
HAMPIR SAJA
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
γ
"Tuan". Tomo langsung berdiri saat Dave telah berjalan ke arahnya.
γ
"Kembalilah ke Hotel, besok bawakan aku baju ganti. Siangnya baru kita bertemu dengan pemasok barang seperti rencana awal". Perintah Dave pada Tomo.
γ
"Baik tuan". Tomo menjawab patuh. "Ini kunci mobil nona, tuan". Ucap Tomo sambil menyerahkan kunci mobil Leya pada Dave.
γ
"Saya permisi dulu, selamat beristirahat tuan". Tomo membungku memberi hormat sebelum berlalu dari hadapan Dave.
γ
Tomo adalah sekertaris Dave, dirinya selalu ada dan mematuhi semua perintah sang tuan. Tomo sudah seperti tangan kanan bagi Dave, selalu ada dimana pun dia berada, selalu menyertai dirinya kapan pun dimana pun itu.
Dave pun sangat mempercayai sosok Tomo yang umurnya beberapa tahun lebih muda dari dirinya.
Sepeninggalan Tomo, Dave langsung menuju dapur dan mengambilkan segelas air hangat untuk Feya. Sementara Feya dengan perlahan membersihkan diri di kamar mandi, Feya menatap ngeri pada wajahnya. Riasan wajahnya sudah sangat kacau, bibirnya pun pucat.
γ
Aku lupa bawa baju ganti. Bagaimana ini?
γ
Tepat di saat akan menganti bajunya, Feya justru lupa kalau saat memasuki kamar mandi tadi, dia tidak membawa baju ganti. Apa minta tolong Dave aja, ambilkan baju kaos oblong yang biasa aku pake buat tidur?Β Feya mulai berpikir.
γ
Tidak, tidak boleh. Aku lupa kalau bajuku masih di dalam travel bag, belumku susun di lemari Leya. Lantas aku harus bagaimana? Berjalan ke arah lemari, aku enggak sanggup. Pake baju ini buat tidur juga enggak mungkin. Atau keluar pake handuk saja? Jangan, jangan...bagaimana kalau Dave datang dan melihatku hanya mengenakan handuk. Jangan, batalkan saja.
γ
Pelan, dengan semua sisa tenaga yang ada, Feya berjalan sambil berpegangan pada dinding kamar mandi menunju pintu. Badannya gemetar, lututnya ingin menyerah, tidak kuasa menahan tubuh Feya. Pusing, luar biasa pusing.
γ
"Astaga Le". Dave terkejut mendapati Feya yang setahu Dave bernama Leya gemetar sambil bertopang pada pintu kamar mandi. Cepat Dave meraih Feya, memeluknya. Mencoba membuat Feya sedikit lebih baik.
γ
"Kenapa enggak panggil aku?" Ucap Dave sambil terus memeluk Feya.
γ
"Aku pikir bisa sendiri, ternyata...". Jawab Feya lemah.
γ
Dave mengendong Feya dan mendudukkannya di bangku meja rias tidak berapa jauh dari mereka. "Bajunya belum di ganti?" Dave heran memandangi Feya.
γ
"Lupa bawa baju ke kamar mandi". Jelas Feya singkat.
__ADS_1
γ
"Mau ganti sekarang?" Kembali Dave bertanya pada Feya. Dan Feya hanya mengangguk pelan.
γ
Dengan sigap, Dave mengendong Feya membawanya masuk kedalam lemari pakaian besar milik Leya. "Emm, aku bantu?" Lagi Dave ragu dengan pertanyaannya.
γ
"Jangan, tidak usah. Aku bisa sendiri". Cepat Feya menolak tawaran Dave.
γ
"Kalau begitu, aku akan berdiri di depan pintu". Ucap Dave sambil menunjuk bagian luar pintu lemari tersebut. "Ada apa-apa cepat panggil aku ya". Perintah Dave pada Feya.
γ
Segera setelah Dave menutup pintu lemari, Feya berusaha sekuat tenaga mengapai travel bag yang berisi semua pakaiannya. Sial, kenapa pake enggak sempat nyusun baju sih tadi. Lantas sekarang gimana coba? Aduhhhh, pusing. Feya memegang kepalanya, berusaha kembali berdiri tegak untuk mengurangi pusingnya.
γ
Lah, jadi aku tidur pake baju apa?
γ
Sementara Feya sedang berusaha mengurangi efek pusing di kepalanya, Dave malah sibuk menghitung jumlah menit yang telah berlalu sejak Feya berada di dalam lemari baju.
γ
"Le...Leya". Panggil Dave.
γ
γ
Kok lama sih. Apa baik-baik aja?
γ
Feya mencoba mengulang untuk kedua kalinya, mencoba mengapai travel bag yang berisi semua pakaiannya demi bisa memakai baji kaos obong tua kesayangannya. Yang biasa di pakai Feya sebagai baju tidur sehari-harinya. Aduhhhhhh.. Dan di saat itu pula rasa pusingnya menjadi berkali-kali lipat.Β Nyerah, nyerah..pusing. Udah, pake baju tidur Leya aja. Semalam ini.
γ
Feya pun mengambil secara acak baju tidur Leya, memperhatikannya.Β Astaga, baju apa ini? Apa ini pantas di sebut baju. Sangat tipis, pendek dan seksi. Leya, kenapa kamu sekejam ini. Ini sama juga enggak pake baju tau.
