TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 23


__ADS_3

MENJADI AKU


 


❤❤❤❤❤❤


 


Setelah memastikan Tiwi paham dengan tugasnya, Leya pun meminta sekretarisnya itu untuk menunggu di luar. Ada hal penting yang harus dibicarakannya bersama Feya, hanya empat mata.


 


"Simpan ini!" Perintah Leya pada Feya sambil memberikan kotak kecil pada Feya.


 


"Apa ini?" Tanya Feya sambil menghentikan rencananya menyuap makan siangnya yang hampir habis.


 


"Itu softlens, simpan baik-baik Fe. Kamu harus selalu memakainya saat bersama Hadi, untuk menutupi warna gelap matamu agar mirip dengan warna mataku". Ujar Leya mengingatkan Feya.


 


Warna mata Leya biru terang, seterang langit yang cerah di angkasa. Sedangkan Feya biru gelap, penuh misteri seperti dalamnya lautan yang sulit di terka. Hal tersebut yang membuat Leya berusaha mencari softlens yang bisa menyamarkan gelapnya warna mata Feya dan membuatnya nanti bisa menjadi seperti warna matanya. Agak sulit memang, tetapi bukan Leya namanya kalau tidak mempersiapkan semua keperluan permainan peran mereka dengan sesempurna mungkin.


 

__ADS_1


"Le, kamu tahukan aku paling tidak suka Softlens. Mataku bisa iritasi Le". Feya sangat enggan memakai softlens tersebut.


 


"Iya, aku tahu. Tetapi hanya itu caranya untuk membuat warna biru gelap matamu menjadi terang seperti aku. Feeee, ini hanya sebentar. Percayalah, kalau cuma sebentar kamu pasti gak papah". Leya berusaha menyakinkan Feya.


 


"Aku, aku tidak suka memakainya Le". Feya sekarang sudah kehilangan nafsu makannya.


 


"Iya, aku tahu. Percaya deh, durasi kamu pake nggak akan lama kok. Yaaaa". Leya berusaha kembali membujuk Feya.


 


 


"Fe, selama kita bermain peran, kamu harus tinggal di apartemenku, kemudian selama kamu bersama Hadi kamu harus memakai baju, parfum, sepatu hingga peralatan makeupku. Tampilan kamu di mata Hadi harus sama persis seperti aku!" Perintah Leya kemudian.


 


"Hey sister tunggu dulu, tunggu dulu. Sepertinya kamu mulai bicara nggak jelas. Tadi softlens, sekarang apartemen kamu, semua pakaian dan apalah itu namanya. Kamu serius Le? Aku tinggal di apartemen kamu, dan berdandan menjadi kamu? Oh Good, kamu mulai keterlaluan Le". Feya berdiri dan berjalan ke arah jendela besar di belakang meja kerjanya.


 


Aku mau memainkan permainan konyol ini demi kamu, tapi aku tetaplah aku Le. Kamu kenapa menjadi seperti ini, sepertinya aku memang salah mengiyakan permintaanmu.

__ADS_1


 


"Fe, Feya..jangan marah dulu dong. Maksud aku tuh baik loh, aku cuma mau semua berjalan sempurna. Fe, kalau sampe kamu gak tinggal di apartemen aku dan tetap di apartemenmu, bukannya itu sama saja boong. Gimana kalau Hadi mencari aku dan mendapati apartemenku kosong?" Leya berusaha menjelaskan dengan lembut pada Feya.


 


"Lantas bajumu sampe ke alat makeupmu?" Masih terdengar nada suara kesal saat Feya bertanya.


 


"Fe, Hadi dan aku tuh udah sama-sama dari kami temenan sampe pacaran, bertunangan dan bentar lagi mau nikah, itu bukan waktu yang sebentar. Sudah bertahun-tahun Fe, sudah lebih empat tahun. Tentu saja Hadi sangat hafal semua barang yang melekat pada tubuhku. Karena itu, kamu pun saat bersama Hadi harus memakai semuanya, agar sama seperti aku". Leya masih berusaha sabar dalam memberi penjelasan pada Feya.


 


"Aku enggak suka apartemenmu, aku nggak suka parfummu, aku nggak suka memakai sepatu hak tinggimu, aku nggak suka pake softlens yang kamu kasih. Kamu dengar Le, aku nggak suka". Feya berbicara kesal sambil terus menatap ke arah luar jendela. Entah apa yang tengah dia pandangi Feya saat ini, yang jelas dia lebih suka memandang ke luar jendela dari pada menatap wajah kembarannya.


 


 


"Lantas, kalau kamu gak mau memakai semua itu bagaimana kamu menjadi aku? Bagaimana?" Sekarang Leya mulai panik.


 


Pliss Fe, kamu udah janji mau bantu aku, pliss Fe..kamu jangan berusaha membatalkan semua ini. Aku sudah mempersiapkan semua ini sesempurna mungkin.


 

__ADS_1


 


__ADS_2