak. Bilang Papa apa yang sakit ?" Papa mengusap-usap kening Feya.


γ€€


"Kepala Feya pusing Pa, semua rasanya berputar ". Feya terlihat mencoba membuka matanya perlahan.


γ€€


γ€€


Feya mencoba menganguk pelan.


γ€€


"Papa telepon pantry dulu ya, suruh mereka buatkan jus naga kesukaanmu. Sebentar ya !"


γ€€


Hanya jawaban iya saja yang keluar dari mulut Feya pelan.


γ€€


Dave dan Tomo spontan berdiri begitu tahu tuan Maladi berjalan keluar kamar istirahatnya. Melihat sang Presdir Malaky berjalan cepat ke arah meja kerjanya dan mengapai telepon.


γ€€


"Keruang kerjaku sekarang ". Hanya itu saja dan telepon di putus.


γ€€


Rencananya Papanya Feya ini mau duduk sesaat di kursi kerjanya, pikirannya harus di tenangkan. Mendapati Feya si anak kembarnya dalam kondisi ini, Papa benar-benar terkejut. Bukan Feya yang biasanya.


γ€€


"Astaga, maafkan saya ". Ternyata tuan Maladi sudah melupakan keberadaan Dave dan sekretarisnya.


γ€€

__ADS_1


"Silahkan duduk, silahkan ". Tuan Maladi berjalan ke arah sofa singel tepat di depan Dave duduk. "Maaf, saya pikir anda sudah pergi tadi ". Hembusan nafas panjang terdengar di hembuskan tuan Maladi.


γ€€


"Tenanglah Pak, kami mengerti kondisi Bapak ". Dave berusaha bersikap ramah.


γ€€


"Saya benar-benar bukan tuan rumah yang baik ya ?" Ada tarikan nafas dalam dan tertahan sesaat, hingga terdengar hembusan nafas panjang. "Saya benar-benar minta maaf atas ketidak sopanan perusahaan saya ini ". Entah sudah kali keberapa Dave mendengar permintaan maaf dari lelaki tua yang masih menyisakan ketampanan masa mudanya itu.


γ€€


"Sudah Pak, jangan minta maaf lagi. Saya tidak masalah, saya sangat mengerti kecemasan Bapak sebagai seorang Ayah ". Ucap Dave sungguh-sungguh.


γ€€


Tuan Maladi berencana melanjutkan pembicaraannya bersama Dave, entah kenapa perasaannya mengatakan Dave adalah sosok pemuda yang sangat pengertian. Diam-diam tuan Maladi merasa suka dan kagum terhadap Dave, melebihi kekagumannya di awal saat membaca profil pemilik property terbesar di negara tetangga itu.


γ€€


Sesaat pembicaraan terhenti, sekretaris pribadi tuan Maladi masuk, tebakan Dave wanita yang sudah cukup umur itu adalah orang yang tadi di telepon si majikan untuk masuk ke ruang kerjanya.


γ€€


"Tolong ambilkan jus naga dan blueberrycake buat Feya ya. Kalau bisa jusnya tanpa gula, beri madu saja !" Perintah sang tuan yang segera di sanggupi oleh sekretarisnya.


γ€€


"Feya tidak seperti ini biasanya ". Saat si sekretaris telah melangkah pergi, tuan Maladi melanjutkan perbincangannya bersama Dave. Sedang Tomo, dia lebih memposisikan diri sebagai penyimak saja.


γ€€


Dave yakin belum saatnya bagi dirinya berkomentar, Dave hanya diam memandang wajah cemas lelaki tua yang duduk di depannya itu.


γ€€


"Feya gadis kuat, dia sangat tegar. Ya, walaupun dia sedikit tertutup tapi saya belum pernah melihat dia seterpuruk ini. Entah apa yang menganggu pikirannya sampai bisa sekacau itu ". Tuan Maladi kembali menarik nafas dalam.


γ€€


"Masalah pekerjaan mungkin Pak ?" Dave sudah berani bersuara sekarang.


γ€€


"Entahlah.....", bahu tuan Maladi sedikit terangkat. "Saya ragu, kalau masalah pekerjaan. Feya menyukai dunia pekerjaanya dia bersemangat dengan benda-benda cagar budayanya. Jadi saya ragu ".


γ€€


"Benda cagar budaya ?" Dave malah mengulang kalimat terakhir tuan Maladi penuh tanda tanya.


γ€€


"Ooo, saya belum jelaskan ya ? Hahahaha ". Tawa pelan terlontar dari wajah tua itu.


γ€€


"Leya dan Feya memang kembar identik. Mereka bagai pinang yang di belah sempurna. Tapi kedua anak gadis saya ini punya kepribadian yang bertolak belakang. Leya wanita ambisius dan berjiwa keras, dia sangat hebat di dunia bisnis, dia mewariskan bakat saya dan dialah yang akan menjadi pewaris semua ini ". Tuan Maladi mandang sekeliling ruangan.


γ€€


"Awalnya saya berharap Feya juga punya minat yang sama dengan kembarannya, tetapi Feya berbeda. Feya hanya tertarik pada benda-benda kuno. Sejujurnya sejak kecil Feya memang menyukai hal-hal klasik. Hingga saat dia sudah dewasa, Feya memilih dunia cagar budaya sebagai tempat mengapresiasikan diri. Feya adalah pimpinan di Lembaga Penelitian dan Pelestarian Benda Cagar Budaya ". Tuan Maladi kembali terlihat menarik nafas sesaat. Dave malah tertegu mendengar latar belakang pekerjaan Feya, tidak percaya.


γ€€


"Leya anaknya supel, dia sangat mudah bergaul. Leya punya banyak teman, tidak lelaki tidak perempuan, Leya samgat mudah membaur. Leya penyuka dunia glamor, kalau kata teman-temannya dia adalah ratu pesta. Anaknya manja dan selalu tergantung pada Feya. Kadang saya malah berpikir, Feya lebih cocok menjadi seorang Kakak, dia jauh lebih dewasa dari Leya ".

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2