
BUKAN JEBAKAN (2)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
Dave menggenggam jemari Feya saat turun ke lantai satu, bahkan saat mereka berdua telah sampai di ruang tamu, depan sofa Papa dan Mama Feya, Dave tetap tidak melepaskan genggamannya dari Feya.
 
“Duduk !” perintah Papa pada kedua anak manusia yang terlihat patuh di depannya.
 
“Sekarang bicaralah !” Papa menatap Dave.
 
Feya mengeraskan jemarinya dalam genggaman Dave, jantungnya berdegub kencang. Takut dan merasa telah berbuat kesalahan fatal, Feya hanya bisa menunduk.
 
Dave mengelus punggung tangan Feya, bermaksud mengalirkan energi positif dalam jiwanya untuk kekasih hati yang terlihat pucat dan tertunduk malu.
 
Dave menarik nafas dalam, kemudian memulai berbicara. “Tuan dan nyonya Maladi. Kalau mencari siapa yang salah di sini, maka salahnya yang salah “. Feya menatap Dave.
 
“Saya gagal memenuhi janji saya pada tuan. Saya mengakui bahwa saya salah. Rasa rindu saya begitu besar pada Feya, saya terlalu terbiasa dengan keberadaan Feya di sisi saya. Saya terlalu takut Feya akan meninggalkan saya. Cinta saya membuat saya tidak berpikir panjang, sehingga saya nekat datang ke sini “. Dave berbicara begitu lancar.
 
“Saat saya sampai, Feya sudah tidur. Awalnya saya pikir kalau Feya di rumah tuan, tetapi setelah saya konfirmasi pada Hadi. Ternyata Feya di sini. Seharusnya setelah tahu itu, saya mestinya merasa cukup dan segera pergi. Tetapi “, Dave menatapa mata biru Feya yang sedari awal menatap padanya. “Saya tidak berencana pergi sebelum melihat belahan jiwa saya ini “.
 
“Saya sangat merindukannya tuan, nyonya “. Dave kembali menatap wajah kedua orang tua Feya.
 
“Kenapa malah tidur di kamar anak saya ?” Papa menaikkan sebelah alisnya tidak terima.
 
“Tuan, saya dan Feya, kami sama sekali tidak melakukan apa-apapun yang tuan tidak inginkan. Saya memang tidur di kamar anak tuan, di sofanya. Setelah Feya terlelap saya pindah ke sofa. Saya cukup tahu diri dan saya cukup bisa mengendalikan diri. Saya mencintai Feya dan saya tidak akan merusak apa yang bukan hak saya. Saya hanya konyol tuan, tidak mau pisah dari anak gadis tuan. Biarlah di sofa, tetapi tetap bersamanya “. Jelas Dave panjang.
“Pa, Ma...maafin kami. Tapi sungguh, kami enggak nggapa-nggapain “. Feya begitu jujur.
 
Papa menatap mata Feya dan Dave lama, silih berganti. Sebenarnya si Papa ini tahu kalau antara anak dan calon menantunya itu tidaklah melakukan apa-apa di dalam kamar tadi. Papa tahu siapa Feya, tabiat anaknya itu sangat di kenalnya. Dan Papa bisa melihat, bagaimana santainya Dave di dalam kamar tadi waktu dirinya memergoki lelaki tampan itu. Jelas Dave memperlihatkan wajah tidak bersalah.
 
“Panggil Ibumu kemari. Ada hal yang harus kami sesama orang tua bicarakan !” Feya kaget.
__ADS_1
 
“Pa..percayalah, aku dan Dave nggak berbuat yang tidak-tidak. Kami salah ada dalam satu kamar semalaman. Tetapi sumpah Pa, kami enggak berbuat yang tidak-tidak “. Feya sangat cemas.
 
“Sayang “. Dave membelai punggung tangan Feya.
 
“Baik tuan “. Jawab Dave lantang. “Dan kalau boleh, tolong segerakan menikahkan saya dan Feya tuan “.
 
“Semua tergantung pembicaraan antara kami sesama orang tua “. Papa menjawab acuh. “Sekarang bawa saja Ibumu menemui kami dulu !”
 
******************
 
Drama pagi itu berlalu, Tomo datang menjemput sang tuan setelah mendapat telepon beberapa waktu yang lalu. Meskipun berat, Dave tidak punya pilihan lain. Dengan langkah lunglai berjalan meninggalkan kekasih hatinya dan segera meninggalkan apartemen Feya.
 
“Orang tua Feya salah paham pada saya Tom. Mereka meminta saya membawa Mama menemui mereka “. Dave duduk sambil menatap sisi jendela mobil. Mobil telah di jalankan Tomo dengan kecepatan stabil.
 
