TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR

TERJEBAK DALAM PERMAINAN SI KEMBAR
Episode 117


__ADS_3

MIMPI BURUK


🌹🌹🌹🌹🌹


 


Dengan baju basah, Feya berjalan gontai menuju kamar mandinya di apartemennya. Feya pulang, kembali ke rumahnya sendiri meninggalkan segala gemerlap hidup seorang Leya dan kembali ke dunia nyata, menjadi Feya. Hanya seorang Feya yang sebenarnya.


 


Feya terduduk di bawah shower, air dingin membasahi kepala hingga ujung kakinya. Setengah mengigil, Feya terlihat memeluk erat kedua lututnya, tetapi air mata tetap saja berjatuhan. Menyempurnakan tetesan air shower silih berganti. Meringkuk, memeluk dukanya sendiri hingga terasa lelah, entah berapa lama Feya hanya diam di bawah shower itu.


 


Dan kemudian, Feya menyerah, sekarang tubuhnya sudah mengigil hebat. Lelah, dingin dan sedih, semua bertumpuk satu persatu membebani batinnya. Dengan langkah pelan Feya keluar kamar mandi, sesegera mungkin mengenakan baju tidur tua kesayangannya, bukan baju tidur hijau seksi yang memamerkan keindahan tubuhnya milik sang kemnaran. Lalu, Feya pun berakhir di ranjang besarnya, bersembunyi di bawah selimut tebal dan hangat. Hingga waktu berlalu, Feya tertidur dengan segala kesedihan yang di bawanya di dalam hati.


 


 


***************


 


"Kok kamu tega beb ?" Ucap Hadi kepada Leya. Leya berbaring manja di atas ranjang perawatan Hadi, persis di sebelah Hadi  Memeluk Hadi begitu kuat sambil memainkan jemarinya di dada tunangannya itu.


 


"Aku minta maaf sayang. Aku sungguh-sungguh menyesal ". Ucap Leya cepat. "Aku pikir semua bisa berjalan sesuai rencanaku. Jujur sayang, aku sudah mempersiapkan semua sebaik mungkin, berbagai kemungkinan sudah aku antisipasi ".


 

__ADS_1


"Termasuk lensa kontak Feya ?" Tanya Hadi.


 


"Ya..termasuk lensa kontak itu. Aku sengaja memberi Feya lensa kontak itu untuk menyempurnakan permainan kami. Seharusnya semua memang berakhir sempurna, padahal tinggal 3 hari lagi ". Leya menghela nafas berat. "Hingga muncul pengacau itu. Ya Tuhannn, sayang maafkan aku. Aku mohon, maafkan aku ". Hadi bisa merasakan ada tetas air mata yang jatuh di bajunya saat ini.


 


"Aku hancur beb, harga diriku, cintaku. Semua lenyap entah kemana, aku bahkan tidak bisa berpikir benar dan salah, aku hanya tahu rasanya detik itu aku memang tidak akan sanggup menemui mentari esok pagi. Ahhh, aku benar-benar ingin mati saja saat melihat Dave memelukmu erat, bahkan dia begitu leluasa mencium keningmu. Aku pikir, aku memang harus meninggalkan dunia ini saja ". Ucap Hadi sambil sesekali membelai rambut Leya.


 


"Jangan tinggalkan aku sayang, aku tidak akan sanggup hidup tanpamu. Aku salah sayang, aku salah. Aku memaksa Feya terlibat permainan ini dan aku membuatmu salah paham. Sayang, maafkan aku ". Leya teramat sangat sedih saat ini.


 


"Aku harus minta maaf sama Feya, kamu tahu beb. Karena ulahmu itu, aku nyaris saja menghancurkan hidup Feya. Aku malah ragu sekarang, apa dia mau ketemu sama aku. Aku, aku memaksanya untuk menerima ciumanku saat aku mabuk. Dia sangat ketakutan. Kamu tahu beb, permainanmu ini nyaris menghancurkan hidup saudara kandungmu dan aku ". Meskipun marah pada kekonyolan Leya, tetapi Hadi tidak bisa membenci wanita itu, rasa cinta Hadi terlalu besar, terlalu dalam pada Leya. Hadi tetap saja memeluk Leya erat dan membelai rambut indah itu dengan penuh kasih.


 


 


"Tunggulah sampai aku benar-benar pulih, kita harus temui Feya. Kita harus minta maaf !"  Leya menganguk di dada Hadi sebagai bentuk kata setujunya.


 


"Dan satu lagi, tolong berhentilah dengan segala ide memasak itu. Kamu tahukan beb, yang aku cintai itu kamu dengan segala kekurangamu ! Termasuk tidak bisanya kamu masak, aku juga cinta bagian itu. Jadi aku mohon, henyahkan semua ide gilamu, semuanya. Karena kalau tidak, kamu hanya akan menemui penyesalan di akhirnya ! Cukup sekali ini saja !" Dan sekarang semua isi hatinya telah Hadi keluarkan kepada Leya. Harapannya hanya satu, Leya benar-benar sadar dari kesalahan besarnya ini, selamanya.


 


 

__ADS_1


***************


 


"Berhenti !" Suara teriakan Feya begitu keras, mengalahkan suara derai tawa yang bersaut-sautan di sekitarnya.


 


"Cukup !" Feya masih saja berteriak memaksa semua mulut itu agar tertutup kembali. Sayang, tidak ada yang berniat mendengar perkataan Feya, semua mulut itu masih saja tertawa bahagia melihat Feya menderita.


 


"Apa mau kalian, ha ?" Feya menatap satu persatu mulut-mulut yang terbuka lebar dengan suara khas tawa penuh ejekan. Mereka terlalu banyak.


 


"Berhenti, kalian dengar !" Kali ini suara Feya mulai terdengar melemah. "Apa lagi mau kalian ? Kenapa kalian begitu kejam padaku, begitu senang melihat aku menderita ?" Feya berusaha menutup rapat kedua telinganya dengan jemarinya.


 


"Kalian tidak tahu cerita sebenarnya, jadi tolonglah berhenti !" Suara Feya sekarang mulai memelas.


 


"Aku mohon jangan tertawa lagi ". Feya mengeleng keras sambil terus menutupi kedua telinganya. Dan tetap saja semua mulut yang banyak itu masih bertahan menertawakan Feya. Sepertinya mereka tidak bisa puas tertawa, walaupun mereka telah tertawa begitu lama, tetap saja mereka terus dan terus mengulang hal yang sama. Meskipun Feya memohon sepenuh jiwa, semuanya tetap tertawa terbahak-bahak. Menertawakan Feya yang tersudut di ujung lorong.


 


"Sudahhhhhhhh !" Teriakana keras Feya kali ini berhasil mengakhiri semuanya, tawa bahagia yang sengaja mengejeknya itu langsung lenyap. Tidak hanya itu, Feya pun berhasil tersadar. Feya terbangun dari mimpi buruknya, nafasnya tersengal-sengal dan keringat membasahi wajahnya. Mimpi ini sangat menakutkan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2