γ
Dave kembali melihat ke arah jam tangannya. Menimbang telah berapa lama Feya berada di dalam lemari, hingga terdorong rasa khawatirnya. Dave pun kembali memanggil Feya.
γ
"Le, kamu baik-baik aja?". Tanya Dave dari arah luar pintu.
γ
"I..iya aku baik-baik aja". Jawab Feya Pelan.Β Kecuali masalah baju, aku enggak sedang baik. Apa aku enggak usah ganti baju ya? Tapi baju ini sudah tidak nyaman lagi di pake, apa lagi di bawa tidur.
γ
Pasrah sambil berdoa, Feya sangat terpaksa memakai baju tidur super tipis, pendek dan seksi milik Leya. Tidak ada pilihan lain, baju tidur Leya sama semua, sama-sama mengerikan bagi Feya. Sedangkan baju tidurnya sendiri tidak bisa dikeluarkannya dari dalam travel bag.
γ
__ADS_1
Lindungi aku Tuhan dan tolong, tolong henyahkan semua pikiran buruknya tentang aku saat melihat aku nanti.
γ
Feya mencoba membuka pintu lemari, Dave menyadari pergerakan itu dan segera membantu Feya membukakan pintu dari arah luar. Sesaat Dave mamatung, jakunnya bergerak naik turun, nafasnya memburu cepat. Ritme jantungnya mendadak bergerak cepat, jantungnya seakan ingin meledak, badannya terasa panas, entah mengapa suhu udara di dalam kamar menjadi sangat ngerah.
γ
Mata Dave melotot, memperhatikan keindahan surga yang terpampang jelas di hadapannya. Tubuh seksi dengan payudara mengoda dan paha mulus mengiurkan nuraninya tengah berdiri sempurna dalam balutan baju tidur super seksi berwarna hijau. Dave mulai goyah, suguhan menarik dari tubuh indah Feya membuat dia ingin segera mencicipi tiap inci rasa kulit putih Feya. Sangat sempurna. Guman Dave dalam hati.
γ
Butuh kekuatan luar biasa bagi Dave agar bisa memalingkan wajahya dari pemandangan tubuh indah Feya, butuh tekad yang tidak sedikit untuk membuat dirinya berhenti dari niat buruknya terhadap Feya.
γ
Tuhan, jangan ubah kebaikannya menjadi kejahatan. Tolong Tuhan, tolong lindungi aku. Aku mohon, tolong lindungi aku. Menyadari perubahan sikap Dave, Feya berkali-kali mengajukan pertolongan pada Tuhan, rasanya dia sangat tidak berdaya, sangat putus asa.
γ
"Segeralah minum obatmu dan setelah itu tidur". Perintah Dave pada Feya sambil memalingkan wajahnya, berhenti menatap tubuh indah Feya.
γ
Feya tidak menyahut, mencoba berjalan tertatih-tatih ke arah ranjang besar milik kembarannya. Berusaha sekuat tenaga agar bisa sampai ke sana dan segera membalut tubuhnya dengan selimut tebal milik Leya, bersembunyi dari tatapan lapar Dave pada dirinya. Sayang, baru beberapa langkah saja, Feya sudah ambruk. Kakinya terlalu lemas, kepalanya terlalu pusing.
γ
"Ya Tuhan". Terdengar suara penuh penyesalan Dave saat mendapati Feya terjatuh di lantai. Segera Dave mengendong Feya kembali dan mendudukkannya di tepi ranjang, memberikannya air hangat yang tadi di bawanya dan menyerah beberapa jenis obat. Meminta Feya untuk meminumnya. Setelah memastikan Feya meminum obatnya, Dave pun membaringkan tubuh Feya.
γ
"Tidurlah, besok kamu pasti sudah sehat seperti biasa". Ucap Dave sambil menarik selimut hingga menutupi leher Feya.
γ
"Terima kasih Dave". Ucap Feya tulus.
γ
"Maafkan aku Le". Dave malah membalas ucapan terima kasih Feya dengan permintaan maaf.
γ
"Kenapa?" Feya tidak mengerti.
γ
Maafkan aku menikmati setiap inci keindahan tubuhmu, maafkan aku hampir saja hilang kendali dan ingin menghempaskan tubuhmu keranjang, maafkan aku hampir saja kehilangan kendali dan ingin merasakan seberapa pas payudara indah itu di kedua tanganku, maafkan aku hampir saja ingin memastikan kamu terkurung di bawah tubuhku dan aku bergerak bebas merasakan kulit mulusmu, maafkan aku hampir saja ingin merasakan seperti apa indahnya suaramu saat mendesah mencapai kepuasan bersamaku. Astaga Le, maafkan aku hampir saja ingin merealisasikan semua hayalanku saat memandang kesempurnaan tubuh indahmu. Maafkan aku Le....
γ
"Sudahlah, lupakan saja. Sekarang kamu tidur. Aku akan berada di sana". Dave menunjuk sebuah sofa yang tidak terlalu panjang yang barada pesis di ujung ranjang. "Ada apa-apa, panggil aku ya". Ujar Dave kemudian.
γ
Mungkin pengaruh obat, atau karena rasa sakit yang teramat sangat, Feya pun akhirnya segera terlelap. Mulai merasakan sedikit rileks dan nyaman berada di bawah selimut tebal milik Leya. Dave hanya memperhatikan Feya dan berlalu ke arah sofa. Mencoba mengistirahatkan badan dan pikirannya dari pergolakan batin tadi.
γ
γ
γ
__ADS_1
γ