 
“Aku ?” Dave menarik nafas panjang. “Aku senang dong “. Suara Dave begitu riang. “Dengan begitu, aku bisa mengikat Feya secepatnya. Tanpa Feya bisa menolak. Aku bisa menikahi Feya dan Feya tidak akan pergi lagi. Aku suka endingnya “. Ada tawa riang di bibir Dave.
 
“Jadi tuan tidak marah ?” Tomo jelas bisa merasakan ada nada riang di suara sang tuan.
 
“Marah ? Pada siapa, kenapa ? Jelas-jelas aku di untungkan karena kejadian ini. Apa lagi, kau tahu siapa aku. Aku memang sangat cinta pada Feya, dia segalanya bagiku. Tapi, aku tidak mungkin merusak Feya. Aku tidak mungkin melakukan apa yang bukan hakku, meskipun itu karena aku cinta dia “. Dave berbicara sungguh-sungguh.
 
“Syukurlah kalau tuan merasa demikian “. Tomo nampak sangat lega.
 
“Gaya bicaramu aneh Tomo, seperti kamu telah menjebak saya “. Dave menggeleng heran.
 
“Sekarang pergilah jemput Mama, ceritakan semuanya dan segera bawa Mama ke sini !” Dave memejamkan mata. Hatinya sangat sedang sangat senang saat ini.
 
***************
__ADS_1
 
EPILOG
 
Pagi yang cerah, Tomo sudah siap dengan setelah pakaian ganti Dave. Kemarin karena terlalu terburu-buru, hingga membuatnya lupa kalau pakaian ganti Dave belum di turunkan. Jadilah Tomo melihat jam dinding sedari tadi, menunggu telepon sang tuan untuk meminta di jemput atau mungkin meminta baju bersihnya di antar.
 
Sudah lebih 10 menit berlalu, Tomo sekali lagi melihat ke arah jam dinding baru 5 lewat 30 menit. Masih terlalu pagi juga. Tomo menimbang-nimbang, apakah tidak apa menghubungi sang tuan.
 
“Kasihan tuan “, gumam Tomo menatap layar handphonenya. Entah ke mana isi pikiran Tomo berputar saat ini.
 
“Jelas sama-sama cinta, tetapi nona Feya malah ragu pada diri sendiri “. Tomo menggeleng heran. “Andai saja nona itu tahu apa yang telah di lakukan tuan untuk menahan rindunya. Aku belum pernah melihat tuan bisa sehancur itu hanya karena seorang wanita “.
“Andai aku bisa membantu tuan untuk segera menikahi nona Feya. Tapi..... ?” Tomo berpikir keras, keningnya mengkerut.
 
“Ada sih ide cemerlang. Hanya saja apa bisa dan tidak timbul salah paham ya ?” Tomo senang dan sesaat kemudian ragu.
 
“Akukan baik tujuannya, bukan mau menjahati tuan “. Tomo seakan menjawab sendiri kerisauannya.
 
“Ah...janganlah “. Tidak tahu kenapa, mendadak membatalkan rencana yang tadi muncul di kepalanya.
 
“Tapi kalau aku tidak tolong, masih ada 4 hari lagi sebelum nona Feya menjawab keyakinan cintanya pada tuan, kesiapannya menjadi nyonya muda kami. Dan aku bisa bayangkan, selama 4 hari itu tuan akan selalu uring-unringan, tidak konsentrasi bekerja dan berakhir memarahi semua staf yang tidak bersalah. Belum lagi segala macam hal konyol yang mungkin terjadi, mengekori nona Feya hingga membuat tuan terlihay aneh nantinya “. Segala spekulasi sedang di gambarkan oleh Tomo.
 
Tomo diam, memijat sudut keningnya, kembali larut dalam pikiran panjang.
 
Beberapa menit berlalu, hatinya mendadak mantap. Tomo harus membantu sang tuan, membuat Feya segera terikat pada tuan mudanya.
 
Akhirnya tanpa ragu, Tomo menghubungi nomor tuan Maladi. Sebuah keberuntungan, nyonya Maladi yang menerima panggilan darinya. Dengan semangat Tomo menjelaskan seperti apa kondisi tuannya 3 hari belakangan saat menanggung cinta yang jauh dari hatinya. Bagaimana kacaunya majikannya itu berpisah dari Feya, dan seberapa takutnya Dave kehilangan wanita yang di puja-puja. Terakhir, Tomo menjelaskan di mana Dave sekarang berada, lengkap dengan keyakinan kalau Dave tidak akan menyentuh Feya.
 
Nyonya Maladi menyimak, mengerti semuanya. Hingga sandiwara kalau perasaannya sedang tidak enak tentang Feya pun berlangsung.
 
 
__ADS_1