TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 56


__ADS_3

KEMBALI KE KANTOR


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Tuan". Tomo langsung memberi hormat begitu tahu Davelah yang membukakan pintu untuknya.


"Ayo". Ajak Dave sambil menutup pintu apartemen Leya.


"Loh, tapi ini saya bawakan baju ganti sesuai permintaan tuan". Tomo menatap bingung pada majikannya itu, sambil mengangkat tinggi bingkisan kecil milik sang tuan.


"Saya mandi di hotel saja". Jawab Dave singkat.


"Dan nona Leya, tuan?" Tanya Tomo semakin tidak mengerti.


"Biar tunangannya yang urus". Dave mulai berjalan, melangkah meninggalkan Tomo yang terdiam di depan pintu apartemen Leya. "Kau mau di situ sampai tunangannya datang dan mengamuk? Atau ikut saya, kembali ke hotel?" Terdengar suara kesal Dave sambil metapa tajam pada Tomo, si sekretarisnya itu.


"Maaf tuan". Tomo langsung berjalan cepat, menyusul Dave yang sudah beberapa langkah di depannya.


**********


Tik tok, tik tok..


Terdengar suara detik dari jam dinding di kamar tidur Leya berbunyi keras. Mingkin karena Feya sedang berusaha berpikir, sehingga kesunyian tercipta di dalam kamar tidur yang besar itu.


Kenapa mendadak berubah ya? Aku salah apa? Di bagian mana coba? Feya sedang memaksa otaknya berpikir, mencari jawaban terbaik untuk keheranannya pada perubahan sikap Dave yang sangat mendadak dan tidak tertebak.


Tik tok, tik tok..


Beberapa detik berlalu, Feya masih berpikir dan sayangnya masih belum menemukan jawabannya.

__ADS_1


"Apa aku telah menyingung perasaanya? Masak iya?" Tanya Feya pada dirinya sendiri.


"Mikir Fe, mikirrrr". Feya mulai putus asa, merasa tidak juga menemukan jawaban untuk dirinya sendiri.


Tik tok, tik tok..


"Aku salah apa Dave?" Sekarang hanya suara pelan yang terdengar dari bibir tipis Feya. Dia benar-benar putus asa, gagal menemukan jawaban atas pertanyaan sendiri.


"Sudahlah, paling juga Dave sama seperti laki-laki lain. Hanya menyenangkan di awal dan saat telah mengenalku akan langsung bosan". Feya mengusap wajahnya sendiri sebagai wujud kecewaannya. "Inllah Feya si wanita kaku, Dave langsung menghindar dariku. Dia pasti merasa bosan, saking bosannya sampai ingin segera pergi tanpa mau menatap wajahku". Dan Feya telah menemukan jawab pertanyaannya sedari tadi, tetapi itu jawaban versi Feya ya, bukan versi Dave.


Feya memasuki lemari besar milik Leya, dari pada meratapi kesedihan akan kenyataan tentang Dave yang tidak menyukainya. Feya lebih memilih menyusun baju-baju yang telah dia bawa ke dalam lemari besar milik kembarannya. Feya berharap, sedikit kesibukan bisa mengalihkan dirinya dari Dave. Entah kenapa, mendapati sikap Dave tadi, cukup menganggu pikirannya.


Biasanya Feya tidak berniat ambil pusing. Andai benar dugaan Feya kalau Dave tidak suka berinteraksi dengannya, maka itu bukanlah kejadian pertama dalam hidupnya. Berdasarkan pengalamannya selama ini, dengan mudahnya Feya akan melupakan hal tersebut, menganggapnya tidak penting dan akan menghenyahkan segala perasaan tidak suka di dalam hatinya.


Tetapi untuk kali ini, Feya tidak bisa mengerti. Semua tidaklah segampang biasanya, dirinya tidak bisa berbohong. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Dave atas arti perubahan sikap Dave tadi. Feya begitu penasaran, begitu ingin tahu, entah kenapa? Tetapi dia memang sangat ingin mendengar penjelasan dari Dave.


Sudahlah Fe..dia sama seperti yang lain. Kesadarannya segera pulih dan dia segera berlalu dari kamu. Dia tidak pernah berniat berteman dengan wanita kaku.


"Huuuuh". Terdengar tarikan nafas panjang Feya. "Iya aku tahu". Feya menjawab sendiri suara hatinya dengan di bantu tarikan nafas yang panjang.


**********


"Jam berapa meeting dengan pihak ketiga itu?" Tanya Dave pada Tomo yang sedang sibuk di depan laptopnya.


"Setelah makan siang tuan, jam 1 nanti". Tomo menghentikan aktivitasnya di depan laptop dan beralih memandang sang tuan yang terlihat sedang menatap ke arah luar jendela.


"Seberapa bagus rekomendasimu?" Tanya Dave kemudian pada Tomo.


"Bagus tuan, hasil risert saya, pekerjaannya tanpa celah. Tingkat kepuasan pelanggan 100 %". Jelas Tomo pada Dave.

__ADS_1


"Tetapi dia masih mudakan?" Dave masih terus mengajukan pertanyaan pada Tomo.


"Benar tuan, seumuran dengan tuan. Hanya beda beberapa hari saja. Dia lahir 3 hari setelah tuan". Jawab Tomo sambil memperhatikan sang majikan yang sekarang telah duduk di sofa, tepat di seberang tempat duduknya.


"Siapa namanya?" Dave mulai penasaran dengan nama si pihak ketiga, orang yang akan menjadi teman meetingnya nanti.


"Emmm". Tomo berusaha berpikir, mengingat nama orang yang akan di temui sang majikannya sebentar lagi. "Willihadi Leksmana, tuan". Jawab Tomo penuh percaya diri.


**********


"Percuma memikirkan dia, toh dia sama seperti yang lain". Guman Feya pada dirinya sendiri.


Feya pun memutuskan berhenti dari rasa putus asanya atas sikap Dave padanya. Feya pun turun ke dapur, perutnya mulai sibuk menuntut untuk di isi kembali.


"Wah, bubur dengan taburan salmon. Wanginya". Sorak bahagia Feya begitu membuka panci yang masih berada di atas kompor listrik milik Leya. Dengan semangat, Feya menyendok isi panci itu dan memindahkan ke dalam piring makannya.


Air liurnya sudah menetes, perutnya sudah sibuk menyuarakan nyanyian kelaparan dari para cacing yang menunggu suapan pertamanya. Pelan, Feya mencoba sedikit dulu.


Memang enak, sangat enak. Untung dimasakin banyak, aku rasa, aku sanggup menghabiskan satu panci itu sendiri. Feya pun tersenyum bahagia.


Lanjut, satu suapan besar bubur dengan banyak taburan salmon memenuhi mulutnya.


"Emmm, enaknya Dave". Terdengar suara Feya dengan mulut yang terisi penuh.


Cepat Feya menelan buburnya, entah kenapa sekarang nafsu makannya menjadi hilang. Sekarang rasa bubur yang di awal sangat mengodanya berubah antah barantah, sangat tidak enak.


Kenapa coba masih ingat sama Dave.


Feya pun mengakhiri acara makan siangnya, mendadak perutnya merasa kenyang.

__ADS_1


Akhirnya Feya menyerah, setelah puas memainkan sendok di atas piringnya. Feya pun memilih kembali ke kamar kembarannya. Bersiap ke kantor dan meninggalkan bubur buatan Dave begitu saja. Feya harus segera kembali ke kantor, setidaknya dengan aktivitas di kantornya nanti dia bisa melupakan sosok Dave dan menjadi lebih tenang lagi.


__ADS_2