
RESTORAN
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 
"Hai". Suara merdu Feya sukses membuat dua orang lelaki tampan yang tengah berbincang itu menjadi menoleh serempak ke arah dirinya.
 
"Beb". Hadi langsung berdiri, memeluk Feya dan mengecup pipi kananya.
 
Feya gelangapan. Kaget dengan apa yang dilakukan Hadi, dan sibuk merutuki diri sendiri karena refleksnya gagal untuk menghindar kali ini. Ah, aku kecolongan.
 
"Kamu cantik banget beb". Sebuah pujian tulus terlontar dari bibir Hadi untuk Feya.
 
Tahu bahwa Hadi tulus memuji hasil make overnya malam ini, Feya tersenyum senang. Ada rona merah di pipinya, perasaan senangnya sekali, baru kali ini dia mendengar Hadi memuji padanya, tulus lagi.
 
"Kamu juga tampan banget sayang". Puji Feya sambil bergelayut manja di lengan Hadi.
 
Cantik banget kamu, tapi sayang. Kenapa kamu justru berada di lengan dia. Dave.
 
"Ayooo duduk sini". Hadi membantu Feya untuk duduk.
 
"Hallo". Sapa Dave saat Feya telah duduk di tengah, di antara dirinya dan Hadi.
 
Feya pun menyadari, ternyata Dave sangat tampan sekali malam ini dalam balutan jas hitam. Warna jas itu sangat cocok dengan warna kulitnya, membuat Dave tampil bak para jajaran dewa di angkasa sana. Ya Tuhan, tampan banget, tuhkan benar dugaanku di awal. Dave ini keturunan dewa deh.
 
"Hallo juga". Sapa Feya ramah sambil tersenyum senang ke arah Dave.
 
__ADS_1
"Oke, kita dinner sekarang saja gimana?" Hadi mengajukan sebuah ide pada Feya dan Dave.
 
"Boleh". Jawab Dave santai.
 
Hadi pun memanggil seorang pelayan lelaki agar mendekat kearah mereka. Pelayan yang terlihat sangat senior itu memberi hormat dengan sopan pada Hadi, Feya dan Dave. Sambil mempersilahkan melakukan pesanan.
 
"Beb, kamu aku pilihan ya". Hadi menyentuh tangan Feya.
 
Feya mendadak kaku, tangan Hadi yang berada tepat di tangannya sukses membuat dirinya menjadi tidak nyaman. Hadi terlihat sangat tulus memberi perhatian padanya. Ralat, pada Leya si kembaran yang tengah di perankannya malam ini hingga beberapa hari kedepan.
 
"Boleh sayang". Jawab Feya cepat.
 
Kentara banget kalau dia gak suka tangan Hadi berada di tanganya. Tapi anehnya dia bisa membuat Hadi tidak menyadari itu. Sepertinya ada yang salah dengan cinta mereka. Dave.
 
 
Dave hanya mengangguk pelan, berpura-pura sibuk membaca buku menu yang ada di tangannya. "Oke, saya mau ini, ini dan ini". Dave menunjuk tiga jenis masakan berbahan ikan".
 
"Kalau saya". Hadi kemudian bersuara, ingin melakukan pemesanan setelah tahu Dave selesai dengan menu yang dia mau. Hadi menunjuk dua menu untuk dirinya dan tiga macam menu untuk wanita canti yang masih diyakininya sebagai sang tunangan.
 
"Gimana kalau kita tutup malam indah ini dengan wine?" Hadi terlihat bersemangat.
 
"Why not, saya suka itu". Dave setuju.
 
Kalian iya suka, lah aku. Aku mana bisa minum wine. Satu gelas aja mabok, apa lagi lebih. Duh, nasib aku kok nelangsa banget ya. Feya.
 
__ADS_1
Apa yang sedang di pikirkannya, kenapa dia terlihat cemas? Apa menu pilihan Hadi yang membuat dia takut? Dave.
 
Sambil menunggu makanan malam mereka di hidangkan, Hadi terlibat pembicaraan seru bersama Dave. Sepertinya dua lelaki tampan ini bisa menjadi teman akrab. Jauh berbeda dengan Feya, dia lebih memilih diam. Hatinya sedang gelisah, pikirannya sedang menerawang. Sejujurnya Feya ragu akan pulang dengan selamat malam ini. Menu pilihan Hadi dan di tutup dengan wine, Feya benar-benar ciut.
 
Makan malam mereka akhirnya datang dan tepat seperti dugaan Feya, menu pilihan Hadi semua serba daging. Dan jelas semuannya adalah menu kesukaan Leya, kembarannya. Tamatlah aku. Semoga Rumah Sakit terdekat tidak jauh dari sini. Â
 
"Nona Leya, sebagai ucapan terima kasih aku atas kebaikan kamu dan tunanganmu telah mengizinkan aku ikut menikmati malam indah ini bersama kalian, jadi......". Feya terlihat menatap serius pada Dave.
 
Tolong aku Dave, aku mohon. Tolong aku lagi.
 
"Maukah nona menerima semua makanan yang telah saya pesan ini? Ini semua kusus untuk nona". Dave tersenyum cerah pada Feya.
 
"Wahhh...tuan Dave, anda baik sekali. Saya benar-benar merasa segan". Feya berusaha bersikap sewajar mungkin. Padahal jangan tanya bagaimana hatinya. Benar-benar bersorak bahagia.
 
"Dave, kamu enggak perlu melakukan itu. Leya gak suka ikan". Hadi terlihat mencegah Dave.
 
"Ayolah kawan. Ini cuma makanan saja. Leya tidak menolak kok".
 
"Tapi Leya memang tidak suka ikan".
 
"Sayang sudah. Dave hanya berniat baik. Aku enggak masalah kok". Feya mencoba membujuk Hadi.
 
 
 
 
__ADS_1